Volume III No 30 - Oktober 2005
 

 

Goenawan Loekito
Citizen Information Center

 

Langkah awal membangun sumber informasi terpadu bagi berbagai kepentingan masyarakat.

Kalau melihat perkembangan diri dan keluarga sebagai warga negara, kita sendiri saat ini melihatnya ada dalam satu kebingungan. Mulai dari anak kita lahir, kemudian sekolah, menjadi dewasa, kemudian lulus sekolah, dan mulai mencari pekerjaan. Setelah mendapat pekerjaan, mendapat penghasilan dan dia mulai mempunyai NPWP. Mungkin setelah itu dia ingin membeli mobil dan selanjutnya menikah, dan mulai berpikir membeli rumah. Pada saat itu, dia juga mulai memikirkan masalah kesehatan dan asuransi diri dan keluarganya, serta kebutuhan lainnya. Selanjutnya, dia juga mempunyai sejumlah kesenangan, karena dukungan keuangannya sudah meningkat, misalnya sport, traveling, fashion dan yang terakhir, ujung-ujungnya meninggal dunia.

Jadi, dalam proses dari lahir sampai meninggal itu, tidak hanya di negara kita, tetapi di semua negara, perlu satu kontak yang jelas. Artinya, kalau kita mau membuat akte kelahiran, itu di mana? Kalau mau membuat SIM, itu harus ke mana? Dan, masih banyak lagi kebutuhan lain yang memerlukan kejelasan kontaknya. Nah, hal ini yang mendorong para penyedia teknologi informasi (TI) untuk menyediakan solusi, mulai dari database hingga ke aplikasi dan interoperability -nya, sehingga membuat hal itu menjadi suatu kesatuan. Sebenarnya, ini normal saja dan terjadi di semua negara.

Masalahnya, sekarang adalah bagaimana menanggani masalah seperti itu? Contoh, kini sedang ramai dibicarakan tentang pendidikan. Sekarang ini, pendidikan dari luar negeri masuk semua. Nah, sekarang anak kita mau sekolah, misalnya SMP, SMA atau universitas, kalau kita mau memilih sekolah atau universitas daftarnya ada di mana? Tidak jelas.

Sekarang ini muncul berbagai penyakit, misalnya flu burung. Pertanyaannya, “kalau saya mau masuk rumah sakit, rumah sakit yang mana? Kalau mau cari informasinya, ada di mana? Kalau dia memasang iklan, mungkin bisa dilihat di yellow pages . Tapi, kalau tidak, yang nggak ada.”

Untuk itulah diperlukan satu kesatuan single truth atau single source of information yang memuat berbagai macam informasi yang dapat diakses dengan mudah, misalnya berupa portal atau sumber informasi melalui situs www.republikindonesia.com atau www.republikindonesia.co.id.

Tujuannya adalah, pertama , menyediakan informasi yang terpadu. Sekarang, kalau kita melihat pemerintah, yang terjadi bahwa setiap departemen mempunyai sistemnya masing-masing. Ada yang setengah manual, ada yang cukup pakai spread sheet saja, dan ada yang punya web site , tapi tidak pernah dilihat juga. Hanya sekedar ada. Mungkin ada sistem yang canggih, sudah punya infrastruktur di dalamnya, punya infrastruktur e-mail, internet, intranet dan sebagainya. Hanya saja sekarang, katakanlah dalam siklus dari kelahiran sampai kematian, mereka mau kemana kontaknya.

Contoh lain, misalnya dalam perjalanan terjadi kecelakaan, apa yang dapat dilakukan? Dia harus lapor polisi, atau harus ada polisi yang datang ke lokasi. Suatu saat dia membutuhkan pertolongan, misalnya harus dibawa ke rumah sakit, rumah sakit yang mana. Siapa yang bertanggungjawab? Apakah dia punya asuransi, atau tidak? Apakah dia punya saudara yang bisa dihubungi atau tidak? Sekarang, yang terjadi adalah seperti itu, dan itu sama saja, baik di negara maju sekali pun. Masalahnya, sekarang bagaimana TI bisa membantu memberikan solusi.

Yang kedua adalah setiap departeman itu mempunyai data, yang kadang-kadang satu dengan lainnya terduplikasi. Bisa jadi berbeda sama sekali, karena yang satu ter up-date , sedang yang lainnya tidak. Yang diharapkan adalah masyarakat tidak binggung mendapatkan informasi yang dibutuhkannya, mau face to face boleh, mau lewat telepon boleh, mau lewat fax juga boleh. Kalau punya ponsel, bisa juga melalui SMS atau akses Internet.

Dari sini, apa sih yang sangat diharapkan masyarakat? Sesungguhnya, mereka mengharapkan bisa mendapat berbagai informasi dari suatu tempat tertentu dengan mudah. Tapi kenyataannya, kita belum punya. Nah, kalau kita punya dream ke arah itu, maka sebaiknya kita harus melangkah step-by-step , lakukan apa yang paling utama.

Contoh lainnya, misalnya urusan kartu identitas. Sekarang ini kan ada KTP, SIM, paspor dan lain sebagainya. Ada juga asuransi dan kartu-kartu lainnya. Coba lihat, berapa banyak kartu yang harus Anda punyai? Belum lagi kartu kredit, ada yang dari bank A, B, C dan lain sebagainya. Dompet Anda akan penuh berisi kartu identitas, tapi kartu yang satu dengan lainnya tidak nyambung.

Berbagai masalah keseharian dihadapi masyarakat, seperti langganan listrik PLN, atau air PDAM. Telat bayar sedikit saja diputus. Atau, kalau kelebihan mencatat meteran, pembayarannya meningkat. Padahal yang salah bukan si pengguna, tetapi si pencatat meteran. Yang jadi masalah, bukan masalahnya yang ditangani, tetapi harus membayar terlebih dahulu, meski itu bukan kesalahan pelanggan.

Selain itu, kalau mau komplein ke mana? Siapa yang harus dihubungi? Berapa lama masalahnya akan tertangani dan selesai? Satu jam? Satu hari? Atau, satu minggu? Tak jarang, untuk masalah yang sebenarnya ringan, tetapi membutuhkan berkali-kali kunjungan. Hal itu pasti membutuhkan biaya dan waktu yang terkadang cukup banyak juga, terutama bagi kalangan menengah ke bawah.

Sebenarnya, kalau mau jujur, masalah seperti ini sangat banyak menimpa masyarakat kita dan biasanya, mereka selalu berada di posisi yang lemah. Nah, dalam kaitan itulah mengapa kita tidak mencoba membangun solusi, terutama dengan menggunakan TI, sehingga secara bertahap mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Jadi, dari siklus kelahiran sampai kematian itu, yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana warga negara bisa mendapatkan berbagai layanan yang baik, cepat dan mudah dijangkau. Kalau sebelumnya tatap muka, mungkin sekarang ini bisa dengan telepon, misalnya. Kalaupun masih tatap muka, bagaimana layanannya lebih memberikan kepastian penyelesaian yang cepat, transparan dan mudah. Kalau pun hal itu membutuhkan biaya, perlu ada kepastian berapa besar biayanya dan itu bisa diumumkan secara terbuka. Sehingga ketika masyarakat membutuhkan layanan itu, mereka bisa mendapatkannya secara cepat dan murah, tanpa tambahan biaya ini dan itu.

Namun, inisiatif ini tak hanya datang karena adanya kebutuhan masyarakat saja, melainkan pemerintah juga berpikir mengenai hal itu. Karena, dengan jumlah penduduk yang banyak seperti Indonesia ini, diperlukan upaya yang lebih baik dalam memberikan layanan kepada masyarakat. Itu, tentu tak bisa dilakukan dengan cara-cara tradisional. Di sisi lain, itu juga terkait dengan pihak lain, yang selama ini mungkin sudah memiliki standar pelayanan. Hanya saja, antara yang satu dengan yang lain berbeda-beda, sehingga boleh dikata membentuk silo-silo informasi yang tidak mudah disatukan.

Selain itu, WSIS ( World Summit on the Information Society ) sudah merekomendasikan bahwa pada 2015 sekitar 50 persen penduduk dunia, termasuk Indonesia, harus sudah tersambung dengan perangkat telekomunikasi, baik itu telepon, Internet dan lainnya. Nah, hal itu kita lihat dari dua sisi, baik masyarakat maupun pemerintah, dan harapannya semua itu dapat dirangkum sehingga mampu memberikan solusi bagi masyarakat.

Solusinya adalah pemerintah harus mulai memikirkan layanan informasi yang utuh dan terpadu, misalnya yang paling sederhana - call center . Untuk tahap awal cukup dengan call center , meski tak harus berbasis komputer. Tetapi, akan lebih baik lagi kalau dilengkapi sistem TI, sehingga bisa lebih baik.

Misalnya, penyediaan call center dengan menggunakan nomor toll-free , seperti digunakan Garuda. Oracle, juga punya, yakni call center 0800-1- ORACLE (672253).

Sebagai penyedia TI, Oracle tidak hanya memikirkan databasenya, customer information file -nya, supplier information file -nya, melainkan bagaimana TI bisa membantu perusahaan, tentunya dengan standar yang baku, dalam melakukan proses bisnisnya. Jadi, menuju kemana? Good Corporate Governance . Menuju kemana lagi? Standar baku perusahaan. Tapi, siapa pelakunya? SDM yang di belakangnya yang harus dilatih.

Dengan kejadian seperti itu, pengalaman apa yang biasa dipetik? Take a baby step . Mengapa? Dulu orang selalu membuat planning yang besar, kapasitas mainframe yang besar dan mahal. Misalnya, kalau di perbankan atau operator Telekomunikasi, mereka merencanakan untuk lima tahun ke depan dengan kapasitas planning berdasarkan transaksi hari ini berapa? Jadi, lima tahun ke depan pertumbuhannya seperti apa? O, berarti saya butuh hardware dan storage yang besar.

Padahal, itu dibeli untuk lima tahun ke depan. Lima tahun yang akan datang, sudah muncul hardware baru dan teknologi baru, dan teknologi yang sekarang sudah ketinggalan. Selain itu, kalau dilihat dari load balance penggunaannya mungkin hanya antara 20%, 30%, 40%, 50%, atau 60% saja dan sisanya tidak terpakai sama sekali.

Sementara, teknologi yang baru sekarang ini ada yang bisa start from small. Start from small, pay as you grow. Ada teknologi yang ber platform Linux, Open source, Windows dan sebagainya. Juga ada yang disebut blade server, yang bisa menambah kapasitas cukup dengan memasang tambahannya tanpa mematikan sistemnya. Ada juga server yang memiliki database sendiri, application cluster sendiri, mastery , punya mirroring dan macam-macam. Sekarang juga memungkinkan menggunakan apa yang disebut grid computing . Membayar sesuai apa yang digunakan, layaknya menggunakan telepon, berapa banyak pulsa yang di pakai.

Jadi layanan informasi terpadu itu ditujukan untuk memudahkan masyarakat untuk berhubungan dengan pemerintah, yang memberikan layanan. Itu bisa dilakukan secara lebih mudah dan bisa dimulai dari tingkat yang paling bawah, misalnya RT/RW, atau kelurahan. Bisa juga dimulai dari salah satu departemen sebagai inisiator. Tapi, hal itu sangat sulit terjadi di kita, karena masing-masing departemen nantinya akan menunjukkan bahwa merekalah yang paling layak menjadi inisiator. Karenanya, lebih baik dibentuk suatu badan atau kelembagaan langsung di bawah Presiden, sehingga lebih mudah dikontrol.

Sebenarnya, informasi yang dibutuhkan masyarakat itu sudah ada. Hanya saja masih terpisah-pisah, sehingga menyulitkan bagi masyarakat untuk memperolehnya. Karena tidak ada navigator yang mengarahkan ke sana. Dengan adanya suatu portal, maka semua informasi yang dibutuhkan dapat memiliki entry point yang jelas, dan selanjutnya bisa saja mengarah ke masing-masing, misalnya departemen atau lembaga. Jika informasi belum tersedia dalam bentuk digital, maka bisa disediakan di portal tersebut, sehingga portal berfungsi menjadi sumber informasi yang terpadu dan bersifat nasional. Kalaupun nantinya ada yang bersifat lokal, dia bisa tersambung dengan yang nasional. Intinya bagaimana memberikan entry point terhadap berbagai macam informasi yang dibutuhkan masyarakat tanpa perlu mengubah apa yang telah ada di, katakanlah, masing-masing departemen atau lembaga.

Dengan begitu, langkah awal yang bisa dilakukan adalah membuat single source of information , dimana informasi itu tidak membuat overlapping dengan yang telah dimiliki, tetapi justru melengkapi berbagai informasi yang sudah ada dan memudahkan menavigasikannya menuju informasi yang diharapkan.

Goenawan Loekito, pemerhati teknologi informasi

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.