Volume III No 30 - Oktober 2005

Thailand

Operator Broadband Thailand Gelar Layanan Multimedia

Para operator broadband Thailand kini mulai serius menggarap konten layanan Internet untuk menggaet lebih banyak pelanggan. True, salah satu operator telekomunikasi di Thailand , mengucurkan dana sekitar 200 juta baht atau 48 miliar rupiah untuk menggelar konten multimedia melalui portal trueworld.net. Diharapkan, melalui upaya itu, True dapat menggaet kurang lebih 400.000 pelanggan baru tahun ini.

Seperti diberitakan harian Bangkok Post, layanan multimedia, yang mulai diperkenalkan pada publik di Bangkok International Expo beberapa waktu lalu meliputi musik online, e-book, animasi, sport dan layanan ramalan online.

Ardkit Suntornwat, direktur layanan multimedia True , mengatakan bahwa layanan-layanan itu akan digelar secara bertahap, dimulai dengan periode beta-test yang terbuka bagi umum.

Menurut dia, musik online merupakan layanan yang akan digelar pertama kali. Melalui Trueworld.net, para pelanggan dapat menikmati streaming atau men download lagu-lagu berbahasa Thai maupun Inggris, klip video serta fasilitas jukebox, yang memungkinkan pengguna memilih dan mengatur sendiri susunan lagu-lagu favorit yang akan didengarnya.

“Kami perkirakan ada sejuta lagu MP3 yang akan dinikmati dan di download sampai akhir tahun ini,” klaimnya. Untuk itu, Ardkit mengatakan akan mempersiapkan infrastrukturnya agar bisa mendukung 200.000 pengguna secara bersamaan.

Layanan musik online ini mulai digelar pertengahan Agustus lalu, namun hanya terbatas bagi para pelanggan di wilayah Thailand saja. Hal itu dikarenakan True menerapkan teknologi digital rights management (DRM) pada layanan musik onlinenya. DRM merupakan salah satu investasi teknologi yang ditanam True, selain investasi pada perangkat keras, peranti lunak, jaringan infrastruktur dan sistem billing -nya.

Selain musik online, secara bertahap True juga akan menggelar konten sport, yang mencakup acara pertandingan sepak bola, bola basket NBA maupun tenis, serta highlights dan wawancara pra dan pasca pertandingan.

Sementara itu, menurut Ardkit, True juga menjalin kerjasama dengan 25 perusahaan penerbit dari Thailand maupun dari luar Thailand untuk menyediakan konten e-book , yang akan mencakup topik-topik seputar fesyen dan komik. Formatnya pun dibuat sedemikian rupa sehingga pembaca bisa membuka atau membalik halaman layaknya sebuah majalah cetak. Selain itu, produk-produk yang diiklankan pada halaman e-book juga dapat dibeli secara online melalui layanan ini.

”Semua biaya untuk menikmati layanan-layanan di atas akan ditagihkan pada tagihan bulanan pelanggan. Sehingga di sisi pelanggan pun akan lebih nyaman,” imbuh Ardkit.

Lebih jauh Ardkit menegaskan bahwa pihaknya yakin layanan multimedia ini akan semakin menarik minat pelanggan baru, khususnya dari kalangan pengguna akses dial-up , yang ingin bermigrasi ke broadband. Menurut dia, dari hasil survei pasar yang dilakukannya, sebagian calon pelanggan ini tidak hanya mencari kecepatan akses, tetapi juga menginginkan dapat mengakses konten-konten yang unik.

“Kami menerima tanggapan positif, dan banyak calon pelanggan kami yang mengatakan bahwa mereka akan pindah ke layanan broadband jika kami menyediakan layanan seperti itu,” ujarnya.

Selain menargetkan pertambahan jumlah pelanggan sampai 400.000 sampai akhir tahun ini, pihak True menargetkan 10 persen dari seluruh pendapatan jasa layanan broadband, atau sekitar 200 juta baht, akan diperoleh dari portal Trueworld.net pada akhir 2006 mendatang. bp/aa

India

UKM India Perbesar Belanja TI

Perusahaan kecil bukan berarti teknologi informasi (TI)-nya menjadi urusan nomor dua. Di India, kalangan UKM sudah menyadari bahwa TI bisa menjadi senjata andalan untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain, bahkan dengan yang lebih besar sekalipun.

Tahun 2004 lalu, kalangan UKM India menghabiskan sekitar 4,6 miliar dolar AS atau sekitar 46 triliun rupiah untuk belanja berbagai produk dan jasa TI, atau sekitar 10 persen dari total belanja TI UKM di Asia Pasifik, yang senilai 46 miliar dolar AS. Hal itu menjadikan UKM India salah satu pe,belanja TI teratas di Asia Pasifik, di luar Jepang, demikian laporan salah satu perusahaan riset pasar TI, AMI-Partners.

Tren belanja TI UKM India akan tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang. AMI-Partners memperkirakan permintaan produk dan jasa TI akan meningkat 28 persen selama lima tahun mendatang.

Menurut AMI-Partner, pertumbuhan belanja TI UKM India ini sebagian besar justru dimotori oleh perusahaan-perusahaan kecil, yang menaungi sekitar 21 juta tenaga kerja. Perusahaan-perusahaan seperti itu, dikatakan AMI-Partners memang tengah giat-giatnya membangun infrastruktur dasar TI yang kuat. Segmen pasar ini memberi kontribusi senilai 3,5 miliar dolar AS, dimana sekitar 61 persennya dibelanjakan untuk perangkat keras seperti komputer, printer dan server.

Mengejar compliance

Sementara itu, di pasar storage UKM India, AMI-Partners juga mengungkapkan tren pertumbuhan yang cukup pesat, didorong semakin pesatnya pertumbuhan volume data.

UKM India membelanjakan sekitar 43,2 juta dolar untuk produk-produk storage . Tahun ini, pasar storage UKM India diproyeksikan meningkat satu setengah kali lipat.

Meningkatnya belanja storage itu didorong sejumlah faktor. Pemberlakuan regulasi Sarbanes-Oxley di AS misalnya, berdampak pada perusahaan-perusahaan India, khususnya perusahaan-perusahaan yang melakukan kerjasama bisnis dengan perusahaan-perusahaan AS.

Selain itu, kalangan UKM India juga mulai menghadapi kebutuhan untuk mengantisipasi semakin besarnya volume data yang dihasilkan dari transaksi elektronik secara B2B maupun dari aplikasi-aplikasi peranti lunak enterprise. Menurut analis dari AMI-India, Neha Jalan, UKM India baru memulai memasang aplikasi-aplikasi enterprise, seperti CRM dan ERP, tingkat pengadopsiannya akan melonjak pesat pada beberapa tahun mendatang.

Sebagian besar perusahaan UKM India masih menjatuhkan pilihan pada jenis direct attached storage (DAS), dimana sekitar 26,4 juta dolar AS dibelanjakan untuk perangkat itu. Sementara untuk jenis network storage sekitar 16,9 juta dolar AS.

Namun, AMI-Partners memperkirakan network storage akan menjadi pilihan utama di tahun-tahun mendatang, sejalan dengan semakin banyaknya perusahaan UKM yang memanfaatkan jaringan di perusahaannya, serta dengan kecepatan dan kapasitas yang ditawarkannya. zdi/aa

Pangkas Tarif Broadband, Dial-Up Mulai Ditinggalkan

Kalau penggelaran akses internet broadband di India awal tahun ini sudah cukup menimbulkan kesulitan di kalangan penyedia akses dial-up , maka pengurangan tarif akses broadband yang diberlakukan sejumlah operator besar belum lama ini mungkin saja sebagai awal dari berakhirnya era dial-up di negeri dengan jumlah penduduk terbesar nomor dua di dunia itu.

Sekalipun pengurangan tarif itu baru berlaku Agustus 2005, dari data yang dihimpun otoritas regulasi telekomunikasi India, atau Telecom Regulatory Authority of India (TRAI) memperlihatkan bahwa lebih dari 60 persen pelanggan baru Internet selama kurun waktu April-Juli lebih memilih broadband ketimbang dial-up . Basis pelanggan broadband pun meningkat 400 ribu selama periode itu. Padahal, awal tahun ini, jumlah pelanggan broadband India baru sedikit di bawah 50 ribu. Selain itu, menurut TRAI, sektor broadband di India menikmati pertumbuhan yang cukup mengesankan selama lima bulan terakhir, yakni rata-rata 60 persen.

Berkurangnya pelanggan dial-up ini sangat dirasakan para ISP besar India , salah satunya Videsh Sanchar Nigam Ltd (VSNL). Perusahaan itu kehilangan 24 persen pangsa pasarnya selama triwulan pertama yang berakhir Maret lalu. Padahal, dulunya VSNL merupakan ISP terbesar di India dengan menguasai pangsa pasar 70 persen. Kini, perusahaan itu melorot di peringkat keempat dengan pangsa pasar sebesar 13 persen, di bawah Sify, sebuah ISP yang berbasis di Chennai.

Sepak terjang broadband juga dirasakan lebih dari 100 ISP India lainnya yang menawarkan akses dial-up , dan para ISP itu pun pelan-pelan tersisih dari pasar selama enam bulan belakangan ini. ISP-ISP besar seperti Sify bisa bertahan karena mereka telah menyediakan layanan broadband berbasis ADSL, yang disalurkan melalui kabel tembaga.

Di India, rata-rata untuk koneksi dial-up dikenakan biaya 30 rupee per jam, atau sekitar Rp 6.900. Salah satu operator broadband, BSNL kini mulai menawarkan akses broadband 24 jam dengan tarif 250 rupee, atau sekitar 57.500 rupiah per bulan, akan tetapi kapasitas upload/download-nya dibatasi 400MB. Sementara MTNL, ISP besar India lainnya menawarkan akses broadband dengan tarif 399 rupee, atau sekitar 92 ribu rupiah per bulan dengan kapasitas download dibatasi 1GB.

Sejumlah ISP lainnya pun mulai menawarkan tarif murah untuk layanan broadband. Airtel, misalnya, menawarkan akses broadband dengan tarif sama seperti dial-up , yakni 30 rupee atau 6.900 rupiah per jam. Selain itu, ISP ini juga melakukan terobosan dengan menawarkan paket night surfing , yang menawarkan selancar Internet gratis di malam hari dengan cukup menambah biaya bulanan sebesar 49 rupee atau sekitar 11 ribu rupiah.

Menurut TRAI, tarif bulanan sambungan broadband di India rata-rata telah terpangkas 75 persen selama 18 bulan terakhir menyentuh angka 450 rupee atau sekitar 103.500 rupiah. Bahkan, menurut TRAI, dengan adanya pemangkasan tarif yang dilakukan para ISP India belakangan ini, tarif bulanan rata-rata bakal jatuh ke angka 300 rupee, atau sekitar 69.000 rupiah.

Meningkatnya minat pengguna Internet India terhadap akses broadband ini membuat sejumlah ISP India berani mematok penambahan jumlah pelanggan yang tinggi. BSNL misalnya telah menetapkan target satu juta pelanggan broadband sampai akhir tahun ini, dan 10 juta pelanggan pada tahun 2010. Sementara MTNL memasang target untuk menambah 500 ribu pelanggan tahun ini. zdi/aa

Malaysia

Malaysia Terapkan Pembayaran Bea Cukai Berbasis Web

Royal Malaysian Customs belum lama ini menerapkan sistem layanan bea cukai baru berbasis Web, yang dinamakan DutyNet. Sistem baru ini diharapkan dapat meningkatkan penagihan cukai sampai 12 miliar ringgit atau sekitar 31,8 triliun rupiah per tahun.

Layanan yang dibuat untuk mempermudah badan itu untuk menagih pajak menggantikan sistem Electronic Funds Transfer (EFT) yang digunakannya sejak 1997.

Sistem lama yang dibangun oleh Dagang Net Technologies Sdn Bhd serta didukung oleh sembilan bank nasional Malaysia ini telah membantu badan bea cukai Malaysia menagih pajak senilai 1,8 miliar ringgit atau sekitar 4,7 triliun rupiah setahunnya. Sistem itu diklaim Dagang Net sebagai sistem EFT pertama di dunia yang sukses diluncurkan secara komersial.

Hadirnya DutyNet, menurut pihak Dagang Net, menandakan dimulainya migrasi layanan EFT ke atas platform berbasis Internet.

Sementara itu, direktur jendral bea cukai Malaysia , Tan Sri Abdul Halil Abdul Mutalib mengatakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) memiliki arti penting bagi pemerintah Malaysia untuk meningkatkan efektivitas hubungannya dengan komunitas bisnis.

Menurut dia, seluruh transaksi yang dilakukan melalui DutyNet diproses secara real-time . “ Para pengguna pun memperoleh jaminan atas integritas dan kerahasiaan datanya, karena layanan itu juga menerapkan best practice dalam teknologi sertifikat digital dan enkripsi,” ujarnya.

Dalam menggelar sistem DutyNet ini, Royal Malaysian Custom bekerja sama dengan Dagang Net, yang bertindak selaku rekanan teknologi, dan Bumiputra-Commerce Bank sebagai rekanan jasa keuangannya. Layanan yang diberikan DutyNet akan terhubung dengan portal eDeclare milik Dagang Net, dan portal internet business banking milik Bumiputra-Commerce Bank. so/aa

Singapura

Suntik Dana 6 Juta Dolar untuk RFID

Langkah Singapura untuk mengaplikasikan radio frequency identification (RFID) secara luas semakin terbuka lebar dengan digelontorkannya sejumlah dana dari badan sains dan ristek Singapura, A-STAR.

Melalui perusahaan yang menjadi lengan komersial A-STAR, Exploit Technologies, dana sebesar 10 juta dolar Singapura, atau sekitar 6 juta dolar AS dikucurkan ke berbagai rekanan industri di Singapura selama tiga tahun untuk mentransformasikan kekayaan intelektual dan know-how A-STAR mengenai RFID ke dalam aplikasi-aplikasi komersial.

Emily Tan, senior vice president, incubation and spin-of management division , Exploit Technologies, mengatakan dana itu diharapkan dapat mendorong perusahaan-perusahaan dalam mengadopsi teknologi RFID ketika mereka mengembangkan produk-produk untuk para konsumennya.

Menurut dia, pihaknya telah menerima 25 sampai 30 proposal proof-of-concept (POC) dari sejumlah perusahaan, dimana sembilan di antaranya sudah mendapatkan persetujuan.

Perusahaan-perusahaan yang mengajukan diri untuk menerapkan teknologi RFID yang dikembangkan A-STAR antara lain perusahaan ritel peralatan eletronik BiG by Safe dan perpustakaan nasional Singapura, National Library Board (NLB).

Menurut Tan, BiG by Safe tengah mengkaji kemungkinan untuk mengembangkan sistem track-and-trace berbasis RFID untuk seluruh barang yang tersimpan di toko maupun gudangnya. Sementara, NLB juga tengah mengembangkan sistem “rak pintar”, yang bisa menunjukkan lokasi koleksi buku-bukunya secara akurat menggunakan teknologi gelombang radio.

Selain itu, Exploit Technologies juga mengincar aplikasi RFID di sektor-sektor lainnya, seperti farmasi dan solusi supply chain management logistik.

Tag RFID murah

Salah satu kendala penerapan RFID dewasa ini adalah faktor rancangan tag RFID itu sendiri, serta harga chip RFID yang relatif mahal untuk bisa digelar secara masal. Salah satu lembaga yang berada di bawah A-STAR, Institute of Microelectronics (IME) melakukan terobosan mengembangkan tag RFID yang memiliki antena on-chip , data storage yang bisa di-baca/tulis memanfaatkan tenaga frekuensi radio pasif.

IME berhasil mengembangkan cara untuk memfabrikasi antena di atas chip RFID. “Rata-rata tag RFID sekarang menggunakan antena ‘off-chip' yang ukurannya berkali lipat lebih besar ketimbang chipnya sendiri,” ujar Rajinder Singh, kepala laboratorium sirkuit dan sistem terintegrasi, IME. Dengan terobosan yang dilakukannya, IME mengklaim tag RFID buatannya tidak memerlukan proses pencetakan antena dan perakitan yang mahal.

Menurut Singh, tag RFID rata-rata berukuran beberapa sentimeter persegi. Namun, tag RFID yang dikembangkan IME, selain memiliki memori non-volatile 128 bit dengan kemampuan baca/tulis, ukurannya sudah diperkecil menjadi kurang dari 1 milimeter persegi.

Selain itu, IME juga mengklaim ongkos tag RFID sangat murah, hanya sekitar 0,04 sampai 0,06 dolar AS. Dengan ukuran yang kecil dan ongkosnya yang murah, tag buatan IME itu bisa digunakan untuk melabeli barang-barang seperti dokumen kertas, produk pakaian bahkan uang kertas, klaim Singh. zda/aa

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.