Volume III No 28 - Juli 2005
 

 

Bob J. Onggo
iPod Advertising

 

 

Siapa sangka penjualan Sony Walkman mengalami masa booming dalam dekade lalu? Begitu pula, Anda tidak pernah menyangka kalau iPOD, pemutar musik digital portable, kini sudah akan dijadikan kendaraan advertising, yang mungkin saja akan mengalami booming ?

Pada waktu Sony meluncurkan Walkman pertamanya, banyak orang menyindir, mengingat siapa yang mau mendengarkan musik sambil jalan atau berlari (jogging). Namun, dengan booming -nya penjualan walkman pada waktu itu, maka tidak heran banyak vendor yang juga membuat walkman agar mereka juga dapat menikmati uang dari penjualan walkman (sales pie chart dari walkman ).

Tetapi, kali ini saya ingin ajak Anda bukan untuk membicarakan tentang walkman , karena walkman belum pernah menjadi kendaraan advertising, tetapi hanya sebagai obyek advertising.

Bukan Sony atau vendor lain yang akan menjadi bahan pergunjingan seputar industri podcasting advertising , tetapi Apple, Inc. yang telah berhasil mengembangkan iPod. Walaupun di pasar terdapat merek lain, namun dominasi penjualan iPod sedemikian spektakuler dan di luar dugaan dari para analis pemasaran. Untuk kategori perangkat musik portabel, lebih dari 80% pangsa pasar dimiliki iPod. Itulah sebabnya merek iPod telah disinonimkan dengan pemutar musik digital portabel dan telah menciptakan pasar untuk demografi tertentu.

Mengapa di luar dugaan? Keharuman Apple, yang sempat turun dan dikalahkan IBM, diluar perhitungan meningkat pesat ketika Apple, Inc meluncurkan iPod perdananya.

APA ITU PODVERTISING?

Sebelum membicarakan podvertising , sebagai seorang marketing, Anda tertantang dengan kehadiran kendaraan advertising jenis baru yang disebut “ podcasting ”. Dapatkah BMWfilms.com dijadikan konten dari podcasting (berasal dari kata iPod dan Broadcasting )?

Konten musik digital yang di- download atau di- broadcast lewat radio disebut podcasting . Podcasting ini merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari Podvertising. Apalagi, hal ini terlihat dari semakin meningkatnya podcast program online , seperti PodCastalley.com maupun berbagai program radio yang sudah menyiarkan konten digital berbasis WMA atau MP3.

Dalam kurun waktu dua tahun belakangan ini, boleh dikata podvertising telah menjadi sebuah fenomena advertising yang menggunakan podcasting, yang dapat dimainkan oleh pemutar musik digital online .

Para pemakai gadget, pemutar musik digital portable , dapat dijadikan target advertising promosi Anda, baik Anda seorang advertiser maupun praktisi PR di era digital ini. Di sisi lain, berkat munculnya content audio online yang disebut podcasting ini , maka para praktisi advertising dapat menjangkau mereka dengan metode “ podvertising .”

Dengan podcasting , program audio dapat dibuat hanya dengan menggunakan komputer yang telah dilengkapi dengan mikrofon. Lalu didistribusikan ke para pelanggan lewat RSS Feed. Karena itu, segera setelah episode terbaru diluncurkan, maka otomatis diterima oleh pelanggan yang menggunakan PC atau Mac, dan secara otomatis pula disinkronisasikan ke iPod Anda atau pemutar musik digital portable lainnya.

Setelah Anda sign up di suatu web dan men download software gratis yang diberikan, Anda akan mendapatkan paket audio content terakhir setiap kali Anda melakukan sinkronisasi komputer dengan iPod atau pemutar MP3 lainnya.

MENGAPA PODVERTISING?

Mengingat, sejak setahun lalu, popularitas podcasting meledak, sehingga ribuan show disiarkan ke seluruh penjuru dunia lewat podcasting , maka para advertisers meliriknya sebagai media pengiklan.

Karena itu , konten iPod sekarang ini telah dieksploitasi sebagai kendaraan advertising dan juga branding . Lihat saja, bagaimana Warner Brothers, setelah mereka menerobos inisiatif pemasaran lewat blogosphere (dunia blogs), Warner Brothers mulai memberikan sponsorship via podcasting untuk Eric Rice Show ( http://show.ericrice.com ) dan menyediakan content audio eksklusif dari salah satu band milik Erick.

Juga, Virgin Radio dan BBC dari London menayangkan berbagai program radio dan musik lewat content podcasting yang disiarkan lewat pemutar musik digital portabel.

Contoh lain, coba lihat Heineken Music ( www.heinekenmusic.com ) juga terjun lewat kampanye podvertising dengan mensponsori wawancara eksklusif selebriti.

Di sisi lain, data dan fakta pendukung lain yang menunjukkan bahwa podvertising akan menjadi tren baru dan media baru kendaraan advertising, terlihat dari laporan Merrill Lynch baru-baru ini yang menyatakan bahwa, diadopsinya iPod telah melebihi jumlah walkman Sony di era tahun 80-an dalam waktu hanya satu kuartal. Sang Apple sendiri, dalam satu kuartal, dapat menjual lebih dari dua juta iPod.

Hal menarik lainnya, kalau Anda cek di Google, kata “ podcasting ”, dalam tempo dua bulan saja melonjak hingga 1000%, yakni dari hasil pencarian sebanyak 5950 halaman di awal Oktober hingga lebih dari 500.000 halaman dari hasil pencarian di akhir Desember 2004. Hingga awal April 2005 muncul sebanyak 2.810.000 halaman web yang berisi info seputar podcasting .

Tren podvertising ini menarik, terutama karena sifatnya yang bebas dari intrusive, sehingga objek audiens pendengar tidak akan skipping over dari yang sedang didengarkannya, sama seperti model permission marketing (istilah pemasaran yang dicetuskan oleh si plontos, Seth Godin).

Podvertising adalah renaissance dari radio streaming yang sempat mati suri atau kurang bergairah. Podvertising membuka suatu dimensi pasar baru bagi industri yang menyediakan layanan messaging yang dapat di download ( on-hold messages ) dan pesan-pesan iklan komersial lewat suara ( ad voice-overs ).

Sekali lagi, kita kini tengah berada di fase awal dari suatu revolusi media, yakni lahirnya suatu media komunikasi broadcast yang baru. Menariknya, ini semua dimotori oleh media Internet, sebagai media yang menyulut berbagai perubahan dan dimensi baru pemasaran dalam satu dekade belakangan ini. Ya, suatu teknologi media yang terus mengubah masyarakat dengan berbagai cara yang sulit diprediksi beberapa tahun yang lalu.

IKLAN LEWAT PODVERTISING

Saat tulisan kolom ini saya buat, belum ada pemain di Indonesia yang memanfaatkan advertising lewat konten untuk diputar oleh pemutar musik digital, kecuali pemain dalam industry content musik atau ringtone untuk ponsel.

Namun, kalau Anda sudah mulai ingin menggunakan podvertising , sebagai salah satu media untuk menjangkau audiens Anda, pastikan pesan-pesan komersial Anda menjangkau audiens yang targeted dan menyuguhkan sesuatu yang berbeda, sehingga audiens Anda tidak melewati ( skip over ) tayangan audio commercial messages Anda.

Ada beberapa pertimbangan bagi Anda untuk menjalankan podvertising . Anda bisa menggunakan metode Audio Spots , hanya masalahnya jenis ini adalah content audio yang disisipkan sebagai suatu jeda, seperti halnya pariwara dalam promosi lewat broadcast promo radio tradisional. Akibatnya, si pendengar akan melakukan skip over .

Paling tidak, untuk metode sponsorship , adalah salah satu model podvertising yang lebih berterima, mengingat iklan dari perusahaan yang memberikan sponsor akan menjadi bagian yang integral dari tema konten nya, seperti contoh sponsorship yang dilakukan oleh berbagai vendor besar yang disebutkan di atas.

RSS Podvertising , juga pantas diperhitungkan. Hanya saja hal ini mengisyaratkan si pendengar musik digital harus berlanggan lewat RSS Feed yang mendukung podcasting. Pastilah para marketer dan audio publisher akan melakukan penayangan iklan teks singkat dalam bentuk interstitial di RSS feed dari program podcast, seperti yang Anda temui di blog feed .

Apa yang saya utarakan di atas hanyalah beberapa model iklan lewat iPod. Masih banyak contoh yang dapat dikembangkan secara kreatif. Seperti halnya BMWFilms.com merevolusi iklan online . Para marketer, PR dan advertiser di tanah air juga ditantang untuk memanfaatkan tren yang satu ini, yaitu podvertising .

Yang jelas, ada yang berhasil dan ada yang gagal. Satu Kunci yang perlu diperhatikan, yaitu lakukan investigasi analisis produk dan karakter konsumen Anda dan siap dengan trial-error, mengingat podcasting adalah media yang sudah pasti akan digandrungi.

Bob Julius Onggo • Praktisi & Konsultan Pemasaran Online (profilnya bisa dilihat di www.bjoconsulting.com)

Foto: dok. ebizzasia

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.