Kepemimpinan Korea Selatan dalam Internet broadband, tampaknya bukan satu-satunya keunggulan negeri ginseng ini di fora industri dan bisnis dunia. Ini dibuktikan dengan mencuatnya kembali nama Korea Selatan dalam bisnis Digital Multimedia Broadcasting (DMB) dan WiBro ( Portable Internet ). DMB merupakan teknologi yang mendukung munculnya layanan siaran TV di telepon seluler alias ponsel. Sedang WiBro ( wireless broadband ), memungkinkan para pengguna ponsel mengakses Internet berkapasitas besar, kapan dan di mana saja sehingga lebih mudah menerima berbagai layanan baru di ponsel, misalnya siaran TV, video on demand, download musik dan sebagainya.
Dengan begitu, menyatunya kedua layanan tersebut di ponsel akan semakin mendorong pengembangan pasar ponsel berkemampuan DMB dan WiBro, ditambah siaran TV di ponsel. Hal ini diperkirakan tidak hanya akan berdampak terhadap layanan-layanan baru di ponsel, yang sudah tentu didahului dengan tersedianya secara luas ponsel-ponsel berkemampuan DMB dan WiBro, juga akan semakin mendorong perkembangan industri konten dan terbukanya berbagai lapangan kerja baru dan tenaga kerja berbasis pengetahuan yang semakin luas. Dampak berikutnya adalah peningkatan ekonomi dan bisnis.
Standar Dunia
Dalam salah satu wawancara khususnya dengan majalah IT Times, Yim Chu-hwan, Pimpinan Electronics and Telecommunications Research Institute (ETRI), Korea Selatan, menyatakan bahwa bisnis DMB dan WiBro diperkirakan akan meningkatkan pendapatan domestik kotor per kapita (GDP) hingga mencapai $20,000. Dan, Yim Chu-hwan, juga menambahkan bahwa bisnis DMB akan menjadi isu yang paling panas tahun 2005 ini, tak hanya di Korea, melainkan juga di seluruh dunia.
Korea sendiri, terutama dalam menyikapi pengembangan DMB, yang teknologinya telah dikembangkan di Korea sejak tahun 2002 lalu, tak hanya melihatnya dalam konteks kepemimpinan pengembangan teknologi, melainkan juga mendorong agar DMB dan WiBro dapat digunakan sebagai standar internasional. Jika hal itu terwujud, dan untuk itulah ETRI mendorong pemerintah Korea untuk melobi baik negara-negara maju maupun sedang berkembang guna memuluskan diadopsinya, khususnya standar DMB, secara internasional, maka keduanya akan semakin mendorong peningkatan industri dan bisnis ICT Korea Selatan.
Saat ini, Eropa, telah mengadopsi standar tersebut. Namun, Korea tak ingin standarnya hanya diakui oleh negara-negara Eropa saja, melainkan menjadi standar dunia. Karena, dengan semakin luasnya penerimaan dunia terhadap standar dan teknologi DMB Korea ini, maka akan semakin terbuka luas pula penerimaan ponsel-ponsel berbasis DMB, dan juga berbagai produk dan layanan terkait lainnya di pasaran dunia.
DMB merupakan sebuah perangkat penerima siaran bergerak (mobile broadcasting receiver) yang memungkinkan pengguna ponsel berkemampuan DMB menonton dan mendengar acara siaran TV di ponsel mereka, baik sedang dalam keadaan diam maupun terutama bergerak atau bepergian, misalnya dalam kendaraan yang melaju hingga 150 km/jam. Sedang WiBro, yang diharapkan akan mulai tersedia layanannya tahun 2006, adalah layanan Internet portabel, yang juga dapat diakses melalui ponsel. Dengan begitu, pengguna ponsel berkemampuan DMB dapat menonton video atau siaran TV sambil tetap bertelepon melalui ponsel yang sama.
Dengan semakin meningkatnya jumlah pengguna ponsel di seluruh dunia, Yim melihat bahwa begitu siaran TV tersedia dalam format mobile di ponsel, diperkirakan pasar akan meledak. Karena, layanan ini diperkirakan memang sudah banyak dinanti-nanti oleh para pengguna ponsel di seluruh dunia. Apalagi, saat ini para pengguna ponsel dunia cukup besar, yakni pengguna GSM mencapai 1,25 miliar, CDMA 202 juta, dan TDMA 120 juta.
Di Korea sendiri, para pelanggannya diperkirakan akan meningkat secara cepat, yakni dari hanya sekitar 400 ribu tahun 2005 akan meledak hingga 10 juta pengguna tahun 2010 mendatang. Selama ini, teknologi DMB memang telah dikembangkan, namun lebih banyak tertuju pada penggunaan untuk keperluan audio dan video saja, sedang siaran TV merupakan layanan yang sama sekali baru. Layanan siaran TV ini dapat dilakukan dengan menggunakan satelit maupun terrestrial, sehingga dalam konteks jaringan dikenal jaringan berbasis satelit (S-DMB) maupun terrestrial (T-DMB). (Untuk ulasan teknologinya, baca artikel: ”Digital Multimedia Broadcasting: Menghadirkan Siaran TV di Ponsel.”)
Dukungan Pemerintah
Yang menarik, dalam pengembangan DMB ini, Korea mengambil sejumlah momentum kegiatan internasional sebagai upayanya mendorong peningkatan pasarnya di dunia. Pertama , Korea akan memanfaatkan pasar Eropa, yang telah mengadopsi standar DMB-nya, melalui ajang FIFA Germany World Cup 2006, yang diperkirakan akan mempengaruhi negara-negara Eropa lainnya, seperti Inggris, Italia dan Swiss. Sedang di kawasan Asia, Korea mengambil momentum ajang Beijing Summer Olympics , Beijing, 2008 untuk juga mempengaruhi pasar Asia, termasuk Indonesia.
Jika hal itu berhasil dilakukan dengan baik, diperkirakan tak kurang pasar DMB akan berkembang 137 persen per tahunnya, sehingga pada 2012 pasarnya dapat mencapai $3 miliar. Beberapa praktisi malah memperkirakan bahwa nilai pasar perangkat atau ponsel DMB dapat mencapai $5 miliar pada 2007. Perkembangan ini diraih melalui peningkatan penjualan ponsel, pengembangan solusi aplikasi, dan juga konten.
Perkembangan yang dicapai Korea, baik saat ini maupun yang diperkirakan akan diperoleh lebih besar lagi di masa datang, tak terlepas dari dukungan kuat pemerintah Korea Selatan sendiri yang memang sangat antusias. Dukungan itu langsung didapat melalui kerja keras Kementerian Informasi dan Komunikasi ( Ministry of Information and Communication , MIC) dan Lembaga Riset Telekomunikasi dan Elektronik ( Electronics and Telecommunications Research Institute , ETRI), yang memang sangat mendukung perkembangan itu. Terutama, karena hal tersebut akan semakin meningkatkan industri dan bisnis di dalam negeri, dan sudah tentu pula ekonomi dan pendapatan masyarakat, kreativitas, serta profesionalisme pekerja berbasis pengetahuan ( knowledge worker ), khususnya di lingkungan industri ICT.
Selain itu, dengan dukungan yang kuat dari pemerintah ini pula kalangan industri, terutama para pemanufaktur ponsel berkemampuan DMB, juga dinilai sangat positif. Dalam konteks ini, ETRI bertanggung jawab dalam menyediakan fasilitas transmisi dan teknologi, sedang perusahaan-perusahaan penyiaran, seperti KBS dan MBC, mengajukan bisnis model secara detil. Sedangkan kalangan pemanufaktur perangkat terminalnya (ponsel), termasuk utamanya Samsung dan LG, bertugas menyiapkan ponsel berkemampuan DMB, sehingga mampu menerima layanan siaran TV bergerak.
Patungan Satelit
Di sisi lain, SK Telecom, operator telepon seluler terbesar Korea, berhasil membangun satelit DMB pertama dunia yang memungkinkan disediakannya layanan DMB di ponsel, PDA atau perangkat portabel untuk kendaraan ( in-car devices ), yang secara esensial mengonvergensikan teknologi telekomunikasi dan penyiaran. Satelit DMB bernama 'Han Byul' ini dikerjakan di Space Systems Loral, yang berada di Palo Alto, California, Amerika dan mampu menyediakan 25 kanal audio untuk layanan musik, berita dan pendidikan, dan 3 kanal untuk berbagai layanan informasi.
Satelit DMB ini merupakan hasil patungan antara SK Telecom , Korea Selatan, dan Mobile Broadcasting Corporation (MBCO), Jepang. Peluncuran satelit ini bukan saja menjadi perhatian para operator satelit, melainkan juga perusahaan-perusahaan TI mancanegara, karena ini merupakan satelit DMB pertama dunia. Peluncuran satelit ini bukan saja menjadi unggulan, melainkan juga semakin memuluskan kepemimpinan, baik Korea maupun Jepang, dalam pasar DMB global.
Yang menarik, patungan antara kedua perusahaan telekomunikasi besar ini, beban biaya pembelian satelit DMB tersebut didasarkan pada cakupan dan jumlah stasiun bumi yang akan mereka operasikan. Sehingga SK Telecom kebagian mendanai 34,66% atau sekitar 94,5 miliar won Korea Selatan ($1=1003,88 won) dari total biaya sebesar 272,0 miliar won. Sedang MBCO mendanai 65,34% atau sebesar 177,5 miliar won. Biaya itu mencakup pembelian, peluncuran, pengendalian, asuransi dan lain sebagainya. Bagi SK Telecom, patungan pembelian satelit ini setidaknya mampu menghemat biaya sekitar 150 miliar won dibandingkan kalau mengoperasikannya sendiri.
Momentum bagi CDMA
Nantinya, satelit DMB ini akan dioperasikan oleh TU Media, perusahaan yang 30 persen sahamnya dimiliki SK Telecom. Perusahaan ini akan menyediakan berbagai layanan satelit, antara lain menyediakan 11 hingga 12 kanal televisi, 26 kanal audio, dan juga layanan komunikasi data bagi tiga operator seluler lainnya. Sedang Samsung dan LG telah mengembangkan ponsel-ponsel berkemampuan DMB untuk mendukung layanan baru itu. Sedang layanan DMB dari TU Media ini diperkirakan baru akan diluncurkan sekitar September tahun 2005 ini setelah izinnya diperoleh dari komisi penyiaran Korea .
Dengan tingkat pengguna ponsel yang telah mencapai 75% dari total populasi Korea Selatan, para analis menilai bahwa layanan DMB akan mampu meraih 6 juta pelanggan dalam beberapa tahun dan 8 juta pelanggan hingga tahhun 2010. Hasil kajian Electronics and Telecommunications Institute , memperkirakan bahwa layanan DMB akan menciptakan pendapatan sekitar 14 triliun won dalam enam tahun ke depan, terutama dari layanan, perangkat dan konten.
engan berkembangnya layanan DMB, maka ini seklaigus menjadi momentum bagi perkembangan teknologi komunikasi CDMA – karena DMB berbasis teknologi komunikasi CDMA. Bagi Korea sendiri, CDMA akan menjadi mesin pertumbuhan baru dengan tingkat kebutuhan ponsel CDMA tak kurang dari 14 juta buah per tahun, yang berarti akan menciptakan pasar domestik untuk perangkat nirkabel hingga 1,3 triliun won pada tahun 2010 mendatang. Sementara, ponsel DMB ini dipekirakan akan dijual di pasaran dengan harga antara 700.000 won hingga 800.000 (7-8 juta rupiah). |