Connected Home dan Digital Home . Dua istilah yang memiliki titik tekan sedikit berbeda, namun secara prinsipil keduanya memperlihatkan perhatian yang sama. Bahwa rumah kini menjadi sentrum baru dari berbagai kegiatan yang terkait dengan konten digital, dari yang bersifat data dan informasi hingga hiburan dan permainan ( games ). Dengan Internet broadband, akses keluar dan mengakses berbagai kontan digital hingga yang berkapasitas besar pun kini dapat dilakukan secara lebih cepat dan menyenangkan.
Dalam beberapa tahun belakangan, popularitas konten berformat digital semakin meningkat. Ambil contoh yang paling dekat, kalau Anda bekerja di kantor menggunakan komputer PC atau laptop, maka Anda sebenarnya sudah terbiasa dengan konten digital, baik berupa file-file spreadsheet atau database, begitu juga gambar atau foto digital, video maupun musik.
Kalau Anda menggunakan ponsel, apalagi yang terkategori smartphone , maka Anda sudah terbiasa dengan konten berupa gambar atau foto, karena smartphone umumnya telah dilengkapi dengan digital camera dan video recorder . Sedang kalau Anda sering menggunakan MMS ( Multimedia Message Service ), maka Anda pun sudah terbiasa dengan image atau foto, atau klip video.
Dalam konteks digital home ini, setidaknya ada enam kategori konten digital yang banyak digunakan, yakni Musik, Fotografi, Internet, Film/Video, Televisi dan Gaming . Tadinya, masing-masing konten ini, sebagian besar masih bersifat analog, belum digital, namun saat ini semuanya sudah dapat disediakan dalam format digital. Baik yang sudah berformat digital, maupun berformat analof yang diubah menjadi digital.
Kalau, sebelumnya, kamera itu bersifat analog dan menggunakan film sebagai medianya, maka kini kamera banyak tersedia yang sudah berformat digital dan tidak lagi memerlukan film. Ditambah lagi, kamera kini bukan sesuatu yang asing, karena di samping tersedia kamera mandiri (analog/digital), hampir sebagian besar ponsel kini sudah menyediakan kamera digital, meski belum semuanya berkapasitas megapiksel.
Internet juga merupakan sesuatu yang mendorong pengenalan secara luas berbagai konten digital, mulai dari data, gambar, musik hingga video. Di tambah lagi, saat ini, telah tersedia jaringan akses Internet berkapasitas besar ( broadband ), maka ketersediaan konten-konten digital yang beragam tersebut semakin populer dan banyak digunakan oleh banyak orang. Streaming musik atau video yang sebelumnya sulit dilakukan dengan akses dial-up menggunakan jaringan telepon rumah, karena kapasitasnya kecil, kini dapat dengan mudah dilakukan dan lebih cepat.
Ditambah lagi, akses jaringan broadband kini semakin banyak digunakan oleh para pengguna rumahan, baik melalui akses kabel biasa (xDSL) maupun fiber optic (FTTH), nantinya bahkan secara nirkabel melalui layanan 3G atau WiMAX. Ketersediaan yang semakin mudah dan kecenderungan rumah sebagai basis akses broadband , tampaknya semakin memicu munculnya jaringan rumah ( home network ).
Koneksi Wi-Fi
Hal ini, semakin terdorong lagi dengan berkembangnya teknologi nirkabel kapasitas besar (802.11b, 11g, dll.), yang memungkinkan koneksi antar berbagai perangkat yang semakin beragam dan bersifat personal, seperti MP3 player , digital camera , PDA, dan lain sebagainya. Hal itu semakin mencuat ketika komputer PC dan perangkat elektronik konsumen mengalami konvergensi dan menciptakan suatu lingkungan media digital ( digital media environment ) yang lebih menarik.
Jadi, Connected Home atau Digital Home merupakan suatu konsep agar bagaimana semua perangkat digital yang ada di rumah dapat dikoneksikan sedemikian rupa, baik menggunakan kabel maupun nirkabel, sehingga membentuk jaringan virtual digital. Koneksi semacam ini, semakin cenderung menggunakan opsi nirkabel, karena selain mudah, juga lebih fleksibel, terutama jika terjadi perubahan dapat dengan mudah dilakukan. Berbeda dengan kabel, karena setiap melakukan perubahan, maka akan ada pekerjaan untuk membangun kembali jaringan kabel yang dibutuhkan dan tidak fleksibel.
Untuk koneksi nirkabel, tersedia sejumlah pilihan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing, misalnya menggunakan teknologi inframerah, Bluetooth, atau ultrawideband. Untuk akses berkapasitas besar dapat menggunakan W-LAN atau Wi-Fi (802.11b, 11g atau lebih tinggi).
Wi-Fi, tampaknya, menjadi pilihan yang banyak diminati, terutama dengan akan munculnya standar 802.11n – Wi-Fi versi kecepatan tinggi yang baru, yang bekerja di frekuensi 5GHz dan kecepatan transfer data teoritis mencapai 100Mbps – yang dipandang sangat mencukupi untuk menghantarkan berbagai konten digital, khususnya streaming video secara bersamaan.
Namun, Anda perlu bersabar, meski router pertamanya akan muncul akhir tahun 2005 ini, namun teknologinya baru akan tersedia pada 2006 mendatang. Sedang standar 802.11e, yang bekerja pada frekuensi 2.4GHz, merupakan pengembangan standar protokol 802.11b dan g yang telah ada saat ini. Fitur utamanya adalah kemampuan untuk menyampaikan layanan yang bermutu tinggi, yang memungkinkan layanan video nirkabel dapat dioperasikan secara mulus, tanpa tersendat-sendat.
Jadi, dengan konsep Connected Home dan Digital Home , bukan saja memungkinkan semua perangkat elektronik digital terhubung di dalam rumah, termasuk ponsel dan PDA, melainkan juga memiliki akses ke luar, ke dunia maya melalui akses Internet. Kalau koneksi di antara berbagai perangkat digital yang ada di dalam rumah bertujuan untuk bagaimana berbagai macam konten digital yang berbeda-beda itu dapat diakses dari berbagai perangkat, maka Internet ditujukan untuk mengakses ke luar, misalnya menerima/mengirim email, men download musik, klip video, image atau foto dan konten digital lainnya.
Konsep ini menjadi lebih menarik lagi, jika akses yang dimungkinkan itu dapat digunakan untuk berbagai kegiatan bisnis, misalnya melakukan transaksi perbankan ( e-Banking, Internet Banking, M-Banking, SMS Banking ), komunikasi bisnis, berbagi data dan kegiatan kerja, misalnya yang terkait dengan desain grafis, arsitektur, mengikuti pendidikan jarak jauh atau e-learning dan lain sebagainya.
Jaringan rumah yang powerful tak hanya akan terkait dengan berbagi konten, menikmati hiburan di dalam rumah, melainkan sangat berpotensi untuk melakukan berbagai kegiatan bisnis, transaksi dan komunikasi bisnis yang lebih luas dan beragam. Berkembangnya bisnis pola SOHO, tentu akan sangat terdukung dengan berkembangnya jaringan rumah semacam ini.
Lebih Bebas, lebih Fleksibel
Dalam digital home , dunia Internet dan penyiaran ( broadcast ) menyatu melalui suatu jaringan nirkabel rumah. Melalui jaringan ini, berbagai perangkat elektronik konsumen dan PC, laptop bekerja sama menciptakan suatu lingkungan media digital yang lebih luas. Misalnya saja, gambar digital atau video yang ada di PC dapat dengan mudah diakses dan ditampilkan di layar televisi. Begitu juga, musik digital dapat dibagi dan dinikmati bersama dalam berbagai perangkat digital di manapun perangkat itu diletakkan di dalam rumah.
Hal itu menjadi mungkin, terutama karena menggunakan apa yang disebut Media Server. Media server merupakan pusat tempat menyimpan berbagai media atau konten digital, yang disimpan dalam sebuah hard drive berkapasitas besar, baik itu berupa koleksi musik, video, maupun film/video dan games . Dengan media server , Anda dapat memutar koleksi musik Anda, menayangkan film atau video kesukaan Anda, di mana saja, kapan saja dan menggunakan perangkat yang berbeda dalam lingkungan rumah Anda, sesuai keinginan Anda.
Ke depan, media server akan memiliki berbagai kemampuan yang jauh lebih besar, yakni tak hanya dapat digunakan untuk menyimpan dan memutar koleksi musik MP3 maupun DVD saja, melainkan juga digunakan untuk menonton dan merekam siaran TV, bahkan HDTV ( High Definition TV ). Misalnya, DigitalDeck Entertainment Network buatan DigitalDeck, yang mampu mengelola hampir semua sumber konten dari TV kabel dan satelit, foto-foto digital, MP3, hingga Web streaming, dan itu semua dilakukan cukup melalui satu antarmuka, yaitu TV.
Perangkat ini memungkinkan Anda men- streaming konten-konten tersebut ke pojok manapun di rumah Anda. Misalnya, Anda bisa men download video atau musik ke PC Anda, kemudian memutarnya di ruang tamu atau kamar tidur, karena semuanya terhubung secara nirkabel dengan menggunakan Wi-Fi, jaringan LAN nirkabel yang kini semakin populer.
Dengan begitu, dengan jaringan rumah ini akan semakin memberikan kemudahan dan menciptakan pengalaman menikmati hiburan berbasis konten digital yang bukan saja lebih mudah, tetapi juga lebih kaya.
Konsep Connected Home dan Digital Home bisa didekati melalui dua pendekatan, yakni pertama mengganti semua perangkat elektronik yang ada menjadi perangkat berbasis digital dan membangun jaringan virtual berkapasitas besar, sehingga memadai untuk melakukan berbagai kegiatan yang membutuhkan kapasitas yang besar.
Pendekatan kedua, jika budget tak mencukupi atau sayang dengan perangkat yang ada saat ini, mungkin masih dapat diselaraskan melalui pemanfaatkan ”interface” yang memungkinkan mengoptimalkan semua perangkat untuk terhubung dalam satu jaringan rumah virtual.
Interoperabilitas
Disadari bahwa tidak semua perangkat elektronik digital yang dimiliki berasal dari satu pabrikan tertentu, melainkan berbeda-beda, baik produsennya, maupun jenis dan tahun pembuatannya. Namun, jangan khawatir, karena saat ini pun sudah banyak perangkat elektronik yang mengikuti kesepakatan yang dibuat Digital Living Network Alliance (DLNA), organisasi non-profit, yang memiliki 17 anggota industri besar, salah satunya Intel. Organisasi ini didedikasikan untuk mensimplifikasi atau kemudahan dalam berbagi konten digital, misalnya musik digital, foto dan video, di antara berbagai perangkat elektronik konsumen yang berada dalam suatu jaringan.
DLNA, untuk keuntungan semua produsen perangkat elektronik konsumen digital dan para pengguna produknya, membangun suatu platform interoperabilitas yang didasarkan pada standar industri yang terbuka. DLNA juga menyediakan suatu standar untuk digunakan agar semua perangkat elektronik konsumen untuk Digital Home dapat berbagi konten, baik melalui jaringan kabel maupun nirkabel.
engan begitu masalah interoperabilitas ini tak lagi perlu diragukan, meski mungkin masih ada satu-dua perangkat yang bisa jadi tersendat masalah interoperabilitasnya. Namun, untuk perangkat-perangkat keluaran baru, karena mengikuti standar DLNA, hal itu menjadi masalah. Insa
|