Volume III No 30 - Oktober 2005
 

 

Unified Communications
Impian Konvergensi yang Jadi Nyata

 

Mobilitas yang ada sekarang ini masih mencerminkan dunia yang terfragmentasi. Akankah konvergensi menjadi jawabannya.

Berbicara komunikasi digital, konvergensi itu seperti pencarian Grand Unified Theory . Ratusan tahun yang lalu, fisikawan kondang Sir Isaac Newton melontarkan sebuah gagasan adanya satu teori pamungkas yang menghubungkan seluruh teori alam yang ada. Teori itu memberikan satu payung yang akan menjelaskan segala sesuatunya di alam semesta, baik yang diketahui maupun yang tidak.

Juga dikenal Theory of Everything, yang juga menunjukkan suatu pencarian utama para fisikawan modern. Mereka memulainya dari empat kekuatan dasar, yakni gravitasi, elektromagnetik, gaya tarik atom dan peluruhan atom. Namun, baru tahun 1979 lalu, para fisikawan berhasil menghubungkan dua dari kekuatan utama itu dengan satu teori.

Impian Kovergensi

Itu pula yang terjadi di dunia komunikasi digital. Para pengguna masih mengangankan satu solusi peranti lunak, yang sanggup mengombinasikan VoIP, e-mail, instant messaging , kolaborasi, alur dokumen dan web conferencing , dan menyajikan semuanya ke dalam satu antarmuka pengguna tunggal. Bahkan, isu itu tetap menjadi perbincangan menarik selama dua dekade belakangan ini.

Ada banyak alasan mengapa ide komunikasi terkonvergensi menjadi sesuatu yang tak pernah pudar. Salah satu pendorongnya adalah mobilitas yang semakin tinggi di kalangan perusahaan. Seperti pernah digambarkan Mick Regan, solution architect , Nortel, beberapa waktu lalu di Jakarta, saat ini kecenderungan yang berlaku di sejumlah perusahaan adalah ruang kantor yang semakin “kosong”, karena karyawannya mobile dan tersebar di mana-mana.

“Hal ini tentunya akan menyulitkan karyawan untuk bisa berkolaborasi dengan mudah,” ujarnya. Sementara itu, kemacetan lalu lintas, masalah travel cost , naiknya harga BBM, sedikit banyak membuat karyawan “enggan” datang ke kantor, dan lebih memilih menjadi teleworker .

Di sisi lain, persaingan bisnis pun semakin ketat, dimana komunikasi sangat pentingl. “Bisa Anda bayangkan ketika perusahaan harus kehilangan peluang bisnis hanya karena contact person -nya sulit atau tidak bisa dihubungi,” timpal Regan.

Sayangnya, mobilitas yang ada sekarang ini masih mencerminkan dunia yang terfragmentasi. Dunia yang terdiri dari berbagai jenis peranti, nomor telepon, mail-box, prosedur sekuriti, antarmuka yang kaku, dan berbagai aplikasi komunikasi, seperti teleponi, Instant Messaging (IM) dan conferencing . Diperparah lagi dengan semakin beragamnya peranti bergerak, mulai dari smartphone , PDA sampai notebook, yang berjalan di atas berbagai jenis sistem operasi.

Tak pelak, solusi komunikasi terpadu, yang tidak bergantung pada moda komunikasi maupun perangkat komunikasinya, dan mendukung kontinuitas bisnis sangat dibutuhkan. Para salespeople misalnya, bisa membuka emailnya tanpa harus datang ke kantor, cukup mengaksesnya melalui ponsel atau PDA. Para product engineer tentu ingin berkolaborasi dengan tim marketing dan sales yang lokasinya berjauhan. Sementara para manajer tentunya sangat mendambakan bisa berkomunikasi dan mengetahui keberadaan para bawahannya melalui teknologi presence awareness .

Tak hanya itu. Para pengelola TI, yang mewujudkan seluruh kemudahan komunikasi itu kepada para end-user pun memiliki impiannya sendiri. Mereka mendambakan sebuah aplikasi peranti lunak tunggal, harga yang terjangkau, mudah mengelola dan mengintegrasikannya, yang sanggup memenuhi seluruh kebutuhan komunikasi perusahaan. Cukup mengelola satu jaringan untuk suara, data dan video, daripada harus memiliki tiga jenis jaringan, begitu mungkin kata mereka.

Nah, hal semacam itulah yang dijanjikan sebuah sistem unified communications (UC) . Biayanya lebih murah dan produktivitasnya lebih tinggi. Setidaknya, itulah yang harus Anda yakini sampai saat ini. Meski, dalam praktiknya, platform yang terkonvergensi penuh belum sepenuhnya terwujud. Alternatif lainnya, pendekatan yang tambal sulam (menggunakan aplikasi yang terpisah-pisah) untuk meraih fungsionalitas yang sama. Namun, hal itu hanya akan akan menambah biaya dan kompleksitas jaringan.

Antara gado-gado dan rumitnya integrasi

Untuk saat ini, pasar UC belum sungguh-sungguh terwujud. Tak satu pun vendor, yang menawarkan seuatu aplikasi yang mencakupi seluruh fitur messaging dan komunikasi, yang idealnya dikemas dalam satu sistem terpadu. Tak jarang, hal itu memaksa perusahaan melakukan pendekatan gado-gado, membeli lebih dari satu aplikasi, yang ujung-ujungnya hanya akan menambah biaya dan kompleksitas jaringannya.

Seperti dipaparkan CIO Insight, pengalaman semacam itu dirasakan oleh Ephraim Cohen, co-owner Fortex Group LLC , yang mengelola sebuah perusahaan kecil yang bergerak di bidang marketing dan public relations dan berbasis di New York. Ketika perusahaan itu pertama kali beroperasi tahun 2003 lalu, Fortex sempat menggunakan layanan e-mail dan instant messaging gratis yang disediakan Yahoo! Sejalan dengan perkembangan usaha, Fortex membutuhkan aplikasi yang lebih aman dan customizable . Cohen pun mulai mencari-cari aplikasi yang cocok.

Namun, tidak ada satupun vendor yang menyediakan solusi all-in-one . Lagipula, sebagian besar aplikasi yang dilirik Cohen dirasakan terlalu mahal bagi perusahaan debutan semacam Fortex.

Tapi, akhirnya, Cohen memilih pendekatan aplikasi yang terpisah-pisah. Untuk aplikasi e-mail dan calendaring ia memilih solusi BlueTie Inc. Aplikasi VoIP-nya disediakan oleh Teleo Inc. Sementara solusi dari Trillion Digital Communications Inc. dipilih untuk aplikasi instant messaging . Menurut Cohen, masing-masing perangkat tersebut berjalan dengan baik. “Tapi kalau ada satu aplikasi yang bisa menjalankan seluruh fungsi itu dengan murah, kami akan memilihnya,” ujar Cohen berharap.

Di sisi lain, ketiadaan satu solusi yang lengkap menyebabkan upaya mengintegrasikan satu aplikasi satu dengan yang lain, maupun dengan sistem yang sudah ada bisa jadi berujung pada kesulitan lebih dari yang bisa diantisipasi perusahaan.

Kesulitan semacam itu dijumpai sebuah firma hukum yang bermarkas di Minneapolis, AS, yakni Leonard, Street and Deinard. Ketika sistem PABX yang dimilikinya sudah tidak sanggup lagi memenuhi kebutuhan bisnisnya, firma itupun melirik solusi berbasis jejaring IP. Perusahaan ini menggandeng Avaya Inc. untuk membantunya membangun platform messaging yang meliputi VoIP, calendaring dan Web conferencing .

Menurut analis telekomunikasi perusahaan itu, Carol Reitzel, sistem tersebut bisa terhubung mulus dengan program e-mail Microsoft Outlook yang digelarnya. Meski demikian, untuk aplikasi lainnya, integrasinya lebih sulit. Sistem yang dimilikinya justru menambah kompleksitas, karena harus benar-benar terpadu dengan sejumlah aplikasi lainnya. Ia menyontohkan, perusahaan itu melacak seluruh komunikasi teleponnya melalui sebuah billing program buatan Equitrac, namun pada awalnya program ini “ogah” bekerjasama dengan peranti lunak Avaya. Dibutuhkan waktu cukup lama untuk membuat kedua sistem itu mau bekerjasama dan berfungsi dengan baik.

Selain itu, membangun sebuah unified communications tidaklah murah. Setidaknya, itulah yang dialami firma hukum tersebut. Dengan pengguna 450 orang, perusahaan ini merogoh kocek 1 juta dolar AS untuk rollout tahap awal, meliputi biaya konsultasi, instalasi, dan integrasi. Tak hanya itu, biaya untuk memelihara sistem baru ini pun lebih mahal 3 persen ketimbang yang lama.

Meski begitu, toh para pengguna, yang sebagian besar pengacara itu begitu menyukai sistem itu, aku Reitzel. Untuk berhalo-halo ria melalui VoIP, di firma yang memiliki lima kantor dengan 190-an pengacara di Minnesota maupun Washington DC, semuanya cukup menekan tombol extension empat digit. Telepon yang berdering di meja seorang pengacara otomatis juga berdering di handphone nya. Tak hanya itu, voice mail pun bisa dicek melalui e-mail inbox . Rietzel pun mengklaim bahwa meski mahal, kolaborasi yang disajikan sistem tersebut membuat pengeluaran yang dilakukannya cukup sepadan.

Masa depan

Sampai tahun 2010, para analis industri TI memperkirakan akan lebih banyak terjadi kerjasama antar vendor untuk memecahkan masalah interoperabilitas antar peranti komunikasi ini. Hal itu juga terbantu dengan semakin luas diterapkannya standar SIP ( Session Initiation Protocol ) untuk IP telephony, IM maupun solusi presence awareness .

Tentunya, ini akan mempermudah integrasi dan membantu perusahaan memperluas kapabilitas messaging dan komunikasinya di luar firewall . Nantinya, sebuah perusahaan bisa menggunakan sistem komunikasi internalnya untuk memasukkan partner offshoring -nya ke dalam alurkerja dokumen, atau berkolaborasi dengan pihak ketiga dalam sebuah proyek. Menurut Erica Rugullies, analis senior Forrester Research , standarisasi itu akan sangat membantu dalam memuluskan interoperabilitas, namun saat ini hal itu masih menjadi halangan.

Menurut dia, saat ini pasar masih sangat terfragmentasi, dengan masih banyaknya vendor-vendor kecil yang lebih tertarik untuk meraup pangsa pasar dengan menambahkan polesan-polesan terhadap produk yang sudah ditawarkannya. Misalnya, sebuah vendor solusi web conferencing mungkin akan menambahkan IM dan presence services ke paket peranti lunaknya. Dan hanya segelintir dari aplikasi-aplikasi tersebut yang saat ini juga memasukkan VoIP. Adanya standar, setidaknya akan mempermudah perusahaan untuk menghubungkan berbagai peranti yang terpisah buatan berbagai vendor.

Yang penting, perusahaan sudah harus mulai berpikir ke depan dan mengevaluasi bagimana memanfaatkan peranti baru itu, khususnya ketika perusahaan mulai banyak menggunakan VoIP. Tapi untuk sekarang, converged network sejati memang belum sepenuhnya terwujud. Namun, setidaknya para pengguna tidak bakal menunggu terlalu lama, seperti yang dialami para fisikawan dengan pencarian Grand Unified Theory -nya. arief

 

 

SIDE BAR

Merekat Komunikasi dengan SIP

Era jaringan suara dan data yang terpisah secara bertahap mulai berakhir. Di masa depan, sebuah jaringan tunggal yang terkonvergensi akan menjadi basis dari seluruh bentuk komunikasi.

SIP dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang, dimana suatu hari, seluruh panggilan telepon maupun video conference akan dilakukan melalui Internet. Bahkan, setiap bentuk komunikasi akan dilakukan melalui jaringan berbasis IP. Di masa-masa tersebut, nantinya orang akan diidentifikasi secara unik dengan alamat email, bukannya dengan nomor telepon seperti yang lazim Anda jumpai pada Public Switched Telephone Network (PSTN) seperti sekarang ini. Protokol standar untuk komunikasi, seperti SIP, akan memfasilitasi Anda untuk menghubungi orang atau layanan yang diinginkan, tanpa mempedulikan lokasi, atau pun perangkat apa yang mereka gunakan.

Yang menjadi inti dari kemampuan arsitektur berbasis SIP adalah notion of presence. Informasi keberadaan secara real-time diketahui dengan memantau berbagai jenis aktivitas, antara lain perangkat apa yang sedang aktif (telepon, PC, PDA atau BlackBerry), sesi komunikasi apa yang tengah berlangsung atau di lokasi mana sesi komunikasi itu terjadi. Informasi ini dapat dikombinasikan dengan aplikasi location intelligence dan dengan aplikasi-aplikasi yang sudah SIP-enabled, misalnya CRM, document handling, workflow dan customer service.

Boleh dibilang, SIP merupakan perekat yang menyatukan PBX, server dan gateway komunikasi dan aplikasi, dan presence server. Dengan cara ini, aplikasi-aplikasi kolaborasi, unified messaging, mobilitas, produktifitas dan customer contact berbasis SIP dapat disajikan ke berbagai jenis perangkat dan metoda komunikasi.

 

SIDE BAR

Mencari Solusi UC yang Komprehensif

Saat ini pasar unified communication (UC) boleh dibilang masih terfragmentasi. Menurut perusahaan riset Gartner, dalam catatan riset pasarnya yang bertajuk Magic Quadrant for Unified Communications, 2005 , secara umum ada dua strategi yang dilakukan para vendor dalam menawarkan solusi UC ke pasar. Pertama , menawarkan solusi komunikasi sesuai core technology yang dikuasainya, dan kemudian bekerja sama dengan vendor lain untuk menyediakan portofolio yang lebih lengkap. Strategi produk kedua adalah menawarkan solusi UC yang lengkap dan terintegrasi.

Sejumlah perusahaan, menurut Gartner, sudah ada yang menawarkan solusi yang lengkap, selain juga produk-produk stand-alone yang berfungsi sebagai middleware aplikasi teleponi. Sementara, masih banyak pula vendor yang memiliki komponen individual, namun tidak memiliki pendekatan yang komprehensif untuk menawarkannya sebagai sebuah produk UC.

Sejatinya, menurut Gartner, sebuah solusi UC perlu menggabungkan kapabilitas yang ditawarkan lima pasar komunikasi terpenting, yakni: Voice messaging dan unified messaging ; call handling dengan private branch exchange (PBX), e-mail, Voice, Web dan video conferencing , dan kolaborasi, juga Instant Messaging (IM) dan live-presence indicator .

Dari pemantauan pasar yang dilakukannya, hanya segelintir vendor menawarkan produk UC bersifat komprehensif, yang membundel kapabilitas yang ditawarkan dari kelima pasar komunikasi tersebut.

Salah satunya produk HiPath OpenScape buatan Siemens, yang merupakan produk pertama yang muncul di pasar UC. Gartner menilai solusi itu yang paling mature dan terbuka di pasar. OpenScape menawarkan antarmuka komunikasi desktop, dengan fitur presence dan conferencing , serta dapat bekerja dengan beberapa PBX sekaligus. Solusi itu juga dapat diintegrasikan dengan Live Communication Server (LCS)-nya Microsoft, maupun solusi conferencing dan kolaborasi pihak ketiga lainnya. Selain itu, HiPath OpenScape juga ditambahkan modul untuk unified messaging, computer-telephony integration (CTI), routing dan integrasi aplikasi, serta dukungan untuk mobile maupun remote user .

Ada juga peranti lunak berbasis Java buatan Alcatel, OmniTouch Unified Communication, yang menyediakan common directory, Web services dan presence information . Solusi itu dikolaborasikan dengan empat jenis aplikasi: MyPhone untuk aplikasi softphone ; MyMessaging untuk mengintegrasikan unified messaging dengan sistem email maupun voice mail ; MyAssistant untuk call routing dan MyTeamwork untuk fungsi conferencing , IM dan presence.

Sementara itu, Gartner juga menyebutkan solusi UC yang komprehensif lainnya, yakni MCS 5100 dari Nortel, yang belum lama ini diluncurkan di tanah air. Perangkat ini menyediakan platform dan solusi yang lengkap untuk conferencing , kolaborasi, presence, call control dan layanan IM. Produk ini dapat disandingkan dengan aplikasi CallPilot, juga buatan Nortel, untuk unified messaging , maupun dengan switch-switch buatan vendor lain untuk SIP) dan IP telephony . Untuk memudahkan integrasinya dengan aplikasi pihak ketiga, juga disediakan antarmuka pemrograman aplikasi.

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.