Volume III No 27 - June 2005

CINA

Cina Pimpin Lomba Penggelaran Broadband

Cina mulai mengancam posisi AS dalam jumlah pelanggan broadband. Diperkirakan, jumlah pelanggan broadband Cina hanya akan sedikit di belakang AS akhir tahun ini. Perusahaan riset iSuppli memprediksi Cina bakal melampaui AS pada akhir tahun 2007 mendatang, dan seterusnya jumlah pelanggannya akan tumbuh dengan pesat.

Akhir tahun ini, perusahaan riset tersebut memperkirakan Cina akan memiliki jumlah pelanggan broadband sebesar 34 juta pelanggan, sementara AS sekitar 39 juta pelanggan. Pada akhir tahun 2007, iSuppli memprediksi Cina akan memiliki 57 juta pelanggan broadband, sementara AS terpaut di belakangnya dengan jumlah 54 juta pelanggan. Dengan keunggulan jumlah populasi yang besar, perusahaan riset itu memperkirakan Cina seterusnya akan mengungguli AS dalam hal jumlah pelanggan broadband.

“Untuk tetap kompetitif, baik secara teknologi maupun ekonomi, sebuah negara harus tetap berusaha terdepan dalam penggelaran broadband,” ujar Steve Rago, principal analyst iSuppli untuk bidang komunikasi networking dan optikal, sebagaimana dilaporkan harian South China Morning Post .

Namun, di sisi lain, posisi ini bisa saja berbalik kalau AS bisa memanfaatkan momentum dengan mulai longgarnya hambatan regulasi dan pajak dalam penggelaran broadband. Apalagi, tokoh politik utama negeri itu, presiden George Bush sendiri, dikabarkan mulai turun tangan langsung memromosikan penyebaran akses broadband. cma/aa

Bank Cina Mulai Lirik Open-Source

Salah satu bank terbesar Cina, Industrial Commercial Bank of China (ICBC) dikabarkan telah meneken perjanjian Turbolinux untuk mengadopsi piranti lunak berbasis open-source dalam pengoperasian bank tersebut.

ICBC akan mengintegrasikan sistem operasi dan piranti lunak buatan Turbolinux di seluruh jaringan miliknya selama tiga tahun ke depan, demikian menurut pihak Turbolinux dalam pernyataan tertulisnya.

Menurut perusahaan piranti lunak yang bermarkas di Jepang ini, dalam perjanjian tersebut, pihak ICBC akan membeli unrestricted user license untuk seluruh pengoperasian bank, cabang dan anak-anak perusahaannya. Sementara, Turbolinux sendiri akan mendukung upgrade , proteksi terhadap virus dan pemeliharaannya.

ICBC termasuk salah satu dari perusahaan Fortune 500 dan merupakan institusi keuangan komersial terbesar di negeri tirai bambu ini. Dengan aset sekitar 600 miliar dolar, institusi ini memiliki sekitar 20.000 cabang di seluruh Cina dan 1.000 anak perusahaan di seluruh dunia, dan mengelola sekitar 100 juta akun pribadi dan 8,1 juta akun korporat.

Sementara secara keseluruhan, penggelaran Linux di Cina semakin luas. Para pembuat piranti lunak berbasis Linux rata-rata mengincar segmen perbankan, asuransi dan aplikasi-aplikasi nirkabel. Bahkan, vendor-vendor TI besar, seperti Intel, juga memanfaatkan potensi pasar open-source Cina dengan menggelar program untuk mendorong penjualan komputer berbasis Linux di Cina. cn/aa

FILIPINA

Filipina Siapkan Sistem Identitas Tunggal

Badan ekonomi dan pembangunan nasional Filipina, NEDA dikabarkan akan memelopori pengembangan sistem identitas tunggal. Nantinya, sistem ini bakal menyelaraskan berbagai database yang ada di sejumlah badan milik pemerintah Filipina.

Tim Diaz de Rivera, direktur National Computer Center (NCC), mengatakan bahwa NEDA kini tengah menyiapkan draf yang isinya merinci implementasi sistem ID tunggal secara nasional.

Namun, menurut dia, pihaknya belum akan langsung mengeluarkan nomor identitas baru untuk setiap warga Filipina. Alih-alih, pemerintah pada tahap awal akan menyelaraskan sistem ID yang digunakan badan-badan pemerintah, seperti kantor statistik nasional (NSO), otorita transportasi darat (LTA) dan komisi pemilihan umum (Comelec). Setiap penduduk akan diberikan nomor referensi silang unik, yang dapat digunakan oleh sejumlah lembaga untuk memverifikasi catatan yang dimiliki setiap pemegang ID.

Nantinya, di bawah skim NEDA, LTO misalnya dapat memverifikasikan catatan seseorang yang mengajukan aplikasi surat izin mengemudi, yang tersimpan di badan pemerintah lainnya, dengan menggunak nomor referensi silang ini.

Sistem ini membutuhkan suatu database tunggal berisi nomor referensi silang, yang menurut de Rivera akan disimpan di NSO. “Karena sejauh ini hanya mereka yang memiliki data repository tunggal terbesar,” ujarnya.

Ia pun menambahkan, bahwa sebagian besar dana untuk proyek sistem identitas nasional ini akan dikucurkan hanya untuk membangun database nomor referensi silang ini guna menjamin tidak adanya duplikasi data.

Selain memuat nomor referensi silang, database ini juga akan memuat informasi tambahan, seperti data biometrik. Menurut de Rivera, data biometrik, seperti ciri wajah dan sidik jari ini, akan diambil dari mesin data capture milik komisi pemilihan umum Filipina, Comelec. “Kami perlu memperkuat kapabilitas search and matching . Untuk itu, dibutuhkan dana yang cukup besar,” tegasnya.

Meski tidak merinci berapa besar dana yang dibutuhkan, menurut de Rivera, dananya kemungkinan akan diambil dari anggaran tambahan proyek e-Government yang besarnya sekitar 1 miliar peso, atau sekitar 20 juta dolar. ctp/aa

INDIA

India Mulai Bermain di Pasar Jaringan

Tak ingin tertinggal dengan rival utamanya, yakni Cina, India kini tengah mengambil ancang-ancang untuk menjadi pemain perangkat jaringan kelas global. Namun, sebagai langkah awal, para produsen perangkat jaringan India tidak akan memasarkan produk-produknya dengan merk sendiri.

Sesungguhnya, India sudah cukup lama bergelut di bidang manufaktur perangkat jaringan. Namun, selama ini, sebagian besar produk-produk jaringan itu dipasarkan secara lokal. Rata-rata, mereka mengincar pasar telekomunikasi India, yang memang saat ini tengah berkembang pesat.

Salah satu produsen, Tejas Networks misalnya, sejauh ini telah memasok perangkat jaringan untuk 20 carrier telekomunikasi lokal dan lima internasional. Kini, perusahaan yang bermarkas di Bangalore itu mulai memasarkan perangkatnya di Amerika Utara. Namun, alih-alih menggunakan merk sendiri, Tejas menempatkan dirinya sebagai original equipment manufacturer (OEM) bagi perusahaan-perusahaan multinasional, yang menempelkan merknya sendiri di atas produk-produk Tejas.

Sanjay Nayak, CEO Tejas Networks , mengatakan bahwa perusahaannya belum lama ini mendapatkan dana segar dari modal ventura yang dikucurkan Intel Capital dan Battery Ventures. Ia pun menargetkan perusahaannya bisa membukukan pendapatan sebesar 100 juta dolar dalam 18 bulan mendatang. “Kami memiliki peluang sebagai a half-billion dollar company dalam lima tahun mendatang,” tegas Sanjay.

Peluang India untuk menjadi pemain perangkat jaringan tingkat global memang besar. Selain diuntungkan dengan biaya R&D yang murah, perusahaan-perusahaan India bisa memanfaatkan pasar telekomunikasi lokal yang besar untuk meraup keuntungan. Sekalipun penetrasi telekomunikasi India relatif kecil, dengan 9 telepon (termasuk seluler) per 100 penduduk, pertumbuhan pasar telekomunikasi India, seperti halnya Cina, termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Sebagai gambaran, penambahan pengguna seluler di negeri itu saja sekitar 2 juta per bulan.

Untuk memenuhi permintaan ini, para carrier telekomunikasi lokal membutuhkan perangkat router dan switch dalam jumlah besar, dengan harga yang murah. Peluang inilah yang dimanfaatkan produsen-produsen perangkat jaringan India untuk mengembangkan diri.

Sebagai contoh, produsen perangkat jaringan India lainnya, Telsima, kini tengah bersiap merilis switch broadband untuk menangani lalulintas data melalui jaringan kabel maupun WiMax dengan harga miring. Telsima menargetkan biaya penggelaran broadband per user nya bisa ditekan sampai 150 dolar, jauh dibawah biaya sebesar 350 dolar AS per user dengan menggunakan perangkat buatan AS.

“Kalau biayanya mencapai 150 dolar, itu akan mendorong penggunaan WiMax. Para carrier akan melihat WiMax sebagai sarana untuk menghubungkan kota-kota dan desa-desa,” ujar M.T. Karunakaran, CEO Telsima . Seperti halnya Tejas Networks, Telsima pun berambisi menjadi pemain global. Salah satu pasar yang tengah diincarnya adalah Jepang.

Perusahaan-perusahaan India ini akan mengikuti langkah Huawei Technologies, sebuah perusahaan jaringan dari Cina, yang berhasil menerobos pasar jaringan dunia. Tiga tahun lalu, Huawei relatif belum dikenal luas. Namun, kini, perusahaan itu sanggup bersaing dengan raksasa, seperti Cisco Systems, di hampir setiap wilayah pasar.

Meski berpotensi besar, seperti diakui Sanjay Nayak, India masih harus mengatasi kendala di dalam, khususnya dalam hal membangun kredibilitas produk. Menurutnya, masih banyak perusahaan-perusahaan lokal yang memandang sebelah mata produk-produk jaringan buatan dalam negeri.

Untuk menghadapi kendala itu, salah satu langkah yang ditempuh Tejas adalah melakukan pendekatan dengan pihak regulator agar perusahaan-perusahaan lokal pun diberi kesempatan untuk berkompetisi melawan perusahaan-perusahaan mapan (umumnya perusahaan multinasional) dalam mengerjakan proyek-proyek telekomunikasi dalam negeri. zdi/aa

MALAYSIA

Malaysia Kembangkan Secured SMS

Transaksi bisnis via SMS kini lebih aman. Sebuah perusahaan Malaysia, Network Security Solutions MSC Sdn Bhd (NSS) telah mengembangkan sistem SMS bernama Xecure Message Service (XMS), yang diklaimnya sebagai sistem secure SMS pertama di dunia.

Saat ini, tidak populernya SMS sebagai saluran untuk melakukan transaksi bisnis maupun layanan publik dikarenakan ketiadaan fitur security yang memadai.

Anurana Saluja, global head of operations NSS mengatakan bahwa pesan SMS antara base station dengan ponsel tidak dienkripsi. “Hal ini memungkinkan seorang hacker , dengan menggunakan tool-tool yang mudah dijumpai di Internet, untuk mengirim spoof SMS, mengendus pesan SMS yang ditengah dikirim, mencegatnya ditengah jalan dan kemudian membacanya,” ujar Anurana.

Namun dengan sistem yang dikembangkan NSS ini, keamanan mobile messaging tersedia end-to-end. Menurut Anurana, dengan sistem baru ini, pesan SMS dienkripsi terlebih dahulu sebelum dikirim. Dan, setelah diterima di ponsel tujuan, baru kemudian pesan itu didekripsi. XMS memungkinkan fitur non-repudiation diterapkan pada SMS, serta mengusung fitur-fitur lain yang penting bagi transaksi bisnis.

Sebelum bisa memanfaatkan fitur security XMS, seorang pengguna harus men -download aplikasi XMS ke ponselnya, baik melalui SMS maupun GPRS. Setelah meng- install -nya ke dalam ponsel, pengguna tinggal menghubungi pihak yang akan mengirim/menerima secure messages , misalnya bank, pialang saham, maupun atasan di tempat ia bekerja.

Menurut Anurana, untuk menerima atau mengirim SMS, pengguna harus log-on dengan password. Untuk mencegah orang lain melihat konten SMS jika ponsel itu jatuh ke tangan orang lain, sistem ini memungkinkan penggunanya untuk menghapus pesan itu dengan menelepon dari ponsel lain atau mengirim pesan untuk memerintahkan penghapusan.

Saat ini, XMS tersedia bagi perangkat-perangkat smartphone yang menjalankan sistem operasi Symbian, mulai dari versi 6.1 sampai 8.0a. Sistem operasi ini biasa digunakan smartphone keluaran Nokia, Sony Ericsson dan Motorola.

Ke depan, menurut Anurana, NSS juga akan merilis versi XMS untuk sistem operasi Java, Palm OS, Windows CE, Linux maupun sistem operasi lainnya yang kompatibel dengan perangkat seluler berteknologi GSM maupun CDMA.

Menurut dia, XMS cocok digunakan untuk setiap jenis transaksi yang dilakukan melalui ponsel, baik di kalangan pemerintah, sektor komersial maupun pribadi.

Saat ini, NSS telah meneken perjanjian kolaborasi teknis dengan ISP terbesar Malaysia, TM Net. Di bawah perjanjian ini, TM Net akan memanfaatkan XMS untuk membangun payment gateway terintegrasi dan aman untuk berbagai layanannya, seperti misalnya mal belanja online – tmnet mall.

NSS sendiri telah mendemokan solusi XMS ini ke negara-negara Asean dan Timur Tengah, dan mengklaim bahwa banyak pihak yang berminat pada solusi ini. Namun, diluar TM Net, sejauh ini NSS belum mengumumkan adanya kontrak dengan para operator seluler, institusi keuangan maupun badan-badan milik pemerintah. jm/aa

SINGAPURA

Singapura Bangun Kompetensi SDM untuk Grid Computing

Otoritas pengembangan infokom Singapura, IDA, belum lama ini meluncurkan sebuah program pengembangan sumberdaya manusia (SDM) untuk menyiapkan tenaga kerja terlatih untuk mendukung aplikasi grid computing .

Bekerja sama dengan Oracle, program yang dinamakan Enterprise-g Manpower Program atau g-MAP ini akan melatih sekitar 300 orang profesional TI Singapura dalam jangka waktu tiga tahun. Mereka akan dibekali dengan grid computing know-how untuk meningkatkan skill dan kemampuan untuk memahami, mengoperasikan, menerapkan, dan pada tingkat tertinggi, merancang dan mengelola proyek-proyek grid computing skala enterprise.

Program pelatihan grid computing ini menyasar tiga segmen pekerja TI, yang meliputi mahasiswa, administrator dan arsitek. Pada tingkat tertinggi, para profesional TI yang berpengalaman dapat memperoleh sertifikasi sebagai Enterprise Grid Computing Architect yang dikeluarkan Institute of System Sciences (ISS). Sertifikasi ini memberikan pengakuan pada kapabilitas seorang profesional TI untuk merancang dan mengelola pembangunan lingkungan enterprise grid computing . Program sertifikasi ini menargetkan sekitar 60 profesional TI selama kurun waktu tiga tahun. Kurikulumnya sendiri dikembangkan oleh berbagai vendor TI terkemuka, antara lain Oracle, Sun Microsystem dan RedHat, serta ISS.

Kerjasama ini merupakan bagian dari inisiatif Enterprise-g @ Singapore, sebuah proyek pengembangan grid computing senilai 15,2 juta dolar AS yang diinisiasi kedua belah pihak pada Juli tahun lalu.

Untuk mendukung pembangun kompetensi SDM dalam bidang ini, Oracle dengan dukungan IDA serta beberapa vendor, seperti Sun Microsystem dan Dell, juga mendirikan Enterprise-g Center, yang merupakan center of excellence untuk grid computing pertama di Asia Pasifik.

Enterprise-g Center ini akan menjadi urat syaraf bagi segala aktivitas dalam inisiatif Enterprise-g @ Singapore. Lembaga ini akan menyediakan infrastruktur dan keahlian untuk konsultasi, pengembangan dan pengujian rancangan grid maupun ujicoba konsep bagi kalangan industri di kawasan Asia Pasifik. Enterprise-g center juga akan mengembangkan arsitektur referensi untuk memperluas pengadopsian grid computing di kalangan enterprise.

Upaya pengembangan kompetensi secara intens ini tak terlepas dari ambisi negeri pulau itu untuk menjadi hub utility computing di Asia, selain juga untuk menangkap peluang pasar global yang cukup besar. Menurut catatan IDC, pasar grid computing global akan mencapai nilai 12 miliar dolar pada tahun 2007 mendatang.

Singapura juga termasuk negara yang aktif mendorong penerapan grid computing untuk aplikasi industri. Tahun lalu, negeri itu menggelar proyek percontohan di salah satu lembaga milik pemerintah, yakni proyek Land Data Hub di otoritas pertanahan Singapura (SLA).

Dengan meng- grid enabled -kan Land Data Hub, SLA memberikan kemudahan bagi para perencana tata kota untuk menarik informasi mengenai jalur-jalur tenaga listrik, dan bahkan informasi mengenai posisi pohon-pohon di berbagai jalur hijau di Singapura, dari berbagai badan lain milik pemerintah.

Sejauh ini, pihak SLA mengakui telah merasakan manfaat dari infrastruktur grid computing , seperti kemudahan pengelolaan, tingkat ketersediaan layanan dan skalabilitas yang tinggi. ida/aa

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.