Volume III No 24 - Februari-Maret 2005
 

Menunggu Gebrakan Media Server

 

Meski teknologinya tersedia, namun akankah penggunaan Media Server semakin marak tahun 2005 ini?

Sang dedengkot Microsoft, Bill Gates, awal tahun ini kembali menarik perhatian publik. Dalam pidato sambutannya di pembukaan ajang pameran elektronika terbesar dunia, CES ( Consumer Electronics Show ) 2005 di Las Vegas, AS, ia mengumumkan pihaknya berhasil menjual lebih dari 1,4 juta Media Center PC di tahun 2004. Tak hanya itu, ia mengatakan platform media center ini akan diperluas untuk memungkinkan sebuah perangkat berfungsi sebagai media server sejati, yang menyalurkan musik, video dan program TV ke perangkat lainnya di rumah.

Di tahun ini pula kita bakal menyaksikan beragam produsen yang memperkenalkan produk-produk baru yang sanggup men- stream konten media dijital dari PC Anda maupun media server buatan mereka sendiri ke perangkat audio visual Anda. Tak pelak, perhatian publik pun tertuju pada perangkat yang dinamakan media server ini. Sebuah perangkat yang konon dapat mengubah cara kita mengelola dan menikmati konten hiburan.

Apa itu Media Server

Sebenarnya media server itu apa sih ? Dari bentuknya secara umum, media server adalah komputer yang ditempatkan di ruang keluarga dan di hubungkan dengan sistem home theatre Anda. Selain itu, Anda bisa menghubungkan perangkat ini dengan perangkat stereo atau televisi di ruang lain melalui jaringan.

Media server bisa boleh dikata sebagai pusat komando, yang sekaligus berfungsi sebagai DVR ( digital video recorder ) untuk menonton dan merekam acara TV, perangkat stereo untuk menyimpan dan mendengar koleksi musik dijital, atau berfungsi sebagai picture viewer untuk memamerkan foto-foto dijital jepretan Anda kepada keluarga atau teman.

Piranti lunak paling populer untuk media server adalah Windows XP Digital Media Center 2005 buatan Microsoft. Seluruh vendor PC besar menawarkan produk media servernya berbasiskan platform ini. Secara fisik, media server yang ditawarkan para vendor ini memang “masih seperti PC”, sekalipun beberapa vendor mulai melakukan terobosan dengan membuat tampilannya mirip komponen audio video desktop konvensional, misalnya Hewlett-Packard dengan Digital Entertainment Center seri Z550-nya.

Sayangnya, piranti lunak Digital Media Center ini hanya bisa didapatkan ketika Anda membeli PC baru, yang dirancang untuk keperluan entertainment . Anda tidak bisa membelinya terpisah dan menginstalnya ke komputer Anda yang sudah ada.

Namun begitu, toh platform berbasis Microsoft bukanlah satu-satunya pilihan untuk mendapatkan media server. Jika Anda termasuk risih dengan hal-hal berbau Microsoft, ada beberapa vendor yang menawarkan solusi untuk mengubah PC reguler Anda menjadi sebuah media server, misalnya solusi dari D-Link, Div-X, Tivo atau DirecTV. Bahkan perusahaan lain, Hi-Tek melakukan terobosan dengan mengemas sebuah PC multimedia ke dalam televisi LCD 46 inci HDTV-ready.

Sementara itu, beberapa perusahaan lainnya meluncurkan produk-produk media server, dengan pendekatan berbeda dengan konsep media center PC (lihat boks: “Media Server: Muncul Dalam Berbagai Ragam dan Fungsi”).

Beberapa produsen media server juga membuat semacam “extender” yang secara nirkabel (atau bisa juga dengan kabel) mengirim koleksi musik dan film Anda ke ruang lain di rumah Anda. Cukup tancapkan sebuah extender ke perangkat TV atau stereo kedua Anda, sambungkan ke jaringan, selanjutnya Anda bisa mendengarkan musik atau menonton rekaman acara TV favorit yang tersimpan di PC Anda.

Semakin Powerful

Dalam perkembangannya, perangkat media server memang semakin powerful . Anda bisa mendapatkan beberapa fitur-fitur fantastis, seperti tuner HDTV, input source yang beragam, satu remote control untuk seluruh komponen perangkat, dan kapasitas storage yang masif untuk menyimpan puluhan jam rekaman acara TV, koleksi DVD dan lagu-lagu serta foto dijital Anda.

Kalaupun Anda merasa bahwa kapasitas storage atau hard drive di dalam media server sudah tidak mencukupi, Anda bisa menambah kapasitas storage dalam bentuk NAS ( network attached storage ), yang saat ini penggunaannya tidak melulu untuk keperluan bisnis, namun juga merambah para home user . Tak pelak, data center mini pun kini sudah bisa Anda bangun di rumah Anda.

Komitmen Mr Bill dan Microsoft yang disampaikan di pameran CES 2005 untuk mendukung secara penuh perkembangan media dan entertainment , serta berbondong-bondongnya para vendor, baik PC maupun consumer electronics lainnya, untuk memperkenalkan jajaran media server terbarunya di awal tahun ini, boleh jadi menjadi pertanda bahwa tahun 2005 bisa menjadi Tahun Media Server, setidaknya untuk pasar Amerika Utara.

Namun, popularitas media server bakal mandeg kalau ternyata perangkat ini tidak sanggup menembus rintangan yang ada di kalangan konsumen. “Budaya” yang ada di konsumen agaknya belum sepenuhnya bisa menerima kehadiran sebuah PC atau perangkat yang bentuknya mirip PC di dalam ruang keluarga. Di rumah, orang cenderung menempatkan PC-nya, kalau tidak ruang belajar ya di ruang kerja pribadi. Pesawat TV bisa saja Anda manfaatkan sebagai pengganti monitor, baik untuk bermain game atau membaca email, namun kebiasaan semacam ini belum banyak dilakoni.

Hasil Riset di AS

Menurut riset yang dilakukan CES di AS, sekitar 38 persen konsumen menginginkan media server-nya ditempatkan di ruang keluarga, dan 31 persen di ruang kerja pribadi. Tapi, tingginya minat menempatkan media server di ruang keluarga juga disertai keinginan bahwa sebagian besar konsumen menginginkan media server tidak hadir dalam bentuk PC. Lebih separuh dari konsumen menginginkan media server hadir dalam bentuk set-top-box (STB) atau A/V receiver, sementara sekitar 34 persen lainnya ingin dalam bentuk PC desktop atau laptop.

Pabrikan Audio Visual Siap Rangkul Media Server

Bakal maraknya media server rupanya juga diantisipasi para produsen perangkat audio visual tradisional. Produk-produk home theater receiver masa kini mulai memosisikan dirinya sebagai home entertainment and distributed-audio systems.

Seperti dinyatakan Gina Harman, bos Harman Consumer Group, salah satu pabrikan perangkat audio terkemuka (dengan produk-produk merk Harman Kardon, Lexicon, JBL dsb), perangkat receiver saat ini adalah jembatan dari sistem home entertainment masa kini dan masa depan.

“Kita akan melihat A/V receiver yang menyertakan fitur-fitur untuk meningkatkan kinerja video dan mempermudah integrasi set-top box , DVD player/recorder , maupun perangkat-perangkat terkait lainnya,” ujar Gina.

Phil Abram, VP home audio/home video marketing, Sony Electronics juga mengutarakan pendapat senada. “Konsumen mencari sebuah produk yang menyediakan semacam device-to-device compatibility ,” ujarnya. Salah bentuknya, kata Abram, adalah video upconversion yang memungkinkan koneksi kabel video tunggal ke TV, sekalipun sumber videonya berbeda-beda.

Produk-produk seperti yang dikatakan Abram ini sudah mulai banyak bermunculan di pasar. Di tanah air, kita mengenal produk A/V receiver Denon 2805 dan 3805 yang menawarkan fitur video up-conversion. Sumber video yang cuma memiliki koneksi video komposit atau S-cable kini dapat ditampilkan dengan bantuan video up-conversion , yang menyalurkan gambar ke TV melalui kabel component yang berkualitas lebih tinggi.

Selain itu, kini muncul pula tren multi zone home theater receiver , yang sanggup menghadirkan tata suara surround terkini ke dua ruang sekaligus. Untuk kategori ini, beberapa waktu lalu Denon merilis multi zone home theater receiver papan atasnya, AVR-5805. Samsung, yang selama ini hanya menelurkan perangkat home theater receiver kelas bawah dalam bentuk HtiB ( home theater in box ), dikabarkan juga akan merilis multi zone receiver .

Yang juga menarik, ke depan kita juga akan banyak menyaksikan produk-produk A/V receiver yang mengusung fitur konektivitas yang kompatibel dengan PC. Produsen seperti Boston Acoustics dan JVC akan merilis A/V receiver pertama dengan koneksi USB untuk memutar PC audio. Bahkan, produk A/V receiver JVC model RXD301 dan 302B, selain memiliki port USB, juga menyertakan wireless receiver 2,4GHz untuk menerima stream audio dari sebuah PC. Sebuah transmitter wireless , yang ditancapkan ke port USB milik PC, juga disertakan oleh perangkat ini. aa

Hambatan berikutnya adalah kompleksitas. Tidak dapat dipungkiri, hampir sebagian besar konsumen elektronika seringkali merasakan gaptek atau gagap teknologi ketika berhadapan dengan perangkat yang dibelinya. Dalam kasus media server, untuk memaksimalkan kemampuan perangkat ini, serta mendapatkan kenikmatan menonton atau mendengar musik, kombinasi dengan komponen audio visual (A/V) terpisah mutlak diperlukan.

Nah, untuk men set-up perangkat A/V saja banyak orang yang merasa kesulitan, belum lagi membangun jaringan yang menghubungkan media server dengan perangkat A/V tersebut. Makanya, tidak heran jika dalam riset pasar yang dilakukan CES di atas juga terungkap bahwa hampir separuh konsumen (49 persen) baru mau atau berminat membeli perangkat media server jika tersedia jasa profesional yang bisa memasang, men set-up dan merawat perangkat tersebut.

Masalah terakhir yang juga patut dipertimbangkan adalah interoperabilitas. Membuat PC bisa berbicara dengan seluruh komponen audio visual yang Anda miliki bukanlah perkara gampang. Dalam beberapa kasus, mungkin Anda perlu mengganti komponen A/V lama Anda, misalnya jika perangkat stereo tua Anda tidak memiliki konektor input yang sesuai (contohnya tidak memiliki input dijital, baik optik atau koaksial).

Hambatan-hambatan di atas bukannya tidak disadari oleh para vendor media server. Beberapa vendor perangkat audio visual mulai meluncurkan beberapa produk yang boleh dikata media server ready , misalnya dengan menyiapkan sambungan (kabel atau nirkabel) ke PC (lihat boks “Vendor A/V Konvensional Siap Rangkul Media Server” ). Untuk menyerdehanakan konstruksi jaringan, solusi nirkabel berupa sebuah perangkat yang menjadi hub atau jembatan antara PC dengan perangkat A/V sudah banyak tersedia.

Meski begitu, patut disadari, untuk mengubah mindset penikmat audio visual konvensional dengan konsep media server ini memang tidak mudah, dan tentunya membutuhkan edukasi dan waktu yang tidak sebentar. Fakta dari riset pasar CES, yang mengatakan bahwa hanya sekitar 39 konsumen yang aware terhadap keberadaan media server setidaknya membuktikan hal itu.

Klaim Mr Bill yang mengatakan telah berhasil menjual 1,4 juta PC media center, serta maraknya vendor audio visual yang mengeluarkan jajaran media server -nya, boleh jadi belum cukup untuk mendorong ketertarikan konsumen terhadap bentuk entertainment delivery masa depan ini. Dibutuhkan upaya lebih keras dari para pemain media server, setidaknya untuk mewujudkan tahun ini menjadikan tahunnya media server. aa

grafis: gunawan

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.