Kalangan perbankan, dewasa ini, menghadapi tantangan bisnis yang jauh lebih kompetitif dan komprehensif dibandingkan masa sebelumnya, tak terkecuali perbankan di Indonesia . Tuntutannya bukan saja bagaimana meningkatkan kemampuan sistem teknologi informasi (TI) yang digunakan, melainkan bagaimana mereka menjawab tantangan kebutuhan konsumennya dalam era yang berubah cepat, saat ini.
Penerapan aplikasi baru, pada saat yang sama, memberi tantangan yang tidak kecil, baik terhadap kelancaran aplikasi tersebut dalam komunikasinya dengan sistem-sistem lama ( legacy ) maupun keberadaan system legacy yang terbukti juga membutuhkan biaya yang cukup besar untuk menjalankan dan memeliharanya.
Wawancara Tim eBizzAsia dengan Hewlet-Packard Indonesia – Erwin Achir , Director, Customer Solution Group dan Jurius , Enterprise Marketing Manager, Customer Solution Group – setidaknya dapat memberikan suatu gambaran menyangkut tantangan industri perbankan nasional dan bagaimana menjawab kebutuhan itu dan bagaimana HP memberi solusi atas tantangan itu. Berikut petikannya,
eBizzAsia: Apa isu penting perbankan nasional saat ini?
 |
| Erwin Achir , Director, Customer Solution Group, PT Hewlett-Packard Indonesia |
Erwin Achir: Salah satu isu yang sangat penting di industri perbankan, dewasa ini, adalah bagaimana menjaga nasabah yang ada ( existing customers ), dan juga tingginya biaya akuisi nasabah-nasabah baru, serta masalah deregulasi, baik nasional maupun internasional. Selanjutnya, bagaimana mereka melakukan efisiensi.
Kalau bicara bank, mereka itu sangat konservatif, selalu menunggu tren. Karena mereka masih dapat menanggung biayanya, maka mereka masih jalan, namun geraknya agak lambat. Tetapi, hari ini, dengan tantangan yang semakin berat, mereka sudah tidak bisa lagi berperilaku seperti itu. Mereka tampaknya mulai memikirkan how flexible their untuk menghadapi tantangan itu, bagaimana kembali ke pasar untuk memperkenalkan produk-produk baru yang memenuhi tuntutan masa kini.
eBizzAsia: Dari sisi TI, bagaimana sebenarnya kondisi perbankan kita?
Jurius: Transisi dari bank itu, sebenarnya, berubah. Kalau kita Tanya, banyak dari bank-bank besar di indonesia, hari ini, yang masih menggunakan first generation banking – mainframe. Masih banyak bank yang menggunakannya.
Selanjutnya, berkembang second generation banking yang menggunakan client-server , third generation (three-tier), dan sekarang ini kita masuk ke eranya Web Services . Sebenarnya tahun 1995/97 ada bank yang mau masuk ke client-server atau three-tier apllication, namun karena terlanjur menghadapi krisis, jadi belum terlaksana.
Dengan menerapkan aplikasi baru, persoalannya bagaimana dengan sistem legacy-nya. Berbicara tentang sistem legacy, bukan saja persoalan bahwa hal itu bisa di migrate , tetapi upaya untuk itu boleh dikata masih lebih besar. Kalau di perbankan, dalam kurun dua tahun belakangan ini, yang banyak mereka minta adalah bagaimana memperkaya middleware atau front-end -nya, sehingga mereka dia bisa tetap kompetitif dalam melayani para nasabah mereka, di depan.
eBizzAsia: Apakah itu berarti mereka harus mengganti sistem secara menyeluruh?
Erwin Achir: Saya kasi gambaran, 38% dari worldwide spending di tahun 2006 nanti atau sekitar 100 miliar rupiah lebih itu akan berasal dari biaya-biaya internal ( internal cost ). Kalau kita berbicara biaya internal, sekitar 60 persen dari biaya itu berasal dari biaya maintenance atas sistem-sistem yang ada. Kalau di lingkungan perbankan, berarti biaya pemerliharaan mainframe .
Nah, justru sekarang ini, dalam siklus enam tahun ke depan, akan terjadi transformasi dari mainframe ke sistem-sistem yang terbuka ( open system ). Dalam hal itu, dia kan tidak boleh nunggu hingga enam tahun, karena dia harus tetap berkompetisi. Karenanya, kita akan banyak memperkenalkan berbagai aplikasi yang secara teknologi bisa linking dengan sistem-sistem yang telah ada, yang berarti kita bicara legacy system mereka, yakni mainframe .
Tetapi, di sisi lain, mereka juga harus berpikir terhadap sistem yang sekarang, karena itu costly. Jadi, dengan biaya yang semakin mahal itu, sebenarnya mereka bisa membeli sistem baru untuk menggantikan sistem lama mereka. Namun, secara sistem, itu tidak masalah, tapi itu akan juga tergantung pada kebijakan perusahaan.
eBizzAsia: Kalau bicara kecepatan, seberapa cepat?
Erwin Achir: Setiap kebutuhan bisnis menyebabkan IT event . Pertanyaannya, seberapa fleksibel infrastrukturnya dalam menjawab masalah itu. Nah, kami memiliki apa yang disebut adaptive enterprise (AE). AE adalah arsitektur dimana pelanggan utamanya adalah merger company, yakni kami sendiri. Jadi, kami menjual sesuatu yang kami lakukan, dan itu sukses.
Contohnya, kami mengklaim, pada saat itu, bahwa kami katakan akan menghemat hemat sebanyak 2,5 miliar dolar dalam tiga tahun. Kenyataannya, jangankan tiga tahun, bahkan dalam sembilan bulan saja, kami sudah achieve 3,2 miliar dolar dalam penghematan. Dan, itu yang kami lakukan dengan arsitektur kami - AE.
Jadi, dalam arsitektur kami dikenal dikenal empat aspek, yaitu simplifikasi bisnis yang ada, berikutnya adalah standarisasi, modularisasi, kemudian integrasi. Itu semua merupakan cara kami mendorongkan berbagai solusi guna menjawab isu-isu yang ada di pasar. Jadi, pendekatan kami lebih secara arsitektur.
eBizzAsia: Selain itu, apalagi yang diminta?
Jurius: Sekarang ini, kalau dilihat dari kebutuhan pasar, sudah tidak ada lagi yang sifatnya sepotong-sepotong. Biasanya, mereka meminta suatu total solution . Jadi, dari end to end itu ada point of contact . Apalagi kalau bicara proyek, sudah jarang kami melihat customer meminta hardware dari satu tempat, solusi dari tempat lain dan integrasi dari tempat lainnya lagi. Yang mereka inginkan adalah siapa sih yang cukup accountable dan itu pasilah merupakan suatu kegiatan big integration .
Kalau bicara solusi, tentu framework yang akan kami gunakan adalah adaptive enterprise. Fokusnya adalah seberapa cepat dan agile dalam penerapannya. Kalau menyebut demand , kami justru menyebutnya “before you demand, we already there”. Dan, itu suatu pesan yang sangat berbeda, tapi simpel.
eBizzAsia: Bagaimana HP menjawab kebutuhan tersebut?
 |
| Jurius , Enterprise Marketing Manager, Customer Solution Group, PT Hewlett-Packard Indonesia |
Jurius: Kami bicaranya “next generation banking”, dan itu sifatnya open, flexible and adaptable . Kami masuknya ke sana . Jadi, memang kami menyadari bahwa banyak bank, yang mengharapkan kalau bisa entity seperti HP-lah yang jalankan proyeknya, meskipun kami tahu banyak local partner -nya. Soalnya, mereka mau entity yang besar, yang reliable dan tinggi komitmennya.
Dewasa ini, kalau ber bicara dengan para bankir manapun mereka tidak akan bicara hardware , tetapi solusi. Mereka akan Tanya, “Solusi apa yang Anda bawa untuk saya dan service level apa yang akan dapat dicapai dan lain sebagainya. Itu mengapa HP sangat fokus dan di Telco kami sudah melakukan a good record .
Sedang, kalau di FSI ( Financial Service Industry ) tahun lalu kita juga quite significant dan tahun lalu malah kami melihat pasarnya berkembang lebih besar. Apalagi, dua tahun terakhir ini consumer banking lagi menanjak, loan, mortgage , deposito dan sebagainya. Dua tahun ke depan trennya mungkin lebih ke korporat. Kalau bicara bank di Indonesia targetnya banyak di consumer dan retail banking , bicara masalah pembiayaan dan lain sebagainya, yang membutuhkan solusi, yang tentu lebih fleksibel.
Ke depannya ini kita akan masuk ke sana , baik sendiri maupun bersama mitra. Banyak orang yang mungkin tidak tahu bahwa mereka memiliki aplikasi, yang mereka piker HP tidak kuat di sana . Padahal, seperti yang diungkapkan Pak Erwin, tak kurang dari 80% transaksi ATM itu dijalankan menggunakan platform kami. Salah satu bank yang cukup besar, dengan dua juta transaksi per hari, juga menggunakan platform kami.
eBizzAsia: Segmen mana yang menjadi fokus?
Erwin: Financial industry. Big banking, memang di situ uangnya. Namun, pendekatannya agak berbeda, apa kebutuhan mereka. Tak jarang kami secara proaktif akan katakan apa yang kompetitor mereka lakukan atau perkembangan pasar di luar sana dan kami memperkenalkan doslui kepada mereka.
Sedang untuk bank menengah atau kecil, sampai saat ini bank-bank BPR itu masih dimungkinkan beroperasi karena dia langsung berhadapan dengan pasar spesifik. Pendekatan yang dilakukan adalah melalui ASP ( application service provider ). Kami sendiri secara proaktif atau nantinya melakukan pendekatan dengan badan-badan pemerintah untuk menyediakan layanan tadi untuk bank-bank kecil dan menengah.
Jurius: Dengan pola ASP, daripada investasi di aplikasi itu, Anda cukup menjalankan aplikasi dengan menyewa atau anda membayar berdasarkan traksaksi. Jadi bank-bank kecil atau menengah masih bisa menikmati ”the same capability” sebagaimana digunakan bank-bank besar, tetapi itu tergantung pada skala ekonomisnya. Jadi, daripada satu bank, melainkan beberapa bank bersama-sama investasi, sehingga setiap bank tersebut dapat menggunakannya untuk transkasi.
Sedang, untuk enterprise, solusi-solusi yang diminta lebih dilihat dari seberapa cepat mereka bisa penetrate the market. So give me a quick solution that able to sell. Seberapa cepat Anda bisa menerapkannya, dan kami punya tim khusus yang fokus untuk bagaimana kami me leverage hal itu.
Di sisi lain, di HP kami memang mencakup pasar berdasarkan segmen. Jadi, ada segmen enterprise, ada SMB ( small & medium business ). Itu lebih pada strategi bagaimana kami masuk ke sana , tapi keduanya kami cakup. Dari solusi, kami coba mengakomodasinya dari dua sisi.
eBizzAsia: Bagaimana menjustifikasinya?
Jurius: Kalau di TI, banyak orang ngomong ROI ( return on investment ). That's never true ROI, so how you package the ROI . Tapi orang ingin melihat hasilnya , that's not necessary measured by ROI, tapi seberapa besar efisiensi dan efektivitas yang diraih. Itu yang kami sampaikan.
Sejak krisis 1997 sampai 2000 ke atas perbankan sangat lesu. Baru dua tahun belakangan mereka mulai invest, mulai masuk. Jadi, itu tergantung bagaimana kita mau menjustifikasinya. Dan, hal yang sangat sulit adalah melalukan justifikasi dari segi solusinya.
eBizzAsia: Berarti pendekatan yang dilakukan akan lebih customize?
Erwin: Fokusnya, kami akan menerapkan apa yang disebut generic package . Dari paket itu, kemudian akan dikembangkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan spesifik pelanggan. Dengan generic package , kecepatannya lebih cepat, karena hal itu sudah mengacu pada industri yang spesifik.
Karena, buat bank sekarang ini, untuk menerapkan suatu solusi mereka tak mau dalam kurun waktu satu tahun, dia mau yang quick result. Quick result, memang agak sedikit bertentangan dengan ROI. Tetapi, at the end of the day, ketika mereka mencapai quick result, uang mengalir masuk akibat penerapan sistem yang baru tadi, secara otomatis dia sudah bicara ROI.
Jurius: Karenananya, di ”Next Generation Banking Summit”, kami akan fokus di tiga area, yakni: open, flexible, dan adaptable . Yang akan kami perkenalkan adalah suatu open platform that can work with any existing system, its flexible . Bisa menggunakan komponen apa saja dan dapat diterima di lingkungan yang telah ada.
Begitu juga, memperkenalkan kepada bank-bank upaya dalam menghadapi tantangan sekarang ini, yakni kebutuhan bagaimana pelanggan Anda ingin berinteraksi dengan bank. Karenanya yang dituntut adalah bagaimana suatu bank dapat lebih fleksibel dalam menjawab berbagai kebutuhan nasabahnya dengan sasaran yang jelas secara cepat. Dan, kami tak hanya berbicara mengenai hardware , atau solusi, tetapi bagaimana Anda dapat berinteraksi dengan customer.
Foto: dok. ebizzasia
|