Mungkin, Anda belum sepenuhnya lupa dengan ASP ( Application Service Provider ). Model penghantaran ( delivery ) piranti lunak yang beberapa tahun lalu disebut-sebut sebagai transisi revolusioner bagi industri piranti lunak. Sayang, pamornya memudar seiring mengempisnya gelembung dot-com , yang sempat menghebohkan dunia beberapa tahun lalu.
Namun, kini, pergeseran pasar yang bersifat evolusioner tengah terjadi. Piranti lunak, yang umumnya dipandang sebagai suatu produk paket, kini semakin jamak digelar sebagai suatu layanan. Konsep model penggelaran piranti lunak itu dikenal sebagai Software-as-a-Services (SaaS).
Kalau Anda termasuk orang yang ragu, yang menganggap SaaS sebagai just another IT hype , mungkin Anda juga tidak terlalu salah. Pernyataan para pendukung model ini, rata-rata para early player model bisnis SaaS. Mereka mengklaim bahwa era baru layanan TI kini tengah menyongsong, yang mungkin mengingatkan Anda pada berbagai hype yang muncul sebelumnya.
Simak saja pernyataan Greg Gianforte, CEO RightNow Technologies , sebuah perusahaan pengembang dan penyedia hosting piranti lunak CRM, yang mengatakan bahwa para market leader dalam bisnis piranti lunak enterprise akan dilupakan orang (dengan munculnya model SaaS).
Sementara itu, Phil Robinson, senior vice president global marketing Salesforce.com, salah satu perusahaan penyedia SaaS yang sukses, mengungkapkan keyakinannya bahwa dunia TI kini tengah mengalami transisi dari era “client-server computing” menuju “on-demand computing”. “Dalam tiga sampai lima tahun ke depan, seluruh aplikasi akan digelar dengan cara ini,” ujarnya, sebagaimana dikutip CFO IT (6/2005).
“Cara” yang dimaksud Robinson adalah, customer tidak lagi membeli piranti lunak untuk dijalankan di komputernya masing-masing. Alih-alih, mereka cukup menyewa piranti lunak yang diinginkan dan mengaksesnya melalui Internet, tanpa harus dipusingkan bagaimana mengelolanya. Untuk itu, mereka cukup membayar biaya bulanan, yang biasanya dipatok flat . Sebagian besar orang mungkin sudah terbiasa dengan konsep seperti itu, misalnya ketika berlangganan Internet broadband.
Bahkan, menurut Tom Kucharvy, analis dari Summit Strategies , tak tertutup kemungkinan SaaS ini dapat dimanfaatkan dengan model pricing pay-per-use atau utility model (konsepnya mirip langganan listrik, Anda cukup membayar sesuai KWh yang Anda gunakan). Atau, model pricing berdasarkan ukuran-ukuran bisnis, seperti berdasarkan jumlah transaksi e-commerce yang sudah diselesaikan.
Sementara itu, jika Anda buru-buru mencap SaaS bakal turun pamor atau sebagai tren sesaat, mungkin Anda harus meninjau ulang pendapat itu. Dari segi pertumbuhan pasar, seperti diungkapkan sejumlah perusahaan riset pasar TI, permintaan akan model SaaS mengalami peningkatan cukup signifikan.
Diungkapkan IDC belum lama ini misalnya, belanja SaaS dunia tahun lalu mencapai 4,2 miliar dolar AS. Nilai itu meningkat 39 persen dibanding tahun 2003. IDC pun yakin, belanja SaaS akan terus meningkat selama lima tahun ke depan, dengan CAGR 21 persen, mencapai 10,7 miliar dolar AS pada 2009.
Perusahaan riset pasar TI lainnya, Gartner, memrediksikan bahwa pada 2006, sekitar 15 persen penggelaran aplikasi baru akan menggunakan model software-as-a-service . Pada 2010, sekitar 30 persen dari piranti lunak baru akan digelar sebagai sebuah model layanan.
Mengapa SaaS Semakin Populer?
Meningkatnya popularitas model SaaS di kalangan perusahaan, menurut pendapat K.B. Chandrasekhar, seorang praktisi TI India , yang memegang berbagai jabatan puncak di perusahaan TI India maupun AS, tak terlepas dari adanya pergeseran sikap perusahaan-perusahaan sejak akhir tahun 90-an. Dulu, katanya, ada keraguan di kalangan perusahaan, antara adanya ketakutan untuk menjadi early adopter dan pemikiran bahwa organisasi TI internal dapat menggelar sendiri software-software yang digunakan perusahaan.
Namun, sikap itu berubah, akibat berubahnya tantangan ekonomi maupun bisnis. Investasi TI di masa lalu yang ternyata kurang bermanfaat atau bahkan tidak berfungsi sama sekali, kesulitan ekonomi makro serta tekanan terhadap organisasi TI perusahaan untuk memberikan value bagi perusahaan.
Menurut Chandrasekhar, di akhir dekade 90-an, para perusahaan penyedia SaaS menawarkan marjin yang begitu tipis, sehingga boleh dikata hampir tidak menawarkan penghematan yang signifikan ketimbang implementasi piranti lunak secara tradisional. Sementara di sisi perusahaan atau pengguna, mereka kelebihan duit.
Namun, permainan berubah. Para penyedia SaaS kini memiliki eficiency-of-scale dalam menggelar SaaS berkat digunakannya solusi-solusi on-demand delivery dan manajemen software yang lebih baik. “Ini menyebabkan harga yang ditawarkan penyedia SaaS menjadi lebih atraktif,” imbuh Chandrasekhar.
Di sisi lain, perusahaan pun mengalami kesulitan secara ekonomi, yang memaksa para CIO atau pengelola organisasi TI untuk do more with less dan fokus untuk memberikan value yang lebih nyata ke perusahaan.
Para CIO kini tidak lagi ingin menghabiskan waktu dan dananya untuk memasang dan mengelola aplikasi yang tidak mendiferensiasikan bisnis, atau memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan. “Mereka hanya ingin menyediakan fungsionalitas yang dibutuhkan untuk menjalankan perusahaan dengan jumlah resource yang dibutuhkan sekecil mungkin,” jelasnya.
Dari segi security , selama ini SaaS selalu menyediakan metoda hantaran yang aman. Disamping itu, menurut Chandrasekhar, ada dua faktor yang berperan membuat alternatif SaaS kini semakin diterima (dari konteks security ). Pertama, menurut dia, banyak perusahaan yang sukses menggunakan SaaS selama kurun waktu cukup lama ( lima atau enam tahun), yang tentunya menjadi track record tersendiri bagi para penyedia SaaS. Sementara faktor kedua adalah, semakin piawainya para penyedia SaaS dalam menyelaraskan security dengan persyaratan proses dan prosedur in-house yang dimiliki customer -nya.
Portofolio layanan yang diberikan para penyedia SaaS pun kini jauh lebih beragam. SaaS tidak lagi dipersepsikan cuma menyediakan CRM dan hanya menyasar pasar UKM saja. Kini, boleh dibilang, hampir semua spektrum aplikasi perusahaan sudah disediakan para penyedia SaaS, meski tak dipungkiri CRM masih mendominasi pasar ini (lihat tabel: “Para Pemain SaaS”).
Selain itu, SaaS tak hanya menarik minat perusahaan-perusahaan UKM saja. Seperti dikatakan Kucharvy dari Summit Strategies, SaaS juga menarik minat yang cukup signifikan di kalangan korporat besar. Kalangan ini memiliki sejumlah besar pengguna, yang dikategorikan Kucharvy sebagai unserved user , yang kebutuhannya begitu kecil untuk bisa dijadikan pembenaran untuk membeli aplikasi enterprise. Juga, overserved user , yang memiliki akses ke aplikasi enterprise, namun sesungguhnya tidak terlalu memerlukan atau tidak memiliki waktu untuk mempelajari penggunaan piranti lunak yang kompleks. “Pengguna-pengguna seperti ini lebih baik memanfaatkan SaaS,” imbuh Kucharvy.
Bahkan, besarnya minat korporat besar terhadap SaaS, menurut Kurcharvy, membuat sejumlah pemain besar piranti lunak tradisional berubah haluan. Sebagai contoh Siebel, yang dulu ogah mengakui potensi model SaaS. Setelah pendapatannya digerogoti para pemain seperti Salesforce.com dan RightNow Technologies, tak pelak harus menjilat ludahnya sendiri. Kini, dengan menggandeng IBM sebagai hosting partner nya, Siebel pun menggelar SaaS-nya sendiri, Siebel OnDemand.
Dari segi fungsionalitas, piranti lunak yang ditawarkan melalui model SaaS, rata-rata fungsionalitas generik yang cukup memadai bagi sebagai besar perusahaan. Bahkan, menurut Chandrasekhar, untuk aplikasi-aplikasi vertikal khusus, kustomisasi sangat mungkin dilakukan. Apalagi, menurut dia, teknologi on-demand sudah maju ke satu titik dimana hal itu bisa dilakukan dengan lebih mudah dan murah dibandingkan masa-masa lalu. “ Para penyedia SaaS juga mulai menggunakan teknologi Web Services untuk mempermudah integrasi solusinya dengan infrastruktur milik customer ,” jelas Chandrasekhar.
Dalam survei IDC belum lama ini, terungkap bahwa setengah dari pelanggan SaaS menggunakan sekurangnya tiga jenis aplikasi. Ketika penggunaan SaaS semakin besar, kemungkinan akan semakin banyak perusahaan menuntut adanya integrasi dari berbagai piranti lunak yang disediakan dengan model SaaS. Jika tidak terpenuhi, integrasi itu terpaksa dilakukan sendiri oleh customer , suatu hal yang sejak awal dihindari dan menjadi alasan untuk memilih model SaaS.
Sejumlah perusahaan rupanya sudah menangkap peluang itu. Salah satunya, adalah Grand Central. Saat ini, Grand Central memang lebih banyak bermain di integrasi platform B2B. Namun, seperti diungkapkan majalah InfoWorld, perusahaan ini berencana berperan sebagai host dan integrator dari berbagai solusi vendor SaaS, yakni dengan menawarkan paket SaaS yang sudah terintegrasi melalui portal Web Grand Central. Kabarnya, Grand Central juga sudah menjalin kerjasama yang erat dengan Salesforce.com guna mengintegrasikan aplikasi CRM Salesforce dengan layanan-layanan lain untuk melayani para pelanggan Salesforce.com.
Dengan berbagai kombinasi faktor di atas, seperti teknologi yang semakin baik, security yang lebih baik, tawaran-tawaran aplikasi yang memenuhi kebutuhan fungsional perusahaan, serta tuntutan organisasi TI untuk do more with less dan memberikan value dalam ujud nyata, tak pelak, SaaS pun menjadi alternatif yang sulit dikesampingkan. Nah , bukan tak mungkin, model seperti ini pun akan menjadi opsi perusahaan Anda di masa depan. arief
SIDE BAR
ASP dan SaaS: Serupa tapi Tak Sama?
Sepintas, konsep ASP dan SaaS memang nyaris mirip, kalau tidak boleh dibilang tumpang tindih. Seperti dijelaskan Chandrasekhar, SAAS dan ASP pada dasarnya hanya berbeda istilah saja, namun artinya tetap sama. Perbedaan utamanya, menurut dia, kini kita memiliki pengalaman enam tahun (sejak ASP pertama kali populer), sehingga kita bisa melihat bagian mana dari model ini yang berhasil, dan mana yang tidak.
“Kesalahpahaman yang paling umum terjadi adalah dengan hanya menempatkan suatu aplikasi Web di data center dianggap sudah sama dengan SaaS. Kenyataannya, sejumlah proses bisnis perlu diotomasikan lebih dahulu agar model SaaS ini bisa berfungsi,” ujar Chandrasekhar.
Sedikit berbeda dengan apa yang disampaikan Chandrasekhar, IDC memberikan batasan yang lebih tegas. IDC menggambarkan SaaS sebagai suatu sektor luas yang mewadahi berbagai sub sektor, yakni ASP, Web-native application dan Hosted Web Services . Sebagai ilustrasi mungkin Anda bisa melihat tabel 1 dan 2.

|