RisTI, memang bertugas untuk mengembangkan sejumlah produk yang dipasarkan Telkom untuk para pelanggannya. Namun, kompetensi yang dimilikinya juga memungkinkan RisTI untuk mengembangkan berbagai produk atau layanan lainnya.
Untuk mendapatkan gambaran lebih rinci, tim eBizzAsia mewawancarai Taufik Hasan , Kepala Telkom RisTI, bertepatan dengan penyelenggaran kegiatan ETBIS ( Executive Technology Business Session ) di Bali, awal bulan lau. Berikut petikannya,
Apa sebenarnya peran RisTi?
Dengan posisinya sebagai R&D Center, TELKOM RISTI, bisa di tebak bertanggungjawab dalam melakukan berbagai kegiatan riset, melakukan riset dan pengembangan, yang lebih ditujukan untuk mendukung TELKOM sebagai operator, sebagai penyedia jasa telekomunikasi atau, sekarang, Infokom. Hal yang sama juga dilakukan oleh operator-operator lainnya. Sehingga output riset yang dilakukan berupa pengembangan produk yang akan dikonsumsi oleh Telkom untuk, nantinya, disampaikan ke end user atau pelanggan Telkom.
Dalam pengembangan teknologi, yang kita lakukan adalah bagaimana membuat penilaian ( assesment ) terhadap teknologi-teknologi yang diharapkan dapat digunakan oleh Telkom untuk melayani para pelanggannya. Sering juga disebut sebagai unit pengembangan produk. Teknologi kan banyak tersedia, namun teknologi mana, yang didasarkan berbagai pertimbangan kita, nantinya layak dan strategis digunakan oleh TELKOM untuk memberikan pelayanan kepada para pelanggannya. Meski lebih pada assesment , tetapi ada kalanya kita juga mengembangkan teknologi, yang mungkin di luar belum ada. Secara umum, kita menyiapkan teknologi-teknologi apa yang digunakan Telkom, yang secara prinsip mampu mendukung Telkom bukan saja dalam menyediakan berbagai solusi, melainkan juga membuat Telkom siap menghadapi tantangan persaingan di luar.
Misalnya apa?
Misalnya layanan CDMA atau Flexi. Kita tahu, CDMA itu memang sudah ada. Itu merupakan suatu teknologi yang sudah di kembangkan di luar. Persoalannya, mau diapakan teknologi itu, dan bagaimana kalau teknologi itu digunakan TELKOM untuk menambah jenis layanannya. Kemudian, kita melakukan asesmen, dan kemudian mengaitkannya dengan jaringan TELKOM itu sendiri.
Dengan begitu, kalau kita memutuskan untuk mengadop teknologi CDMA itu, maka apa saja yang perlu kita lakukan. Penyesuaian-penyesuaian apa saja yang diperlukan, misalnya saja standar yang ada dan juga protokol. Karena teknologi dibawa dari luar, jika diterapkan, jalan tidak dengan jaringan yang sudah ada sekarang ini. Nah, karenanya diperlukan pengembangan standar, yang tentu setelah dilakukan asesmen terhadap teknologinya. Itu yang kita lakukan.
Melalui standar itu, vendor dari luar kemudian mengacu, dan proses pengembangan standar itu, tentunya, dilakukan harus dengan hati-hati dan mengacu pada satu visi, bahwa dia harus punya nilai economic of scale dan kompetitif. Kita membuat standar yang sifatnya tidak mengacu pada satu vendor saja.
Kemudian, kita juga melakukan berbagai join vendor meeting , dimana kita menyiapkan suatu standar yang telah didasarkan pada pengkajian dan penilaian, kemudian kita lempar ke vendor–vendor. Kami, Telkom, akan membuat standar seperti ini, Anda comply tidak, jika tidak lalu apa masalahnya. Jadi, pertimbangan penerapan suatu teknologi baru itu cukup banyak, bisa terkait dengan investasi, nilai kompetitif, begitu juga lingkungan dimana sudah ada teknologi atau jaringan atau perangkat lainnya. Karenanya diperlukan suatu alignment , sehingga bukan saja terkait dengan teknologi yang baru, tetapi bagaimana jaringan yang ada pun tetap dapat dioptimalkan pemanfaatannya. Begitu juga, pertimbangan kompetensi orang-orang yang nantinya akan mengoperasikan teknologi itu. Sekali lagi, hal ini sangat penting, karena di sana ada investasi yang cukup besar.
Dengan adanya join vendor meeting itu terkait dengan pembuatan standar internal, yang nantinya ketika membuat standar, maka akan ada banyak vendor yang comply .
Dalam konteks ini penilaian apa saja yang dilakukan?
Penilaian yang dilakukan mencakup dua hal, yang pertama terkait dengan product roadmap , dan kedua technology roadmap . Penilaian yang ditampilkan dalam bentuk roadmap inilah yang kami sampaikan ke BOD untuk kemudian menjadi dasar pertimbangan apakah nantinya akan digunakan. Produk yang kami usulkan ini, nilai ekonomisnya seperti ini dan jangka waktu teknologinya pertimbangannya seperti ini. Penilaiannya mencakup berbagai pertimbangan, baik economic of scale -nya, teknologi, nilai kompetitif dan jangkauannya. Begitu juga, pertimbangan yang terkait dengan bisnis, kompetitor, regulasi, perkembangan dunia yang terkait dengan itu, serta berbagai aspek lainnya.
Jadi, tidak semua teknologi yang kita berikan dalam bentuk berbagai pertimbangan itu kemudian dapat atau diputuskan untuk dijalankan. Atau, kalau pun dijalankan, bisa jadi pertimbangannya dijalankan sendiri, atau justru lebih baik kalau dijalankan melalui pola outsourcing atau alih daya, misalnya.
Karena keterkaitan suatu penerapan teknologi baru, yang berarti juga nantinya layanan baru, tentu hal itu terkait dengan banyak aspek dan bagian, yang setidaknya dapat dilihat dalam proses bisnis yang dirancang. Termasuk keterkaitan dengan tanggungjawab pengelolaan, penyampaian atau pemasaran, pemeliharaan hingga SDM yang terkait dengan itu. Begitu juga, dalam hubungannya dengan pelanggan, maka customer interface -nya siapa? Apakah dilayani melalui call 147 , call center atau web, misalnya, dan itu semua harus masuk dalam pertimbangan, termasuk hingga ke jajaran back office -nya.
Dengan begitu, dengan banyaknya lingkup pekerjaan dan tanggungjawab yang terkait, maka sejak awal saya katakan bahwa RisTI tidak bisa bekerja sendirian, melainkan terkait dengan banyak bagian, apalagi kalau layanannya bersifat nasional dan standar pelayanannya harus sama. Untuk itu, ada waktu yang diperlukan, misalnya di daerah-daerah, selain untuk penyiapan pelayanan, tentu diperlukan dukungan SDM yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan, misalnya untuk pemasaran. Jadi, sebenarnya proses pengembangan produk yang sederhana, termasuk asesmen, itu pada akhirnya akan melibatnya banyak orang dan bagian.
Berapa lama biasanya waktu yang dibutuhkan untuk itu semua?
Kalau dilihat dari sejak awal, ya rata–rata 6-9 bulan mulai dari ketika kita memutuskan untuk go dengan teknologi tertentu. Produk yang di keluarkan, salah satunya Speedy dan masih banyak lainnya.
Namun, apa yang dilakukan RisTI tak selamanya menyangkut produk yang akan digunakan oleh Telkom untuk menyediakan layanan bagi para pelanggannya, melainkan juga yang terkait dengan sistem yang mendukung pelayanan itu, misalnya sistem billing . Meski billing ditangani bidang lain, namun kami mendukung kelancarannya melalui penyiapan sistem yang handal.
Di tempat lain itu, kita punya yang disebut fraud management, karena dalam aspek collection itu bisa terjadi fraud , baik internal maupun bisa dari luar. Karenanya, untuk setiap produk itu lain-lain cara treatment -nya. Untuk mendukung keperluan tersebut, kita mengembangkan aplikasi fraud management dengan fungsi mengolela agar produk yang disampaikan ke konsumen sesuai dengan yang kita harapkan, ada revenue assurance -nya, sehingga tidak terjadi kebocoran–kebocoran, lebih efisien.
Untuk billing , itu ditangani oleh IS Center. IS Center ini tidak hanya men- support , tetapi juga me- manage . Misalnya, di kita itu ada yang disebut call data record, connection data record , dan kalau Internet ada volume data, itu datanya diambil dan dikelola oleh IS Center. Selama ini, fraud management baru diterapkan di voice , dimana datanya tersedia dan tinggal diambil dari exchange . Sedang, untuk corporate data atau Internet atau interconnection , format data atau kesediaan datanya belum ada. Itulah yang kita sediakan.
Bagaimana dengan dukungan lainnya?
Dukungan lainnya terkait dengan Network Management. Network kita itu kan berasal dari bermacam-macam vendor, tahunnya juga berbeda-beda. Nah, itu harus di upgrade . Jika kita biarkan begitu saja, kita akan punya lokasi di sini, lokasi di sana. Dan masing-masing harus di datangi, diawaki dan itu pada saat kita manage , ada performance -nya atau fraud management -nya atau fault handling dan sebagainya. Kalau terlalu banyak, kebutuhan orang yang tidak efisien dan banyak. Untuk itu, dikembangkan suatu manajemen yang terpadu, sehingga vendor kita syaratkan standarnya begini. Hal itu tidak diperuntukkan bagi konsumen, melainkan hanya digunakan oleh TELKOM.
Nah, dalam suatu proses pengembangan, suatu ketika ternyata kita menemukan suatu interface atau konsep, yang di dunia ternyata belum ada, jadi itu merupakan pengalaman Telkom sendiri. Ini merupakan suatu sistem pengelolaan jaringan, yang selama ini dirasakan kurang efisien. Sebagai suatu sistem, kemudian kita bawa ke ITU ( International Telecommunication Union ) di Jenewa dan, sekarang, itu sudah di putuskan sebagai standar dunia, ada tiga standar yang diadop. Standar itu adalah Access Network Management System (ANMS) yang berbasis CORBA ( Common Object Request Broker Architecture ).
Dibutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun untuk sampai diputuskan menjadi standar dunia oleh ITU. Dan, itu tak terlepas dari komitmen Direksi dalam mendukung pencapaian yang cukup penting itu.
Ada hal lainnya?
Kita mengembangkan layanan SMS menggunakan telepon tetap yang ada di rumah, dengan menambah suatu alat. Kalau mengikuti standar dunia, SMS melalui pontap ini bisa tetapi harus didukung sentral telepon yang baru yang memiliki fitur tertentu. Sayangnya, sentral telepon kita kan versi lama, ada yang versi 3, 6, 9, 11 dan lainnya, sangat bervariasi. Karenanya kita buat standar yang mendukungnya.
Selain itu, SMS itukan personal sifatnya. Jadi meskipun SMS itu bersifat sistem messaging, pertukaran pesan, namun bisa dibuat lain, dan bukan pertukaran informasi, melainkan penyampaian informasi, misalnya, ”Perusahaan A minggu ini menyediakan diskon 20%”. Sekarang ini, layanan SMS ini tersedia di seluruh Jakarta, Jawa Barat, Sumater, Jawa Timur, Indonesia Timur, Sulawesi, meskipun sebenarnya sentralnya versi lama.
Saat ini, Telkom memiliki tak kurang 8 juta pelanggan, jadi kalau digunakan oleh 10% pelanggan itu kan berarti 800.000 pelanggan. Di Jerman itu sudah lebih maju, tak hanya SMS melainkan MMS. Keunggulannya, telepon tetap itu kan alamatnya jelas.
Kita juga mengembangkan layanan berbasis ADSL. ADSL itu kan teknologi baru, dimana pelanggan dapat menggunakan kabel telepon biasa uktuk komunikasi data. Kapasitasnya cukup besar dan melebihi kemampuan di seluler, selain juga masih dapat digunakan untuk komunikasi suara. Namun, sekali lagi, jaringan kabel itu tidak masuk ke sentral, melainkan ke jaringan data, sedang yang ke rumah yang masih menggunakan kabel pontap.
ADSL itu ada yang mampu menyampaikan data hingga 28 MB. Nantinya bisa digunakan untuk video stream dan layanan lain berkapasitas besar. Dengan teknologi yang ada sekarang, komunikasinya berupa penyambungan switch , yang dari ujung ke ujung hanya kita yang pakai. Tetapi, dengan teknologi data Internet kita mengunakan paket. Internet tidak lagi membangun hubungan, tetapi membangun yang namanya penyebaran data, sehingga bisa ke mana saja, jadi tidak pernah ada hubungan milik satu orang.
Bagaimana dengan rencana ke depan ini?
Ke depan kita akan mengembangkan NGN ( Next Generation Services ). NGN ini, dari satu sisi, kita punya keuntungan, yakni kita belum banyak dibandingkan penduduk, karena pelanggan pontap kita masih 8 juta dibandingkan jumlah penduduk yang 200 juta. Konsepnya berupa komunikasi berbasis data paket, bukan lagi berbasis sirkit.
Karena belum banyak, maka peluang dalam membangunnya lebih besar tanpa harus, katakanlah mengubah jaringan yang ada sebagaimana jika dilakukan di Amerika atau Singapura, yang sudah sangat padat. Sementara, kita bisa menyiasatinya dengan migrasi secara bertahap dan yang baru harus mulai dari awal. Karenanya, NGN bisa lebih efisien dan murah.
NGN ini sangat prospektif, karena mampu dan dapat digunakan untuk melayani daerah-daerah yang membutuhkan kapasitas kecil, karena kapasitas yang dibangun dapat disesuaikan dengan tingkat kebutuhannya, bisa seribu, atau malah dua ratus, misalnya. Kalau menggunakan sentral yang dibuat vendor, katakanlah Siemens, atau Alcatel, untuk membangun kapasitas seribu, maka pengendaliannya ya seribu dan interface -nya juga seribu. Kalau kita membutuhkan dua ratus, kita harus membangun yang sebesar itu.
Dengan NGN tidak begitu, perlu hanya dua ratus yang dua ratus itu yang dibangun aksesnya, sedang kontrolnya bisa di mana saja, jaringannya berbasis IP (Internet Protocol). Dengan jaringan IP ini, yang bisa dilewatkan tak hanya suara, melainkan juga data dan, bahkan, video, sehingga bisa lebih efisien dan murah.
Apakah yang dilakukan RisTI hanya untuk kebutuhan Telkom?
RisTI memang lebih banyak melakukan kegiatan yang mendukung Telkom, yakni misalnya ya product development itu. Namun, karena kita bekerja di bidang TI, dimana teknologi informasi dan telekomunikasi itu kompetensi yang perlu kita kembangkan, termasuk juga untuk sesuatu yang mungkin tidak ada kaitannya dengan pelanggannya TELKOM. Kalau kita bicara mengenai SMS, CDMA, FLEXI itu pelanggan Telkom yang menggunakannya. Kita juga mengembangkan sesuatu yang akan di konsum oleh orang–orang yang bukan pelanggan TELKOM, artinya itu bukan produk TELKOM, misalnya e–government .
Ketika mengintrodusir e-Government, ada beberapa hal yang boleh dikata sebagai kendala:
Pertama , soal visi. Kebanyakan pimpinannya tidak memiliki visi yang jelas tentang e-Gov, sehingga kurang melihat potensinya bagi pengembangan dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat.
Misalnya saja, dalam hidup kita mulai dari lahir, kita sudah memerlukan akte kelahiran, mulai kita sekolah, kita juga perlu pendidikan, pada saat kita bekerja kita melamar, kita akan bayar pajak kalau kita sudah bekerja, dan kita mungkin membutuhkan SIM. Itu semua merupakan event–event yang bisa elektronikkan prosesnya.
Dikelola seperti sekarang ini, memang jalan, tapi tidak menawarkan sesuatu value added . Kemudian ada rasa khawatir kalau Pemda menerapkan e-Gov dan berarti menggunakan computer, para karyawannya akan diberhentikan karena mereka tak bisa menggunakan computer. Nah, muncul perasaan seperti ini.
Kedua , change management. Mengubah pemerintahan yang tadinya sangat birokratis dan tidak efisien, itu membutuhkan perubahan manajemen untuk membuatnya lebih sefisien. Untuk itu diperlukan perubahan, baik menyangkut proses kerjanya, kapabilitas orang yang mengerjakannya, latar belakang pendidikan dan pengalamannya apa. Itu yang banyak dari kita tidak siap.
Yang kurang dari kita ini adalah masalah dokumentasi, sejarah kita itu kan bisa berubah karena tergantung penguasa. Karena kita tidak pernah berdokumentasi, maka dengan menggunakan TI itu semacam dokumentasi yang diwujudkan dalam bentuk displin untuk mengakuratkan data. Untuk itu, yang diperlukan salah satunya adalah infrastruktur, proses dan orang yang mendukungnya.
Apa yang sepatutnya dilakukan?
Bagaimanapun, kalau yang kita ingin adalah meningkatkan efisiensi dan pelayanan kepada masyarakat, maka bagaimana orang-orang yang mendukung dengan kinerja yang baik, mestinya diberi imbalan yang layak. Karenanya, mestinya DPR bisa mengizinkan PEMDA membuat aturan bahwa kalau ada efisiensi, pegawainya akan menerima bonus dan itu berati semua pegawai akan terdorong melakukan efisiensi. Namun, hal ini harus didukung oleh suatu sistem yang jelas.
Selain itu, dalam pengembangan pelayanan kepada masyarakat, tentunya juga harus didukung oleh sistem di belakangnya. Misalnya, kalau Kepala Bagian Ijin bangunan di Pemda, mestinya sebelum dia mengeluarkan ijin itu, ia dapat melakukan pemeriksaan lebih teliti dengan dukungan sistem dokumentasi dan data yang cukup baik. Sehingga dia juga tahu benar lokasi area yang akan dibangun dan juga memeriksa peruntukannya di lokasi tersebut.
Selain itu, pelayanan-pelayanan publik nantinya, juga bisa memanfaatkan TI secara lebih optimal, misalnya pelayanan pembuatan KTP atau SIM. Begitu juga, kalau mamu membuat paspor atau SIM, tidak setiap tahun harus dilakukan pemtretan ulang, melainkan cukup memperpanjangnya melalui Internet, misalnya. Karenanya, penerapan e-Gov itu bukan saja penting, tetapi sangat strategis untuk ke depan, dimana setiap orang akan terdata dengan menggunakan satu nomor identitas tunggal (SIN, single Identity Number ), yang berarti berbagai pelayanan akan diberikan kepada orang tertentu yang jelas identitasnya. Selain efisien, juga lebih praktis.
Foto: dok. ebizzasia
|