Volume III No 26 - Mei 2005
 

 

Indra M. Utoyo
Upaya Mengukur Kontribusi ICT

 

 

“When you can measure what you are speaking about and express it in numbers, you know something about it; but when you cannot measure it, when you cannot express it in numbers, your knowledge is of a meager and unsatisfactory kind.”

Lord William Kelvin

ICT seringkali dibicarakan dan dipandang sebagai faktor utama pengubah wajah peradaban masyarakat dan ekonomi dunia. Namun, sebagaimana ungkapan di atas, pengetahuan dan keilmuan yang ada belum mampu menjelaskan secara memuaskan manfaat produktivitas dan pertumbuhan ICT dalam tataran makroekonomi. Secara umum terdapat beberapa cara berbeda dalam mengorelasikan ICT dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, namun antara yang satu dengan yang lain bersifat saling melengkapi. Walaupun di tengah masih rancunya definisi korelasi ICT yang digunakan, dapat dinyatakan metodologi yang ada sebagai suatu proses yang belum usai dalam pencarian kesempurnaan.

Pada dasarnya, terdapat tiga cara pengukuran korelasi ICT dengan pertumbuhan ekonomi. Pertama , menggunakan metode akunting pertumbuhan, yaitu suatu metode yang mengacu pada pendekatan perolehan ekonomi yang dihasilkan. Kedua , pendekatan yang memantau kondisi dan pengaruh atas keberadaan dan berfungsinya pasar, sebagai komponen utama terjadinya transaksi ekonomi. Ketiga , pendekatan melalui penghematan sosial yang diberikan, dengan mencoba memantau lingkup yang tidak teramati langsung oleh perolehan ekonomi.

Pengukuran Ekonomi Informasi

Peranan ICT pada pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial telah mendapat perhatian besar pada beberapa tahun belakangan ini, terutama pada debat mengenai “ekonomi baru”. Produksi, difusi dan penggunaan ICT amat beragam, antar dan di dalam suatu negara. Fokusnya lebih banyak diberikan pada debat kebijakan, terutama dengan adanya antusiasme dan melorotnya nilai pasar perusahaan “dot.com”. Indikator komprehensif yang dapat diandalkan dibutuhkan untuk mengukur pembangunan berbasis ICT dan memahami dampaknya terhadap ekonomi dan masyarakat.

Dengan ICT baru pada tahap dikenali sebagai sumber utama transformasi ekonomi dan perubahan sosial abad ini, statistik resmi mengenai ICT masih dalam pengembangan. Dalam beberapa tahun belakangan, banyak kemajuan yang telah dibuat dalam mengembangkan statistik ICT internasional yang dapat diperbandingkan.

Pengukuran Ekonomi Informasi 2002, melibatkan badan statistik di negara-negara OECD, serta Gugus kerja indikator untuk masyarakat informasi ( Working party on indicators for the information society= WPIIS ), yang mencakup:

•  Penjelasan tentang sumberdaya yang terkait erat dengan ICT, yaitu: porsi ICT dalam total investasi, kaidah konsumsi ICT dalam rumah tangga dan bisnis, laju inovasi dan paten, serta modal manusia sebagai kebijakan kunci;

•  Pertumbuhan dan kontribusi sektor ICT, dilihat dari ukurannya terhadap aktivitas ekonomi, khususnya sebagai aktivitas produksi dan jasa ICT yang tumbuh lebih cepat dibanding sektor-sektor lainnya;

•  Perbandingan internasional terakhir, berdasarkan survei resmi mengenai difusi pada rumah tangga, antar individu dan bisnis. Difusi ditinjau dari sisi akses dan penggunaan ICT, serta indikator penghalang yang mengakibatkan 'digital divide' ;

•  Indikasi beberapa pola menarik tentang volume dan keberadaan transaksi e-commerce dalam konteks metode transaksinya ( flow of information ), bukan dari metode pembayaran ( flow of money ) dan jalur pengirimannya ( flow of goods );

•  Terakhir, bahwa statistik ICT belum sempurna tersedia untuk penggunaan ICT oleh sektor pemerintah dan sekolah dalam rangka praktik pemerintahan yang responsif dan efisien, serta pembangunan basis ketrampilan ICT dalam ekonomi.

Pengukuran: Tiga Aspek Pertumbuhan Kontribusi ICT

Untuk menyediakan konteks pengukuran, dipertimbangkan beberapa cara bagaimana ICT dapat mempengaruhi pertumbuhan, yaitu Produksi ICT, ICT sebagai input modal, dan ICT sebagai modal khusus.

•  Aspek Produksi ICT . Satu cara untuk menangkap pentingnya ICT secara ekonomi adalah dengan mempertimbangkan peran produsen ICT dalam total nilai tambah ekonomi atau PDB. Pendekatan ini memokuskan pada proses produksi barang-barang ICT.

•  Aspek ICT sebagai input modal . Pendekatan berorientasi input akan fokus pada peran ICT dalam produksi. Perangkat ICT dapat dilihat sebagai tipe spesifik barang modal dimana perusahan berinvestasi dan mengombinasikan dengan modal dan tenaga kerja jenis lain untuk menghasilkan output . ICT sarat dengan dinamika cepat usang, serta subsitusi dari perangkatnya dibandingkan barang modal lainnya. Sehingga, menangkap proses substitusi adalah aspek penting untuk mengkaji peran ICT dalam produksi.

•  Aspek ICT sebagai input modal khusus . Bagian penting dari diskusi mengenai ekonomi informasi didasarkan pada klaim bahwa ICT menghasilkan manfaat yang lebih jauh akibat ‘network effect' dan inovasi model bisnis. ICT dipandang mampu meraih manfaat penciptaan nilai ( value creation ) akibat sinergi, kolaborasi, dalam jaringan ke arah kastamer, mitra kerja dan para pemasok. Sebagai contoh, satu keunggulan transaksi Internet antar usaha meningkat karena perusahaan terkoneksi dengan jaringan - setiap investasi baru dalam suatu koneksi memberi keuntungan tidak hanya untuk investor, melainkan juga untuk partisipan lainnya ( co-evolution ). Dampak positif dari keterhubungan dalam jaringan, memperbaiki semua produktivitas dan pertumbuhan pendapatan agregat yang berpotensi menguntungkan semua partisipan pasar. Dalam kerangka kerja yang lebih formal, efek tersebut melibatkan hubungan produktivitas multi-faktor (MFP= Multi-Factor Productivity ), yaitu efisiensi keseluruhan terkait dengan sumberdaya mana saja yang digunakan dalam suatu ekonomi akibat pemanfaatan ICT.

Kerangka Kerja Pengukuran Kontribusi ICT

Tiga aspek dari peran ICT dapat diterjemahkan pada suatu kerangka kerja akunting pertumbuhan yang mapan. Untuk melihat hal ini, perlu dipertimbangkan suatu fungsi produksi menghubungkan suatu output ekonomi terhadap tenaga kerja, input modal dan MFP. Input modal terdiri atas jasa dari berbagai jenis barang modal, namun untuk konteks saat ini hanya dibedakan antara modal ICT dan non ICT. Kontribusi pertumbuhan dari setiap input diperoleh dengan pembobotan laju perubahannya dengan koefisien yang merepresentasi porsi setiap faktor dalam total biaya. Secara Matematik korelasi sederhana oleh WPIIS, dijabarkan sebagai:

O = s L L + s KC K C + s KN K N + A

Dimana O adalah output ekonomi, L adalah input tenaga kerja, K C adalah modal ICT, K N adalah modal lain non ICT dan A adalah variabel perubahan multi-faktor yang intanjibel. Faktor s L , s KC, dan s KN menandakan bahwa setiap faktor porsi dari total biaya per input modal. Di bawah pengembalian konstan untuk neraca setimbang, maka total biaya sama dengan total penerimaan dan bobotnya juga merepresentasikan porsi pendapatan. Selanjutnya, ketiga pandangan tentang kontribusi ICT pada pertumbuhan diartikulasikan dalam kerangka kerja ini.

Pada kontribusi ICT sebagai input modal khusus , ICT mempengaruhi tidak hanya output dari produktivitas tenaga kerja yang terkait, namun ICT juga memberikan peningkatan pada efek tambahan akibat sinergi dan kolaborasi yang menambah perolehan dalam produktivitas keseluruhan. Penciptaan nilai positif seperti ini selalu dicirikan oleh perbedaan antara laju pengembalian investor dan laju pengembalian masyarakat secara keseluruhan. Dengan kata lain, ICT sebagai 'enabler' menghasilkan manfaat melebihi apa yang direfleksikan dalam pengukuran porsi pendapatan secara sendiri-sendiri.

Pandangan itu ada dalam semangat model pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan pengembalian yang diformulasikan oleh Model Romer (1986): output tergantung tidak hanya pada setiap saham modal produsen, tetapi juga pada saham modal ekonomi secara luas. Efek limpahan dari sinergi ini dipandang sebagai pertumbuhan MFP. Namun, sayangnya, MFP adalah pengukuran efek residual yang mengombinasikan banyak faktor dan sangat sulit untuk menguraikannya.

Bagi banyak ekonomi, untuk dapat mengukur kontribusi ICT, masih menemui hambatan. Kebanyakan riset pada pentingnya ICT baru diadakan di AS dan beberapa negara G7, dimana pendapatan nasional dan akun produk tersedia terinci dalam rentang waktu panjang untuk berbagai jenis: investasi ICT, indeks harga sesuai kualitas, dan ukuran mengenai bursa saham terkait. Data cakupan yang kaya seperti ini tidak selalu tersedia untuk setiap negara. Sehingga, analisis empirik pada tingkat internasional bersandar pada sejumlah sumber dan menggunakan asumsi yang disederhanakan untuk kepentingan perbandingan antar ekonomi.

Namun, pada kenyataannya terhadap data yang telah berlimpah pun, masih dibutuhkan suatu pemahaman yang lebih gamblang untuk dapat menjabarkan korelasi yang tepat guna, unik, sesuai karakter dari setiap Negara.

paya mengukur korelasi kontribusi ICT di berbagai negara, tidak hanya untuk memberi penguatan visi dan misi, khususnya pemerintah RI, melainkan lebih dari itu diharapkan bahwa ukuran penerapan ICT terhadap pertumbuhan ekonomi hasilnya dapat dipahami dan dirasakan langsung manfaatnya bagi masyarakat. Hikmah yang pasti adalah, bahwa penerapan ICT di berbagai negara, menuntut peran penting pemerintah yang harus dimainkan untuk mendorong ekonomi informasi dengan menggairahkan sektor bisnis dan industri, terutama dalam mengusung nilai produktivitas dan peranan sumber daya manusia yang berbasis pengetahuan ( knowledge oriented human resources ).

Indra M. Utoyo • Praktisi Telekomunikasi & Infrastruktur

Artikel selengkapnya dapat Anda dapatkan di majalah eBizzAsia volume III nomor 25 April 2005. Untuk informasi berlangganan, Anda bisa hubungi Bapak Hamdani / Ibu Lilik di nomor telepon (021) 7193264 / 66 / 69 faks (021) 7193261

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.