Reputasi EMI Group Plc., sebagai induk perusahaan rekaman dan label terkemuka, memang tidak diragukan. Grup yang menaungi perusahaan label rekaman, antara lain EMI Records, Capitol Records, Blue Note dan Virgin Records ini, sudah mengorbitkan ratusan musisi dan grup band kondang dunia, mulai dari generasi lama seperti The Beatles, Pink Floyd, Genesis, Garth Brooks, Wynton Marsalis, sampai generasi baru seperti Norah Jones, Pink, Jay-Z dan banyak lagi.
Perusahaan, yang berkedudukan di London , ini pun sudah merentangkan jaringan usahanya di puluhan negara. Di masing-masing negara, EMI juga memiliki perusahaan label rekamannya sendiri. Di samping itu, EMI mengelola sendiri sejumlah perusahaan manufaktur rekaman CD, meski belakangan ini bisnis tersebut dialihdayakan. Dengan jaringan bisnisnya yang luas, tahun 2004 lalu EMI Group sempat membukukan pendapatan kurang lebih 3,6 miliar dolar AS, dengan keuntungan operasional sebesar 424 juta dolar.
Layaknya perusahaan modern, EMI pun sudah memanfaatkan Internet, yang diposisikan sebagai channel pemasaran yang baru. Apalagi, ke depan, EMI memandang media dijital sebagai salah satu sumber pendapatan yang potensial, dengan menjamurnya situs-situs download musik dijital dan nilainya yang terus meningkat. Khusus untuk menangani Web channel ini, EMI membentuk departemen khusus bernama New Media Department , yang ada di masing-masing perusahaan label rekaman di bawah naungan EMI.
Secara historis, masing-masing perusahaan label, yang bernaung di bawah EMI, mengembangkan sendiri-sendiri aplikasi dan infrastruktur Web-nya. Masing-masing mengelola data dan aplikasinya sendiri dalam silo terpisah. Core content -nya pun dikelola sendiri, seperti biografi artis, diskografi dan informasi tur. Ujungnya, di bawah EMI ada ratusan situs yang dikelola terpisah, dan ditempatkan di delapan hosting provider berbeda. Bisa ditebak, pendekatan semacam ini semakin rumit dan mahal, seiring bertambahnya waktu dan konten. Apalagi, dari sisi skalabilitas dan kinerjanya, infrastruktur Web yang dimiliki EMI terbilang sudah mandeg .
Untuk menghadapi tantangan ke depan, manajemen puncak EMI Group akhirnya memutuskan menata ulang infrastruktur Web secara besar-besaran, dengan membangun arsitektur aplikasi yang fleksibel serta didukung infrastruktur perangkat keras yang lebih mumpuni. Salah satu langkah penting yang diambil EMI adalah keputusannya untuk mengintegrasikan berbagai aplikasi Web-nya dengan Web services , melalui penerapan service oriented architecture (SOA). Penerapan SOA ini merupakan bagian dari strategi Web-nya yang baru, untuk mengoneksikan para artis rekaman, manajer, rekanan bisnis, situs-situs penggemar dan konsumen langsung, sambil menghemat biaya dan mencari peluang pemasukan baru.
Menata infrastruktur Web
Fleksibilitas aplikasi yang diperoleh dari SOA memberikan hasil yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh perusahaan label musik, yang notabene adalah andalan bisnis EMI. Implementasi SOA telah mengubah infrastruktur Web-nya dari suatu liability yang tidak terkelola menjadi revenue-generator yang potensial.
“Inilah untuk pertama kalinya sebagai suatu organisasi, TI tak lagi dipandang sebagai bottleneck , tapi dapat bekerja sama dengan unit bisnis dalam membantu menyusun strategi,” ujar Seth Brady, director of application services, corporate and Web development , EMI Music North America. “TI, kini, dianggap sebagai suatu service group , yang siap dimanfaatkan oleh berbagai perusahaan label musik.”
Sebelumnya, departemen TI EMI tidak berperan dalam upaya pengembangan Web untuk perusahaan-perusahan label musik di bawah naungan EMI. Masing-masing label memiliki New Media Department , sebagian besar stafnya terdiri para marketing specialist , yang sekaligus bertugas menangani pengembangan situs Web. “Masing-masing perusahaan label mengerjakan sendiri segala sesuatunya, baik dalam pemilihan server, database dan platform application development untuk pengoperasian Web-nya,” jelas Brady. Beberapa memilih Windows, Internet Information Server (IIS) dan ASP .Net, sementara lainnya lebih menyukai Linux, server Apache dan Java Server Pages (JSP).
Layaknya situs industri hiburan, situs-situs ini memiliki tampilan memikat dan cool . Tapi, menurut Brady, dibalik keindahan itu, dari sisi TI justru berantakan. “Perusahaan label pun menjadi terpaku pada bentuk Web marketing yang sangat terbatas, karena teknologinya memang tidak bisa mendukung inisiatif baru,” jelas Brady.
Masing-masing perusahaan label musik membangun sendiri sistem Web content management untuk setiap situs artisnya. Tiap kali seorang artis merilis sebuah album, seluruh metadata yang berhubungan dengan album itu, berikut seluruh aset dijitalnya, harus masuk ke sistem itu. “Kami pun, akhirnya, menyadari bahwa kami sangat membutuhkan aplikasi pusat, yang bisa digunakan untuk mensindikasikan konten-konten seperti ini dari berbagai jenis situs Web yang kami kelola,” tutur Brady.
Selain itu, hampir setiap perusahaan label musik menempatkan situs-situs artis yang beragam itu ke dalam satu hosted server dan database . “Kami cukup banyak memiliki server Web dan database yang benar-benar zero scalability , dan masing-masing pasti memiliki satu single point of failure . Maksudnya, jika satu server Web down , 30 situs artis sekaligus langsung lumpuh,” ujar Brady.
Masalah ini tak luput dari perhatian manajemen EMI Group. Tahun 2002 lalu, grup perusahaan ini mulai melakukan restrukturisasi korporat. Salah satu keputusannya adalah menyatukan sumberdaya TI ke satu grup di Amerika Utara, yang dapat mendukung perusahaan-perusahaan label musik lainnya. Grup TI yang tersentralisasi ini langsung bekerja untuk mengatasi masalah Web. Ada dua sasaran yang hendak dicapai: membangun suatu arsitektur aplikasi yang bisa diperluas, dan mengonsolidasikan server Web dan database untuk membangun suatu infrastruktur yang lebih hemat biaya, fleksibel dan scalable .
Membangun interaktifitas
Januari 2004, Brady meluncurkan rencana “North American Web site consolidation project.” Proyek itu terbagi dalam dua fasa implementasi. Fasa 1 meliputi perbaikan aplikasi dan infrastruktur utama, yang berlangsung antara Mei sampai Nopember 2004. Sementara, fasa 2 meliputi perluasan Web services dan melanjutkan konsolidasi infrastruktur dari April sampai Desember 2005 mendatang.
Menurut Brady, Web service , yang di- enable -kan oleh SOA, agaknya merupakan pilihan alami, tidak saja untuk mengatasi duplikasi konten, tetapi juga memungkinkan peluang bisnis di masa depan.
“Web services memungkinkan kami menempatkan satu lapis pemisah antara data yang dikelola di back end dengan situs label dan artis kami,” ujarnya. “Tapi, dengan adanya mekanisme sindikasi konten ke luar, kami tidak lagi perlu memiliki situs Web sendiri. Kami dapat memaparkan sejumlah layanan ke situs penggemar, atau rekanan bisnis atau customer untuk mendapatkan pembaruan konten yang sama.”
Lebih lanjut, Brady mengambil contoh penerapan Web service untuk data tur musik. Dulu, perusahaan label rekaman menyimpan data tur musik di tujuh database . Kini, mereka menempatkan seluruh data yang terkait dengan tur itu ke dalam suatu aplikasi pusat. Data tur ini meliputi informasi publik, seperti tanggal dan tempat pertunjukan, dan rincian khusus seperti nomor penerbangan si artis dan pengaturan hotel tempat si artis menginap. “ Web service mengelola seluruh data berbasis event ini, dan memberikan informasi yang sesuai berdasarkan masing-masing username dan password situsnya,” jelas Brady lebih lanjut.
Misalnya seorang penggemar mengunjungi situs www.beastieboys.com dan mengklik tombol “Tour”, situs ini akan menghubungi Web service untuk menampilkan tanggal dan tempat pertunjukan. Web service berbasis ASP.Net ini akan memeriksa username dan password situs bersangkutan, mengenal dan mengotentikasikannya sebagai situs Web publik menggunakan Web Services Enhancement 2.0 buatan Microsoft, dan menyampaikan informasi tur yang sesuai untuk konsumsi publik.
Secara bersamaan, Web service itu juga dapat diakses dari aplikasi intranet, katakanlah dari Capital Records. Sesuai dengan username dan password intranet tersebut, Web service tidak saja menyajikan informasi tanggal dan tempat pertunjukan, melainkan juga informasi-informasi yang bukan untuk konsumsi publik, misalnya rencana perjalanan si artis.
Pada Fasa 2, perusahaan label musik akan memiliki opsi untuk bekerjasama dengan situs-situs penggemar tidak resmi, katakanlah www.beastiemania.com, untuk menyediakan informasi mengenai jadwal tur resmi. Dengan mengklik informasi lebih dalam mengenai tur tersebut, para fans akan digiring ke situs artis yang dikelola oleh perusahaan label sendiri. Dengan cara ini, EMI bisa menjaring calon customer e-commerce potensial untuk produk-produk CD maupun merchandise lainnya.
Tidak hanya itu. Pada Fasa 2 nanti, perusahaan label musik bisa mengirim langsung update mengenai tur ke para fans yang berlangganan Web service bernama “Stage Passes.” Karena Web service mendistribusikan data dalam bentuk XML, maka data tur itu tidak harus disampaikan melalui situs Web.
“Dengan SMS misalnya, kami dapat menggunakan layanan itu untuk mengirim pesan berisi informasi tur langsung ke ponsel para fans. Disinilah Web services mengubah model bisnis secara drastis dan memungkinkan kami, sebagai perusahaan, dapat berinteraksi langsung dengan para fans,” jelas Brady panjang lebar.
Saat ini, menurut Brady, EMI tengah menguji-coba kemampuan sistem untuk pengirim informasi terbaru mengenai tur dan informasi lainnya ke konsumen melalui ponsel ke 50.000 subscriber situs-situs EMI.
Nantinya, EMI juga berencana memasok aset dijital keluar ke para rekanan ekstranetnya, misalnya para peritel. Menurut Brady, sangat sulit bagi customer besarnya untuk mengunjungi situs-situs perusahaan label hanya untuk men download cover artwork guna ditempatkan di halaman situs customer- nya.
“Web services mempermudah kami mendorong aset dijital kami ke para customer dan memastikan bahwa kami mendapatkan penempatan dan tampilan lebih baik di situs Web mereka,” jelas Brady.
Di samping Web service untuk data tur, tim TI Brady juga mengembangkan layanan untuk menampilkan update berita, =milis email, dan meningkatkan konten situs dengan diskografi artis, informasi trek lagu dalam CD, serta cover art . Tujuannya untuk mengurangi biaya dalam pembuatan situs artis.
Menurut dia, perusahaan label tidak lagi harus membayar perusahaan desain situs untuk pembuatan kode-kode yang dibutuhkan untuk meng- update berita atau menambahkan alamat e-mail milik seorang fans ke dalam milis. Alih-alih, tim TI EMI akan menyediakan sejumlah baris kode untuk mengakses Web services ke para desainer Web.
“Data akan dipasok ke situs secara otomatis. Karena data tersebut datang dari sumber master yang kami kelola di back-end , kami dapat memastikan datanya akurat,” jelas Brady.
Untuk menyiapkan situs-situsnya agar siap mengakses Web services , tim TI Brady harus mengonversikan sekitar 40 situs Web yang dikembangkan dengan JSP ke ASP.Net. “Kami perlu memastikan bahwa kami bisa meng- host seluruh situs kami dan situs-situs itu bisa mengakses layanan secara dinamis dalam lingkungan yang aman,” tuturnya. Proses konversi ini, menurut dia, memakan waktu dua bulan.
Dalam mengerjakan proyek Web services ini EMI memang tidak sendirian. Mereka bekerjasama dengan Avenade Inc., suatu perusahaan sistem integrasi dan konsultan yang didirikan Microsoft dan Accenture, untuk membantunya membangun platform SOA. Tanpa membuang banyak waktu, Avanade segera bekerja menerapkan jalur-jalur SOA dan membangun Web services baru.
Tyson Hartman, director, .Net practice and technology, Avanade, menjelaskan bahwa untuk membangun implementasi SOA di EMI, pihaknya memanfaatkan suatu application development framework yang dinamakan ACA ( Avanade Connected Architecture ).NET.
ACA .Net merupakan suatu piranti arsitektural, terdiri dari services , kode-kode, best practices dan pola-pola, yang dibangun di atas framework Microsoft .Net untuk membuat pengembangan SOA mudah diterapkankan. Dalam versi terbarunya telah ditambahkan service generation framework dan aspect-oriented architecture .
“ Service generation framework inilah yang membuat kode-kode program untuk Web services plumbing -nya, sehingga EMI cukup fokus pada business logic -nya saja,” ujar Hartman.
Avanade ini juga membantu EMI dalam penataan infrastruktur hardware -nya, dimana EMI perlu mengonsolidasikan infrastrukturnya dari delapan hosting provider ke satu provider , yang bisa menyediakan fully managed service . EMI pun memilih Rackspace sebagai hosting provider -nya.
Future proof
Pada Fasa 1, EMI mengonsolidasikan sekitar 100 situsnya, yang di host di dua provider terbesar, dan memindahkannya ke infrastruktur Web baru di Rackspace. Tim TI EMI pun membangun dua buah Web farm IIS bersifat redundant , klaster database berbasis SQL 2000, server aplikasi berbasis .Net dan storage online berkapasitas 1 Terabyte untuk menyimpan aset-aset dijital. Jumlah servernya, menurut Brady, tetap 19 buah. Hanya saja, Rackspace menstandarkan server-servernya menggunakan server hi-end PowerEdge buatan Dell, yang menurut Brady memberikan peningkatan kinerja dan skalabilitas cukup signifikan ketimbang server lama.
Tahun ini, Brady dan tim TI EMI berencana memigrasikan situs-situs yang tersimpan di enam hosting provider ke Rackspace tanpa perlu menambah perangkat keras baru. “Bahkan, ke depan, kami akan mengurangi volume server sampai 40 persen setelah implementasi penuh selama dua tahun,” ujarnya.
Dari konsolidasi infrastrukturnya saja, EMI memperkirakan return of investment sekitar 30 sampai 40 persen dari biaya implementasi, dan proyek ini pun akan “kembali modal” dalam waktu tiga tahun, ujar Brady berharap. Sementara itu, dalam Fasa 1, proyek ini setidaknya akan mengurangi proses input data secara manual sampai 30 persen.
Selain itu, Brady dan tim TI EMI pun dapat bekerja dengan tenang, tanpa harus pusing dengan pengembangan di masa depan. Inisiatif SOA yang digelarnya akan membantu EMI menjadikan situs-situs EMI bersifat future proof , yang siap menghadapi apapun perubahan back-end yang terjadi di masa datang.
Para musisi dari aliran yang berbeda, seperti Garth Brooks dengan musik country -nya, Pink Floyd dengan nuansa art rock -nya serta Wynton Marsalis dengan permainan jazz trumpetnya yang piawai, boleh jadi sulit dipadukan dalam suatu jam session . Tapi, di tangan Web services dan SOA, jam session pun mengalir dalam harmoni yang indah.
grafis: gunawan
|