Kehadiran Kawasan Berikat Nusantara (Nusantara Bonded Zone) seperti sekarang ini, memang melalui proses kesejarahan yang panjang, yang secara resmi dibangun pada tahun 1986. Ini berangkat dari keinginan menjadikan Indonesia sebagai suatu negara yang sangat potensial dan dapat bersaing dengan negara-negara lain, khususnya dalam menarik investasi asing. Nah, salah satu daya tarik investasi itu adalah dengan pengembangan industri, baik itu industri yang berorientasi ekspor maupu dalam negeri.
Sedang, untuk industri yang berorientasi ekspor, sudah tentu kita harus memberikan kemudahan–kemudahan, sehingga dapat bersaing secara internasional. Secara konsepsional, kawasan industri berikat ini memang telah diterapkan di banyak negara. Sedang di Indonesia, KBN mencakup area di tiga lokasi, yakni di Cakung, Tanjung Priok dan Marunda, yang mulai dikembangkan sejak tahun 1999. Untuk Cakung dan Tanjung Priok, kini telah ada sekitar 130 investor yang menempati dan berinvestasi, sedang 34 perusahaan lainnya yang menyewa fasilitas pergudangan.
Ketiganya merupakan lahan-lahan yang sangat strategis, selain karena dekat dengan pelabuhan laut Tanjung Priok, juga dekat dengan Bandara Soekarno-Hatta, sehingga kehadirannya memiliki nilai tambah yang cukup baik.
Kawasan Berikat Nusantara (KBN) yang dikelola oleh PT. Kawasan Berikat Nusantara (Persero) dan didukung tiga Strategic Business Unit - SBU Cakung, SBU Tanjung Priok dan SBU Marunda. Kawasan Cakung, mencakup lahan seluas 176 hektar, yang diperuntukkan sebagai Export Processing Zone (EPZ), yang saat ini menaungi sekitar 125 investor. Jaraknya hanya sekitar 5 km dari Pelabuhan Tanjung Priok. Kawasan Tanjung Priok mencakup area seluas 9 hektar yang juga digunakan untuk Export Processing Zone dan berada di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok. Saat ini diisi oleh sepuluh investor, dimana enam di antaranya merupakan investor asing.
Sedang, Marunda, yang merupakan kawasan baru, mencakup area seluas total 414 hektar, lokasinya hanya berjarak sekitar 4 km dari pelabuhan Tanjung Priok. Kawasan ini diperuntukkan Export Processing Zone yang menyediakan berbagai fasilitas untuk industri kelas dunia, yang didukung oleh Pelabuhan Tanjung Priok. Ketiga area ini dapat ditempuh dalam waktu 15 menit dari Bandara Soekarno-Hatta.
Marunda sendiri, selain memiliki fasilitas yang moderen, nantinya juga akan dilengkapi fasilitas container handling , pergudangan dan freight forwarding , sehingga akan memberikan banyak kemudahan dalam pengelolaan bisnis bagi para investor.
Kawasan berikat sangat cocok bagi investor yang produk-produknya diperuntukkan ekspor, meski sebagian bahan bakunya dapat diperoleh di lokal. Ada juga juga yang assembly -nya di KBN, sedang bahan baku atau setengah jadinya sudah diproduksi di negara lain, sedang produk jadinya keluar dari KBN. Kawasan ini memberikan keuntungan, baik bagi Indonesia, maupun investor, meski mereka tak dikenakan bea (bebas bea).
Dengan kehadiran investor di KBN, maka dampak investasi, kebutuhan tenaga kerja, pengelolaan transportasi, dan lain sebagainya akan berkembang. KBN, sebagai otoritas yang dipercayakan oleh pemerintah, memberikan suatu solusi satu atap, baik yang terkait dengan dokumen maupun perizinan, serta lahan dan bangunan pabrik, yang intinya memberikan kemudahan bagi kalangan investor. Saat ini, KBN dimiliki 11,26% oleh Pemda DKI sedang 88,74% oleh Pemerintah Pusat.
Sepanjang produknya untuk kepentingan ekspor, investor tak dikenakan, misalnya pajak impor bahan baku atau ekspor/impor, sedang kalau dipasarkan di dalam negeri, baru akan dikenakan pajak. Selain itu, KBN juga menyediakan berbagai fasilitas, seperti bangunan pabrik ( Standard Factory Building ) dan fasilitas lainnya. Dan, tentu, infrastruktur bagi kemudahan suatu industri serta pendukung lainnya, seperti fasilitas kesehatan, perbankan, utilitas, dan keamanan.
Sebagian besar investor yang saat ini ada di KBN berasal dari Korea dan Taiwan dan sebagian besar bergerak dalam industri garmen. Ketika masa-masa booming pada 2001, nilai ekspor dari KBN mencapai 1,2 miliar dollar. Sedang jumlah karyawan yang terserap mencapai hingga 120 ribu orang, belum lagi dampak ikutan lainnya.
Namun, setelah mengalami krisis moneter yang panjang, nilainya menjadi hanya setengahnya, yakni sekitar 663 juta dolar (2003). Ke depan, kami optimis, apalagi dengan dikembangkannya kawasan Marunda yang memiliki fasilitas moderen, dan nilainya akan meningkat kembali, bahkan mungkin lebih tinggi dari pencapaian tahun 2001 itu. Meski, pada saat yang sama, persaingan dengan negara-negara lain yang juga menyediakan fasilitas yang lebih menarik kepada para investor.
Nantinya, di Marunda, selain akan dikembangkan oil-based industries, seperti pengolahan CPO dan industri ikutan lainnya, juga akan dikembangkan industri teknologi informasi (TI) melalui pengembangan Industrial Science Park yang akan menempati tambahan lahan seluas 100 hektar.
foto: rika
|