Volume III No 24 - Februari-Maret 2005
 

 

Brata T. Hardjosubroto, Presiden Direktur IndosatM2
"Communication is very powerful."

 

 

Pada dasarnya, kebutuhan manusia itu adalah bisa saling menunjang kehidupannya dan secara mendasar berarti komunikasi dan administrasi. Dari beribu tahun lalu, selalu begitu. Yang lebih sulit adalah administrasi yang terkomunikasi dan terintegrasikan. Untuk itu, saat ini, Internet dapat digunakan sebagai basis komunikasinya.

Perlu disadari bahwa Indonesia bukanlah technology creator, melainkan technoloy user . Tetapi, being a technology user pun is not an easy thing. Karenanya, mestinya kita lebih fokus di sini.

Kenapa dikaitkan dengan masalah administrasi, karena banyak orang yang tak memahaminya. Padahal, orang sukses itu administrasinya bagus. Bila administrasinya bagus, konsep berpikirnya akan terstuktur dengan baik. Administrasi juga terkait dengan informasi, bagaimana menata informasi dengan baik dan dapat diambil secara cepat. Itu merupakan bagian dari administrasi.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia administrasinya buruk sekali. Satu contoh kecil, kalau paspor Anda habis, maka setiap ganti paspor, ganti nomor. Itu sama sekali tidak praktis. Masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bagaimana buruknya sistem administrasi kita. Dari sistem administrasi seperti itu, seberapa besar sebenarnya efisiensi dan produktivitas kita yang hilang, yang berdampak pada rendahnya daya saing bangsa.

Sebagai pengguna, pemilihan teknologi bisa menjadi strategis, yakni bagaimana mengatur strateginya. Tuntutannya adalah bagaimana kita pintar–pintar memanfaatkan itu. Jadi kalau bicara 3G, CDMA atau WiMAX, misalnya, itu juga pilihan buat kita.

Masalahnya, mau dibawa kemana sebenarnya telekomunikasi Indonesia ini. Pemerintah sendiri, dari segi regulasi belum konsisten atau terstrukturnya konsep ke arah itu. Memang tidak mudah, karena ada kondisi dimana Telkom dan operator-operator lainnya posisinya sangat tak berimbang. Kita masih mencari-cari. Itu adalah situasi yang kita hadapi sekarang ini.

Sementara secara nasional, kita menghadapi kurangnya visi para pemimpin nasional kita, baik di tingkat pusat maupun daerah, mengenai hal itu. Kalau pun ada, visinya tak begitu jelas, bicaranya masih sepotong-sepotong. Ibaratnya, hanya dengan membuat situs web saja sudah dianggap segala-galanya, padahal datanya tak pernah diperbarui. Di sisi lain, potensi daerah yang mestinya dapat didukung TI untuk meningkatkan daya saingnya, masih banyak yang belum terdayagunakan secara kreatif dan bisnis.

Dengan begitu, kalau bicara telekomunikasi sekarang ini, siapa sih di Indonesia yang mampu. Utamanya kan hanya Telkom dan Indosat. Telkomsel masih bagian Telkom, Excelkom mulai menggeliat sedikit. Untuk menjalankan itu tak hanya butuh uang, melainkan know how , jam terbang. Know how to start, how to implement . Baik itu komunikasi suara, maupun komunikasi data yang jauh lebih rumit penyediaannya.

Padahal, kebutuhan dan pemanfaatan data itu luar biasa strategis. Bandingkan, katakanlah Amerika, dimana kalau ada yang mau berinvestasi di suatu daerah, all information is available . Misalnya, siapa investor yang sudah ada di situ? Resources -nya apa saja? Administrasinya bagaimana? Biayanya berapa? Mau menyewa gedung, biayanya berapa? SDM yang tersedia apa saja? Sekolah yang ada, apa saja? Hanya dalam waktu singkat, investor sudah mendapatkan semua informasi. Nah, bagaimana dengan di Indonesia?

Kalau ada investor yang mau berinvestasi di Indonesia, sementara informasi yang diperolehnya dari Vietnam misalnya, ternyata lebih lengkap dan sangat mendukung, sedang kalau di Indonesia untuk mendapatkannya sangat sulit, lalu bagaimana?

Itu memang tak terkait langsung dengan telekomunikasi. Namun, jika akses telekomunikasinya ada, sementara kontennya tidak ada, ya sama saja, tak jalan. Padahal, Internet itu merupakan salah satu tool yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk itu dan sangat powerful . Communication is very powerful .

Menghadapi situasi dan kondisi semacam itu, Tim majalah eBizzAsia berkesempatan mewawancarai Brata T. Hardjosubroto , President Director IndosatM2 , guna mendapatkan gambaran lebih jauh. Indosat IM2 merupakan anak perusahaan Indosat yang khusus menyediakan berbagai layanan Internet dan Multimedia, baik untuk korporat maupun personal. Berikut petikannya,

Tantangan industri telekomunikai sangat berat, bagaimana menghadapinya?

Itu challange yang ada. Indosat dan Telkom merupakan perusahaan telekomunikasi incumbant . Namun, posisinya kan jauh sekali, karena TELKOM sudah di subsidi terlebih dahulu. Indosat sendiri, kini sudah mengonsentrasikan komunikasi seluler, fixed , dan Internetnya. Internet dan komunikasi data, penggelarannya jauh lebih kompleks dari voice , dan revenue -nya masih jauh lebih rendah dari seluler.

Kalau semua dijadikan satu, akhirnya tidak fokus. Itu sebabnya PT Indosat Mega Media (IndosatM2) dijadikan sebagai anak perusahaan yang khusus melayani Internet dan Multimedia, serta layanan-layanan berbasis IP ( Internet Protocol ) lainnya.

Karenanya, yang harus dilakukan adalah penggelaran infrastruktur, penggelaran layanan secara infrastruktur, misalnya jaringan. Dan, itu sistem secara keseluruhan. Kemudian, mengembangkan aplikasinya. Tapi, yang berat adalah budayanya, masyarakatnya. Budaya itulah yang menumbuhkan pimpinan.

Dengan adanya pilihan-pilihan teknologi, kita harus tepat dalam memilihnya. Semakin efektif, semakin tepat ke arah mana, juga ke mana akan berpijak. Terbatasnya frekuensi, itu juga harus dipertimbangkan. Kalau teknologinya ada, tetapi frekuensinya tidak ada, itu juga tidak bisa.

Apa yang segera harus dilakukan?

Education . Juga mempertimbangkan kemampuan daya beli masyarakat. Layanannya ada, tapi mahal, ya tidak berkembang juga. Dari segi infrastruktur, tuntutannya mobility, bandwidth yang tinggi, dan education . Semua elemen itu harus dilakukan paralel dan didukung pertumbuhaan ekonomi. Semakin bagus ekonominya, semakin berkembang, dan layanannya pun semakin cepat berkembang. Itu sangat terkait dengan kemampuan daya beli masyarakat.

Karena begitu banyak yang harus dilakukan, strateginya berkolaborasi. Tidak mungkin dalam waktu yang singkat bisa menggelar semuanya. Bukan saja soal uang, juga waktu, SDM dan operasional. Kolaborasi, itu harus. Bukan saja bagi IM2, tetapi semua.

Telekomunikasi kan bukan individual product , melainkan terkait dengan jaringan dan itu harus kolaborasi. Telkom harus berubah, memang tak mudah dari yang tadinya sendirian. Itu tidak hanya di Indonesia, di luar negeri juga begitu, karena historically semuanya incumbant, cuma beda negara saja. Hanya saja prosesnya ada yang cepat, ada yang lambat.

Bagaimana dengan pendidikan?

Kita lagi susun bersama-sama dengan daerah, dan itu merupakan investasi masa depan. Pengembangannya mencakup sistem dan pola pendidikannya, agar SDM kita memiliki kemampuan yang lebih baik.

Karena aktivitasnya berbasis ICT, tentu dengan memanfaatkan TI. Sasarannya untuk meningkatkan awareness dan ketrampilan profesional masyarakat. Awareness itu tidak mudah, yakni bagaimana meng- educate para pimpinan, misalnya karena mereka takut tidak bisa mengikuti, malu, atau gengsi dan lainnya. Nah, itu harus melalui strategi khusus.

Program Internet Goes to School (IGOS)-nya Telkom, itu sangat bagus. Ya, semua kita harus melakukan itu bersama–sama. Kami melihat bahwa di telekomunikasi itu, there is so much to do. Itu tidak dalam konteks kompetisi. Hingga 15 tahun ke depan penyelenggaraan telekomunikasi di Indonesia , boleh dibilang, lebih banyak keuntungannya melalui kolaborasi, daripada kompetisi.

Kemana arah sasaran yang diambil IM2?

Yang jelas, kita mengarah ke layanan yang personalize. Kedengarannya, easy to say. Tapi ini strategi kita. Kalau untuk perusahaan, tentu saja customized dan solusinya berbeda-beda. Kalau voice , semua orang akan bilang sama, tetapi data antara yang satu dengan yang lain berbeda kebutuhannya.

Kita melihat bahwa untuk transaksi data benar–benar perlu perhatian, customized . Sedang pendidikan akan melayani yang personalized tadi. Ini baru kami sediakan dan akan terus dikembangkan. Karena bersifat massal, maka yang dipilih melalui e-learning . Dengan semakin banyak pilihan, maka lebih mungkin bagi seseorang untuk memenuhi kebutuhannya.

Bagaimana dengan layanan-layanan baru?

Sekarang, storage makin murah. Tahun 2005 ini kita akan meluncurkan beberapa layanan baru, seperti push mail dan storage management. Push mail itu seperti BlackBerry, tapi yang ini jauh lebih murah. Jumbomail, dimana orang sudah tidak lagi dibatasi storage -nya. Ini harus kita kembangkan, karena belum banyak aplikasinya. Kita tidak membuat aplikasinya, tetapi kontennya. Sehingga mereka tak perlu membangunnya sendiri, cukup menyewa dari IM2.

Satu lagi, layanan homeshopping . Tak semua orang memiliki pemahaman yang sama. Mereka mungkin memandang homeshopping sama seperti berbelanja ke Hero untuk memenuhi kebutuhan sehari–hari. Itu wajar, natural.

Padahal, manfaatnya lebih dari itu. Sekarang, bagaimana kita menciptakan bisnis, baik SOHO maupun home business . Bagaimana seseorang yang waktunya banyak di rumah bisa berbisnis itu, bukan membeli kebutuhan sehari–hari, tetapi shopping for business .

Bukankah itu pekerjaannya makelar?

Kalau bicara makelar, simply Singapura bisa maju karena makelar. Sebetulnya, itu soal pendalaman. Banyak yang tahu, kita itu tidak dalam melihatnya. Padahal, potensinya besar, namun karena kita tak dalam memahaminya, pemanfaatannya pun tidak optimal. Kalau dilakukan secara baik, itu semua menjadi sumber kehidupan yang luar biasa.

Sekarang, kalau kita lihat secara mendalam, kegiatan seperti itu kan makelar. Kalau melihat makelar, seolah-olah itu suatu pekerjaan yang rendah. Padahal, jika didalami dan menjadi makelar yang profesional, seseorang bisa kaya. Contohnya olahraga, bagaimana dari sepakbola saja, Inggris bisa mendapat devisa yang luar biasa. Devisanya Italia dan Inggris itu hanya dari bola.

Mengapa kita tidak bisa melakukannya, bisa jadi karena memang kita kurang sungguh-sungguh, pengetahuannya tidak dalam, dan tidak tekun. Padahal, itu bisa menjadi sumber kehidupan.

Anda optimis?

Saya sangat optimis. Situasi politiknya kondusif, pertumbuhan ada. Di samping tentu ada teknologi, dimana jaringan dan terminalnya sendiri sudah semakin murah dan berkemampuan tinggi. Itu yang akan mempercepat pertumbuhannya.

Bagaimana pasar korporat?

Bagus, semakin banyak perusahaan yang menyadari dan mulai menerapkan. Dari sisi perkembangan, e-culture di Indonesia ini sudah mendingan bagus. Kalau boleh dibilang, hampir semua perusahaan butuh, meski belum tentu sanggup memenuhinya. Karenanya, yang pertama bagaimana menyediakan layanan dengan harga murah dengan konten yang semakin lengkap, sehingga pemanfaatannya lebih optimal.

Saat ini, kalau dilihat proporsinya, pelanggan korporat dan personal berbanding 60/40. Sementara pertumbuhan penggunaan bandwidth -nya lebih dari 100 persen. Kondisi ini cukup bagus dan optimis. Pertumbuhan IM2 tahun 2004 di atas 60%. Tak tertutup kemungkinan pertumbuhan 100% dari sisi seberapa jauh kemampuan keuangan kita untuk menggelar akses.

Ada kendala regulasi?

Itu selalu ada, tetapi bukan sebagai stopper . Kita semua belajar, pemerintah pun harus belajar. Jadi, jangan berpikir tidak ada masalah, itu selalu begitu. Peran pemerintah sebagai regulator, sedang peran nyatanya kan lebih banyak dunia usaha. Peran swasta itu sangat besar. Itu semua proses pembelajaran dan role kita adalah bagaimana mempercepat pembelajaran itu. Tapi, don't expect hal itu akan hilang. Tidak, itu akan selamanya.

Yang penting adalah fairness , bersih, dan jangan terus lisensi diperjualbelikan. Jangan abuse of power . Di Indonesia ini masalahnya kan abuse of power . Tapi, itu memang tidak gampang. Karenanya, kalau hukum bisa ditegakkan, forget it, the rest is swasta.

Apa rencana strategis 2005?

Tahun 2005 ini kita memiliki tujuh strategi besar, yakni IM2 everywhere . Maksudnya, kita akan memperbanyak akses keluar. Kemudian, personalized services dan simplicity . Kita akan mempermudah dengan menghilangkan semua kompleksitas. Bagaimana mempermudah pelanggan untuk berlangganan, termasuk complaint . Formulir-formulir kita buat lebih mudah dan sederhana. Dan, meningkatkan operational excellence .

Selanjutnya, strategi kolaborasi terus ditingkatkan, baik dari sisi pemasaran, infrastruktur, maupun akses. Kita juga akan take a lead di industri MIDI ( Multimedia, Internet and Data Communication ) di Indonesia. Untuk itu, tahun 2005 ini, kita akan menyelanggarakan APNIC ( Asia Pacific Network Information Centre ). Intinya bukan pada penyelenggaraannya, itu masalah biasa. Tetapi konten-konten yang ada di dalamnya, itu yang kita perlukan.

Contoh lainnya, lebih banyak ke masalah-masalah teknis. Misalnya, penyelenggaran International Internet Exchange (IIX) di domestik, yang sekarang ini di kelola oleh APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia). Itu sebetulnya cukup rawan, padahal itu sangat strategis.

Maksudnya?

Rawan, karena di manage secara free of charge , seadanya. Padahal, itu menyangkut masalah pertukaran data, lalu bagaimana sekuritinya, itu semua akan selesaikan. Selanjutnya, kita akan membangun IPv6, yang merupakan perkembangan dari IPv4, dan banyak inisiatif lainnya. Berkolaborasi, kalau di Indonesia , itu paling dengan Telkom dan Indosat.

Dengan akses yang bagus, apakah itu akan mendorong konten?

Sebetulnya bisa saling menguatkan, tapi kan ada keadaan dimana sudah mulai bergulir. Di Korea, yang jumlah pengguna Internet-nya 15 juta, yang namanya konten subur banget . Jadi, kalau home industry membuat satu konten dan yang menggunakan hanya 0,1 persen saja, sudah berapa? Jadi kembali ke aspek economic of scale .

Tugas kita adalah bagaimana mempercepat proses itu. Misalnya, pengembangan aplikasi untuk medical record . Kalau banyak orang berkepentingan dengan medical record , karena menyangkut keselamatan seseorang, mungkin itu bisa berkembang. Mengapa itu penting? Misalkan Anda tinggal di Jakarta, tetap sakit ketika berada di Surabaya, di sana Dokter kan tidak memiliki catatan kesehatan Anda. Kalau itu tersedia, kan bisa di download , misalnya, sehingga diagnosa yang dilakukan lebih akurat. Karena, sejarah kesehatan Anda juga diketahui oleh dokter tersebut.

Apakah kebutuhannya ada?

Kembali lagi, awareness atau tuntutan masyarakat untuk memiliki medical record itu di Indonesia, boleh bilang tidak ada. Kalau di Amerika, itu harus ada. Bayangkan kalau tiba-tiba Anda collaps dan dibawa ke suatu rumah sakit, tanpa medical record , wah bisa dibayangkan. Kalau di Amerika, karena setiap orang memiliki ID tunggal, maka semua datanya akan terekam di sana, apa penyakitnya, kapan dia dioperasi, kapan masuk rumah sakit terakhir kali, dll. Itukan konten, itu huge content . Itu baru salah satu item .

Itu hanya bisa terjadi kalau, aksesnya ada, economic of scale -nya bagus, tingkat awareness orang-orang sudah tinggi. It takes time , sesuatu yang perlu waktu untuk berkembang. Tapi, bukan berarti terus ok, we do nothing . Karena itu melibatkan banyak orang, baik pasien, dokter, rumah sakit maupun pihak lainnya.

Masih banyak contoh lainnya, yang bila dilakukan, dampaknya luar biasa, karena dapat terkait dengan pajak, misalnya, maupun pembuatan rencana atau pembangunan lainnya. Disitulah perlunya kepemimpinan pemerintah. Dimana untuk satu hal diharapkan partisipasi masyarakat, namun di lain hal pemerintah yang harus ”tangan besi” menerapkannya. Itu semua akan menumbuhkan jumlah lapangan kerja yang sangat besar.

Apa harapan lainnya?

Kita harapkan law enforcement dapat lebih banyak dilakukan untuk menciptakan kondisi yang bersih. Internet, sesungguhnya, dapat digunakan untuk mendukung keberhasilan administrasi, karena administrasi itu is a very big word . Dalam konteks yang saya sebutkan ini, suksesnya negara ini sebetulnya ada di administrasi.

Foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.