Volume III No 28 - Juli 2005

Cina

Bangun Puluhan Pabrik Chip Baru

Cina akan membangun sekitar duapuluh pabrik chip baru antara tahun 2005 sampai akhir 2008 mendatang. Langkah ini diperkirakan akan berdampak bagus bagi para produsen perangkat manufaktur semikonduktor. Tapi, di sisi lain, para produsen chip khawatir langkah Cina ini akan membuat industri semikonduktor kelebihan pasokan.

Menurut laporan Semiconductor Equipment and Materials Institute (SEMI), asosiasi dagang perangkat manufaktur semikonduktor dan flat-panel display , dengan dibangunnya puluhan pabrik baru itu, membuat output produksi chip buatan Cina lebih cepat ketimbang negara-negara lain.

Saat ini saja, di negeri tirai bambu itu sudah bercokol kurang lebih 35 pemanufaktur semikonduktor dan fasilitas fabrikasi wafer , baik perusahaan domestik, multinasional maupun patungan. Menurut SEMI, kebanyakan pabrik baru ini akan dimiliki, atau sebagian dikendalikan, oleh perusahaan-perusahaan Taiwan maupun negara-negara barat.

Selain itu, pabrik-pabrik chip Cina ini nantinya akan memiliki fasilitas yang lebih modern. Selama ini, menurut SEMI, fasilitas pembuatan chip di Cina masih memanfaatkan proses manufaktur lebih tua dibandingkan dengan yang dipraktikkan di AS, Eropa dan Taiwan . Hal ini disebabkan adanya larangan impor peralatan manufaktur. Sekalipun Cina termasuk eksportir utama perangkat elektronik dan PC, namun komponen semikonduktornya kebanyakan masih impor.

Menurut laporan SEMI, saat ini perusahaan-perusahaan Cina tengah melobi pemerintah untuk mengizinkan investasi peralatan-peralatan manufaktur yang sanggup membuat chip 90-nanometer di atas wafer berukuran 300-milimeter. Ini merupakan kabar bagus bagi para produsen peralatan manufaktur semikonduktor, seperti Applied Materials, Nikon dan Novellus. Pasalnya, perusahaan-perusahaan semikonduktor mapan yang menjadi langganannya, seperti Intel, telah memperpanjang program daur ulang peralatan manufakturnya untuk menghemat biaya.

Pada tahun 2004, penjualan peralatan manufaktur semikonduktor baru ke Cina mencapai 2,73 miliar dolar AS, sementara penjualanperalatan manufaktur yang direkondisi diperkirakan mencapai 180 juta dolar AS. Sampai akhir tahun 2004, kapasitas terpasang untuk pemrosesan silikon di Cina mencapai 106 juta inci persegi per tahun.

Namun, ekspansi pabrik-pabrik Cina ini menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya kelebihan pasokan chip dunia. Morris Chang, pendiri Taiwan Semiconductor Manufacturing Corp., tahun 2003 lalu sempat memprediksi produksi chip Cina akan menyebabkan kelebihan pasokan semikonduktor di tahun 2005, tapi sejauh ini kekhawatiran itu belum terbukti.

Menurut catatan In-Stat/MDR, pendapatan industri semikonduktor dunia tahun ini diperkirakan turun 5,7 persen menjadi 199,3 miliar dolar AS. Sementara tahun 2004 lalu industri semikonduktor membukukan rekor pertumbuhan sebesar 27 persen dengan memperoleh pendapatan sebesar 211,4 miliar dolar AS. cn/aa

INDIA

Kekurangan Tenaga Kerja TI

India menghadapi masalah kekurangan tenaga kerja berkemampuan bahasa-bahasa Eropa (non-Inggris) selama lima tahun mendatang. Hal ini diperlihatkan dengan dibukanya rekrutmen tenaga kerja asing sebesar 120.000 untuk menutupi kekurangan tersebut.

Defisit SDM yang mampu berbahasa asing ini diungkap dalam sebuah laporan yang dilansir perusahaan riset Evalueserve. Meningkatnya permintaan layanan offshoring dari Eropa menyebabkan industri jasa TI India kekurangan sekitar 120.000 tenaga kerja yang memiliki spesialisasi bahasa-bahasa Eropa di luar Inggris. Sementara, perusahaan ini menghitung jumlah SDM India yang memiliki kemampuan seperti itu tak lebih dari 40.000 orang.

Untuk mengisi kekurangan tersebut, menurut Evalueserve bakal banyak kalangan industri TI dan business process outsourcing (BPO) India yang harus merekrut tenaga kerja asing dari daratan Eropa untuk melakukan pekerjaan seperti pengumpulan informasi, menangani dokumen-dokumen berbahasa non-Inggris, layanan berbasis voice dan proses-proses transaksi.

Menurut Evaluaserve, meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dengan skill bahasa asing non-Inggris ini merupakan dampak dari upaya perusahaan-perusahaan offshoring India untuk menangkap peluang pasar outsourcing Eropa daratan. Selain itu, upaya ini ditempuh sekaligus untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap pasar Inggris dan Amerika Serikat. Seperti diketahui, lebih dari 80 persen order offshoring India berasal dari kedua negara itu.

Untuk menarik minat para pekerja asing, kalangan perusahaan offshoring India menawarkan paket kompensasi yang menarik, kata studi itu. Adapun yang dicari adalah para pekerja yang bergelar teknik maupun bisnis, serta memiliki skill bahasa Belanda, Perancis, Jerman, Italia, Spanyol atau Rusia.

Tapi, di sisi lain, bukan berarti tenaga kerja berbahasa Inggris tersedia secara melimpah, meski diakui bahasa Inggris sudah menjadi semacam bahasa kedua bagi warga India. Pada suatu kesempatan di sebuah konferensi bisnis offshoring di New Delhi beberapa waktu lalu, seorang eksekutif perusahaan business process outsourcing India, Dan Sandhu mengingatkan bahwa dari sekitar dua juta lulusan universitas India yang sanggup berbahasa Inggris, hanya sebagian kecil yang benar-benar sesuai untuk pekerjaan menghadapi pelanggan di perusahaan-perusahaan offshoring . zdi/aa

MALAYSIA

Pasar Jasa TI Malaysia Menjanjikan

Meski menghadapi persaingan yang ketat, seperti perang harga dan semakin berkurangnya life-cycle teknologi-teknologi terbaru, pasar jasa TI Malaysia tetap menjanjikan pertumbuhan yang tinggi.

Menurut laporan IDC, akibat stagnasi pasar, perusahaan-perusahaan jasa TI di Malaysia mendapat tekanan untuk bergeser dari pola system integration (SI), yang mendapatkan pemasukan berbasis jumlah man-month , ke model layanan yang mendapatkan kompensasi berbasis nilai ( value-based ) dan memperluas marjin keuntungannya dalam lingkungan TI yang dinamis.

Katherine Chan, analyst, Services Research, IDC Malaysia , mengatakan bahwa di pasar SI Malaysia, permintaan aplikasi enterprise, baik dalam bentuk paket atau yang sudah dikustomisasi, akan tetap tumbuh dua dijit dengan pertumbuhan tahunan sekitar 11,6 persen.

Menurut dia, selain didorong munculnya teknologi-teknologi dan delivery model baru, peluang pertumbuhan pasar juga bakal muncul dari aplikasi implementasi RFID ( Radio Frequency Identification ), aplikasi virtualisasi dan aplikasi-aplikasi lainnya. “Selain itu, network consulting dan network integration akan terus mendorong pertumbuhan pasar ini, khususnya ketika konsep ubiquitous computing mulai melekat di komunitas pengguna,” ujarnya.

Berdasarkan riset IDC, pasar jasa TI Malaysia tahun 2004 mencapai 801,81 juta dolar, atau tumbuh 29 persen dibanding tahun 2003.

Dari jumlah itu, pasar konsultasi dan integrasi sistem TI merupakan pangsa pasar jasa TI tertinggi dengan pangsa 42 persen, diikuti pasar support dan training TI sebesar 33 persen dan alihdaya 25 persen. “Didorong dengan kuatnya permintaan jasa alihdaya, pasar jasa TI Malaysia diperkirakan akan tumbuh 16,3 persen dalam kurun waktu 2004-2009,” kata IDC.

Menurut IDC, dalam jangka panjang, proyek-proyek alihdaya akan meningkat. Pada saat yang sama, perusahaan-perusahaan juga akan semakin banyak memanfaatkan alihdaya untuk merasionalisasikan investasi TI-nya, misalnya dengan memanfaatkan sistem sharing , menggunakan jasa application service provider (ASP), pengalihdayaan manajemen pengoperasian infrastruktur sistem, dan seterusnya.

Di segmen IT deployment and support , pertumbuhan perawatan perangkat keras dan piranti lunak akan semakin berkurang. Menurut IDC, perusahaan-perusahaan akan semakin banyak yang menoleh ke para value-added service provider . Tawaran layanannya lebih dinamis dengan mengambil alih tanggung jawab maintenance menggunakan model managed service , bukan pola tradisional seperti model annual maintenance service . Aa

SINGAPURA

RFID Diuji Coba di Kalangan UKM

Untuk mendorong penerapan radio frequency identification (RFID) di kalangan perusahaan kecil dan menengah, Singapura akan menggelar proyek percontohan RFID yang melibatkan para pemasok supermarket lokal.

Inisiatif yang digelar EPCglobal Singapura dan Spring Singapore (badan milik pemerintah Singapura yang menangani masalah standar industri), nantinya, akan membantu 20 pemasok teratas jaringan supermarket terbesar di Singapura, NTUC Fairprice, untuk membangun sistem inventori berbasiskan teknologi RFID. Rencananya, proyek ini akan dimulai September mendatang, dan akan berlangsung selama 9 bulan.

Karena keterbatasan dana yang dimiliki kalangan UKM, Spring Singapore akan menanggung 50 persen biaya untuk membangun masing-masing infrastruktur RFID. Menurut Tan Jin Soon, direktur eksekutif EPCglobal Singapore , biaya ini akan diambil dari sumber dana Domestic Sector Productivity Fund, yang jumlahnya sekitar 27 juta dolar AS.

Menurut Tan, harga peralatan RFID seperti tag reader dan gantry diperkirakan sekitar 48 ribu dolar AS. Sementara, untuk pengadaan sistem inventori back-end -nya sendiri akan menghabiskan biaya sekitar 54 ribu dolar AS.

Tan menambahkan bahwa Spring Singapore akan melibatkan sejumlah penyedia solusi RFID, yang akan membangun infrastruktur RFID untuk masing-masing pemasok di dalam proyek percontohan ini. Menurut dia, dengan melakukan pendekatan secara bersama-sama, para pemasok akan memiliki kekuatan tawar menawar yang lebih baik untuk mendapatkan harga peralatan RFID yang lebih murah.

Namun, menurut Tan, yang terpenting proyek percontohan bisa menjadi semacam showcase penggelaran RFID di kalangan UKM, yang pada akhirnya juga akan mendorong penerapan lebih luas di perusahan-perusahaan lainnya.

Susan Chong, direktur divisi standarisasi Spring Singapore , mengatakan bahwa proyek percontohan ini tak hanya sekedar menempelkan label RFID pada stok barang, melainkan juga memperkenalkan proses kerja baru di kalangan UKM, sehingga mereka siap mengotomasi dan merampingkan proses logistiknya.

Loh Khum Yean, chief executive, Spring Singapore , mengatakan bahwa penerapan electronic product code (EPC), yang tersimpan di dalam chip RFID, juga akan membantu memecahkan masalah yang lazim dihadapi pemilik toko maupun gudang, seperti out-of-stock dan penciutan jumlah barang. “RFID juga akan membantu memastikan pelanggan bisa membeli barang-barang kebutuhannya, kapan pun mereka butuhkan.”

Sementara itu, NTUC Fairprice, yang memiliki lebih dari 100 supermarket berharap pihaknya dapat memetik banyak manfaat dari proyek percontohan ini. Menurut Dickson Yeo, asisten general manager, warehousing and logistics, NTUC , dengan penerapan RFID, arus barang akan lebih cepat. “Pekerjaan-pekerjaan di gudang pun akan berubah secara revolusioner,” ujarnya.

Yeo mencontohkan, para pekerja gudang NTUC nantinya bisa mencari dus-dus stok barang yang sudah diberi label RFID dengan cepat sebelum mengirimkannya ke toko-toko tertentu. Di masa lalu, menurut Yeo, pihaknya membutuhkan waktu cukup lama untuk mencari stok barang di gudang.

Setelah mencapai toko tujuan, stok barang itu dilewatkan melalui gerbang yang terpasang RFID reader . Menurut Yeo, proses ini memungkinkan pihak supermarket dapat memastikan bahwa stok barang yang diterimanya pas, sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya pencurian. Di sisi lain, Yeo menjelaskan bahwa teknologi ini juga akan membantu pihak supermarket mengetahui dengan cepat tanggal kadaluarsa barang-barang yang dijualnya dengan cukup membaca informasi yang tersimpan dalam label RFID. zda/aa

THAILAND

Perusahaan Distribusi Listrik Menawarkan Solusi GIS

Suatu aplikasi yang tadinya dikembangkan khusus dan digunakan selama bertahun-tahun oleh sebuah perusahaan, ternyata dapat dijadikan peluang bisnis baru. Hal itu dipraktikkan oleh perusahaan distribusi listrik kota Bangkok, Metropolitan Electricity Authority (MEA), dengan menawarkan solusi geographic information system (GIS) berbasis web ke sektor publik maupun swasta Thailand.

Bekerja sama dengan ESRI (Thailand), MEA akan membentuk perusahaan patungan khusus untuk memasarkan solusi GIS di masa depan.

Menurut gubernur MEA, Chalit Ruengvisesh, pihaknya sudah cukup lama menjalin kerjasama dengan ESRI untuk membangun solusi-solusi GIS yang digunakan MEA.

“Kami sudah mengucurkan investasi sebesar 1,5 miliar baht (sekitar 37,5 juta dolar AS) selama 10 tahun kepada ESRI guna mengembangkan solusi-solusi GIS untuk kami. Kami percaya informasi ruang lahan yang kami merupakan yang paling rinci saat ini,” ujar Ruengvisesh, sebagaimana dikutip dari harian Bangkok Post.

Menurut dia, informasi lahan MEA memiliki rasio 1:1.000, yang mencakup wilayah seluas 3.200 kilometer persegi di Bangkok, Nonthaburi dan Samut Prakan. Ketimbang peta dijital pada umumnya yang memiliki skala 1:4.000, skala peta dijital yang dimiliki MEA memang lebih kecil, sehingga dapat menyediakan rincian untuk masing-masing rumah yang ada di wilayah kerjanya. Informasi lahan milik MEA ini juga memuat rincian mengenai jalan, landmark, hidrologi, jalur listrik dan lokasi meteran listrik.

Informasi tersebut selama ini dimanfaatkan oleh call center MEA untuk menyediakan layanan kepada umum ketika terjadi keluhan listrik padam, maupun untuk menyediakan informasi kepada petugas MEA untuk memeriksa daerah cakupan layanannya.

“Kami memiliki informasi yang bisa kami sediakan secara komersial. Kerjasama dengan ESRI ini memungkinkan kami memperluas layanan kami ke sektor publik maupun swasta,” ujar Ruengvisesh.

Sementara ESRI sendiri memiliki pengalaman dalam membangun solusi GIS dan peta dijital Thailand. Perusahaan ini memiliki peta dijital 1:4.000 dari 120 distrik di Thailand dan peta dijital 1:20.000 yang mencakup seluruh negara itu.

Krairop Luanguthai, general manager ESRI , mengatakan ketika peta digital daratan dari kedua perusahaan digabungkan, mereka sanggup menyediakan langsung solusi GIS yang lengkap, baik untuk sektor publik maupun swasta. “Kami akan menyediakan kustomisasi dan mengembangkan aplikasi lebih lanjut sesuai kebutuhan calon customer,” ujar Luanguthai.

Solusi ini, menurut dia, akan dikemas dalam bentuk solusi GIS berbasis web maupun sebagai hosted services. MEA dan ESRI sudah melakukan penawaran solusi GIS-nya ke beberapa BUMN Thailand, antara lain Bangkok Metropolitan Administration dan Metropolitan Waterworks Authority. Sementara calon customer potensial lainnya meliputi perusahaan-perusahaan call center , penyedia logistik, layanan kurir dan operator taksi. bp/aa

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.