Jos Luhukay, Praktisi TI dan Ekonomi Baru
Tantangan perusahaan-perusahaan saat ini bertambah berat, selain tuntutan untuk mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para pelanggan mereka, tingkat persaingannya pun semakin ketat. Munculnya banyak perusahaan baru dan terjadinya berbagai perubahan lingkungan bisnis dan berkembangnya teknologi informasi, telah memberikan dimensi baru yang lebih kompetitif bagi setiap perusahaan yang ingin mempertahankan reputasi mereka dalam dunia bisnis.Karenanya, tak heran kalau perusahaan-perusahaan semakin dituntut untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan responsif terhadap berbagai perubahan lingkungan persaingannya. Hal itu semua, saat ini, hampir tak mungkin dilakukan tanpa memanfaatkan sistem informasi dan teknologi informasi, termasuk Internet.
Untuk mendapatkan gambaran mengenai hal tersebut, eBizzAsia mewawancarai Jos Luhukay, praktisi TI dan Ekonomi baru, yang saat ini juga menjabat sebagai President Director LippoBank, pertengahan Februari lalu.
Brata T. Hardjosubroto, Presiden Direktur Indosat M2
Pada dasarnya, kebutuhan manusia itu adalah bisa saling menunjang kehidupannya dan secara mendasar berarti komunikasi dan administrasi. Dari beribu tahun lalu, selalu begitu. Yang lebih sulit adalah administrasi yang terkomunikasi dan terintegrasikan. Untuk itu, saat ini, Internet dapat digunakan sebagai basis komunikasinya.
Kenapa dikaitkan dengan masalah administrasi, karena banyak orang yang tak memahaminya. Padahal, orang sukses itu administrasinya bagus. Bila administrasinya bagus, konsep berpikirnya akan terstuktur dengan baik. Administrasi juga terkait dengan informasi, bagaimana menata informasi dengan baik dan dapat diambil secara cepat. Itu merupakan bagian dari administrasi.
Perlu disadari bahwa Indonesia bukanlah technology creator, melainkan technoloy user. Tetapi, being a technology user pun is not an easy thing. Karenanya, mestinya kita lebih fokus di sini. Sebagai pengguna, pemilihan teknologi bisa menjadi strategis, yakni bagaimana mengatur strateginya. Tuntutannya adalah bagaimana kita pintar–pintar memanfaatkan itu. Jadi kalau bicara 3G, CDMA atau WiMAX, misalnya, itu juga pilihan buat kita.
Masalahnya, mau dibawa kemana sebenarnya telekomunikasi Indonesia ini. Pemerintah sendiri, dari segi regulasi belum konsisten atau terstrukturnya konsep ke arah itu. Sementara secara nasional, kita menghadapi kurangnya visi para pemimpin nasional kita, baik di tingkat pusat maupun daerah, mengenai hal itu. Kalau pun ada, visinya tak begitu jelas, bicaranya masih sepotong-sepotong.
Padahal, kebutuhan dan pemanfaatan data itu luar biasa strategis. Bandingkan, katakanlah Amerika, dimana kalau ada yang mau berinvestasi di suatu daerah, all information is available. Misalnya, siapa investor yang sudah ada di situ? Resources -nya apa saja? Administrasinya bagaimana? Biayanya berapa? Mau menyewa gedung, biayanya berapa? SDM yang tersedia apa saja? Sekolah yang ada, apa saja? Hanya dalam waktu singkat, investor sudah mendapatkan semua informasi. Nah, bagaimana dengan di Indonesia? Kalau ada investor yang mau berinvestasi di Indonesia, sementara informasi yang diperolehnya dari Vietnam misalnya, ternyata lebih lengkap dan sangat mendukung, sedang kalau di Indonesia untuk mendapatkannya sangat sulit, lalu bagaimana?
Itu memang tak terkait langsung dengan telekomunikasi. Namun, jika akses telekomunikasinya ada, sementara kontennya tidak ada, ya sama saja, tak jalan. Padahal, Internet itu merupakan salah satu tool yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk itu dan sangat powerful. Communication is very powerful .
Menghadapi situasi dan kondisi semacam itu, Tim majalah eBizzAsia berkesempatan mewawancarai Brata T. Hardjosubroto , President Director IndosatM2 , guna mendapatkan gambaran lebih jauh. Indosat IM2 merupakan anak perusahaan Indosat yang khusus menyediakan berbagai layanan Internet dan Multimedia, baik untuk korporat maupun personal. Hewlett-Packard Indonesia
Kalangan perbankan, dewasa ini, menghadapi tantangan bisnis yang jauh lebih kompetitif dan komprehensif dibandingkan masa sebelumnya, tak terkecuali perbankan di Indonesia . Tuntutannya bukan saja bagaimana meningkatkan kemampuan sistem teknologi informasi (TI) yang digunakan, melainkan bagaimana mereka menjawab tantangan kebutuhan konsumennya dalam era yang berubah cepat, saat ini. Penerapan aplikasi baru, pada saat yang sama, memberi tantangan yang tidak kecil, baik terhadap kelancaran aplikasi tersebut dalam komunikasinya dengan sistem-sistem lama ( legacy ) maupun keberadaan system legacy yang terbukti juga membutuhkan biaya yang cukup besar untuk menjalankan dan memeliharanya.
Wawancara Tim eBizzAsia dengan Hewlet-Packard Indonesia – Erwin Achir , Director, Customer Solution Group dan Jurius , Enterprise Marketing Manager, Customer Solution Group – setidaknya dapat memberikan suatu gambaran menyangkut tantangan industri perbankan nasional dan bagaimana menjawab kebutuhan itu dan bagaimana HP memberi solusi atas tantangan itu. |