Volume IV No 31 - Nopember-Desember 2005

THAILAND

Dana Lotere Untuk Industri Software

Menyiasati pengadaan dana untuk mendukung pengembangan industri peranti lunak lokal, pemerintah Thailand memutuskan mengalokasikan dana khusus sebesar 100 juta baht atau sekitar 25 miliar rupiah.

Dana ini diambil dari dana lotere yang dikelola pemerintah melalui Government Lottery Office, yang pengelolaannya kemudian diserahkan ke badan promosi industri peranti lunak Thailand , Software Industry Promotion Agency (SIPA). “Diharapkan dana ini bisa menyediakan peluang bagi perusahaan peranti lunak kecil untuk mengembangkan usahanya,” ujar Sora-at Klinprathum, Menteri Teknologi Infokom Thailand , sebagaimana dilaporkan harian Bangkok Post.

Manoo Ordeedolchest, presiden SIPA mengatakan pihaknya akan membentuk sebuah komite untuk menjaring proyek-proyek pengembangan peranti lunak yang membutuhkan dana. Setiap proyek dapat menerima bantuan sampai 5 juta baht atau sekitar 1,25 miliar rupiah. Investasi itu akan dipertukarkan dengan 5-10 persen saham perusahaan penerima bantuan.

Ke depan, menurut Manoo, komite yang dibentuk SIPA ini akan mengubah statusnya menjadi sebuah perusahaan konsultasi bisnis dan investasi. Selain menyediakan modal ventura , perusahaan bentukan SIPA ini juga akan memberikan konsultasi bisnis dan pemasaran untuk ekspor peranti lunak.

Dikatakan Manoo, adanya inisiatif ini diharapkan akan mendorong kepercayaan perusahaan-perusahaan permodalan swasta untuk menanam investasi di perusahaan-perusahaan peranti lunak.

Menurut dia, untuk tahun fiskal 2006, yang mulai berjalan bulan Oktober lalu, SIPA menyiapkan dana total berjumlah 400 juta baht, atau sekitar 100 miliar rupiah. Dana ini akan digunakan untuk memromosikan pengembangan peranti lunak di empat bidang utama. Bidang animasi dan multimedia, yang mendapatkan kucuran dana terbesar, sekitar 100 juta baht, dan untuk enterprise dialokasikan dana bantuan sebesar 90 juta baht. Dua bidang lainnya, peranti lunak game dan aplikasi mobile dan embedded software masing-masing disediakan dana 50 dan 10 juta baht. Sementara itu, dana yang tersisa sekitar 28 juta baht akan digunakan untuk memromosikan proyek-proyek di ICT City di Chiang Mai, Khon Kaen dan Phuket, serta untuk membantu pengembangan peranti lunak open source.

Selama dua tahun belakangan, SIPA memang terbilang gencar memromosikan multimedia dan animasi, sejalan ambisi pemerintah Thailand untuk menjadikan Thailand sebagai Holywood-nya Asia , khususnya untuk animasi. SIPA sendiri telah memberikan pelatihan animasi kepada sekitar 80 orang, sementara bulan lalu SIPA baru saja mendirikan Northern Animation Studio di Chiang Mai.

Solusi enterprise juga termasuk bidang peranti lunak yang gencar dipromosikan SIPA, khususnya dalam pengembangan web services . Hal ini diwujudkan dalam proyek-proyek TI ambisius seperti Thailand.Net dan Javapiwat. Selain itu, SIPA juga tengah berupaya mendorong penggunaan ICT di antara kalangan UKM, melalui inisiatif-inisiatif seperti proyek collaborative commerce . bp/aa

 

Thailand Promosikan Embedded Software untuk Otomotif

Thailand saat ini memang sudah dikenal sebagai sentra industri otomotif terdepan di wilayah Asia Tenggara. Ke depan, negeri ini tidak hanya berupaya mengasah keahlian dalam manufaktur kendaraan bermotor belaka. Dengan semakin lazimnya penggunaan komponen elektronika dan komputer di mobil-mobil modern, misalnya ECU, Thailand mulai membuka jalan untuk membangun industri embedded software .

Badan promosi industri peranti lunak Thailand , SIPA sejak bulan lalu mulai memromosikan cikal bakal pengembangan embedded software , khususnya untuk bidang otomotif. Upaya SIPA ini sudah mendapatkan tanggapan positif, khususnya dari kalangan produsen otomotif Jepang. Hal itu dibuktikan dengan keputusan Toyota membuka sebuah kantor khusus pengembangan embedded software untuk industri otomotif Thailand . “Tujuan utamanya memang memasok kebutuhan insinyur untuk para produsen otomotif asal Jepang dulu,” imbuh Manoo Ordeedolchest, presiden SIPA.

Toyota sendiri telah mengumumkan bahwa pihaknya menginvestasikan sekitar 32 juta baht, atau sekitar 8 miliar rupiah untuk mendirikan kantor pengembangan embedded software untuk produk-produk mobilnya. Saat ini, pihak Toyota sudah memperkerjakan 28 insinyur. Tahun depan, jumlahnya akan berkembang menjadi 70 orang. “Permintaan pasar untuk SDM insinyur dari proyek ini sudah mencapai 100 orang,” imbuh Manoo.

Dalam 12 bulan mendatang, SIPA merencanakan akan melatih 1.000 orang insinyur untuk pengembangan embedded software. Untuk mendukung upaya ini, SIPA menggalang kerjasama dengan sejumlah universitas, Thai Embedded System Association (TESA) dan National Electronics and Computer Technology Centre (Nectec).

Manoo mengungkapkan peluang industri embedded software sendiri cukup menjanjikan, dimana perkiraan nilai pasarnya di dunia untuk industri otomotif saja dapat mencapai 5 sampai 10 miliar dolar AS pada tahun 2007 mendatang. bp/aa

SINGAPURA

Geliat Web Services di Singapura

Pengembangan dan aplikasi web service di Singapura kini semakin memperoleh momentum. Sekitar 14 persen kalangan bisnis di negeri pulau itu saat ini mengadopsi Web services, naik dari 8 persen di tahun 2003.

Menurut otorita pengembangan infokom Singapura, IDA, tahun lalu bidang web services menyumbang pendapatan sekitar 265 juta dolar AS untuk sektor infokom, dan menciptakan lebih dari 290 lapangan pekerjaan di Singapura.

Sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap kebijakan pengembangan teknologi infokom, IDA terbilang cukup gencar memromosikan Web services, antara lain dengan menanam modal intelektual, riset dan pengembangan serta pembangunan infrastruktur untuk pengembangan Web services. Seluruh upaya ini dilakukan di bawah payung program khusus bernama Weave ( Web Services Add Value to Enterprises ).

“Pengadopsian Web services tumbuh tidak hanya dari sisi jumlahnya saja, tapi secara lebih dalam dan luas telah menjadi kunci pertumbuhan kalangan industri,” ujar Chan Yeng Kit, ketua eksekutif IDA, sebagaimana dikutip dari CNETAsia.

Saat ini, sejumlah perusahaan besar di Singapura telah mengadopsi Web services. Salah satunya adalah Singaprore Airlines, yang menerapkan Web services untuk program frequent-flyer nya yang dinamakan KrisFlyer. Dengan menerapkan Web services, para anggota KrisFlyer bisa mengakses layanan terintegrasi seperti miles redemption and transfer di antara anggota maskapai penerbangan yang tergabung dalam Star Alliance.

Selain itu, Web services juga telah diaplikasikan dalam bidang kelogistikan. Operator pelabuhan Singapura, PSA adalah salah satunya. Dengan sistem PortNet-nya, PSA bisa mengurangi dokumentasi yang dibutuhkan di antara para perusahaan perkapalan dan penyedia jasa logistik.

Web services pun telah merambah industri keuangan Singapura. OCBC Bank misalnya, menggunakan Web services untuk menjembatani berbagai sistem legacy yang dimilikinya, sehingga proses pekerjaan dan bisnis di OCBC kini lebih terintegrasi.

Ke depan, IDA akan lebih mendorong penerapan Web services di Singapura, khususnya dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM)-nya. IDA telah menggelar program Certified Web Services Professional (CWSP) untuk mencetak para profesional di bidang Web services. Sejauh ini, kurang lebih sudah 633 profesional TI yang telah menerima sertifikasi tersebut, sementara 400 orang akan mendapatkan sertifikasi CWSP dalam tiga tahun mendatang.

Dari sisi infrastruktur riset dan pengembangan Web Services, pihak IDA menggandeng Nanyang Polytechnic (NYP), Singapore infocomm Technology Federation (SiTF) dan 18 vendor teknologi untuk mendirikan Service Oriented Architecture (SOA) Center pertama di wilayah Asia Tenggara.

Pusat pengembangan yang pembangunannya menelan biaya 1,5 juta dolar AS itu nantinya akan menjadi tempat uji coba aplikasi cross-platform yang dibuat para penyedia solusi. SOA Center menargetkan uji coba sekitar 60 proyek web services dalam dua tahun ke depan.

Secara umum, penerapan web services di dunia mengalami peningkatan. Menurut IDC, tahun 2004 lalu pembelian peranti lunak Web services mencapai 2,3 miliar dolar AS, atau meningkat lebih dari kali lipat ketimbang 2003. IDC juga memperkirakan belanja Web services akan meningkat dalam lima tahun mendatang, mencapai angka 14,9 miliar dolar AS pada tahun 2009. cn/aa

MALAYSIA

Malaysia Keluarkan 3 Strategi Garap Outsourcing

Pemerintah Malaysia berkomitmen untuk memastikan negeri itu tetap terdepan dalam industri shared services and outsourcing (SSO). Dalam sebuah laporan ekonomi yang dilansir departemen keuangan Malaysia, secara umum sektor jasa, dimana industri SSO termasuk di dalamnya, merupakan kontributor terbesar dalam pertumbuhan produk domestik bruto (GDP), dengan persentase sebesar 57,4 persen. Dari segi ketenagakerjaan, sektor jasa menyerap 50,3 persen tenaga kerja Malaysia.

Menurut laporan tersebut, pendapatan dari industri SSO tahun lalu mencapai 2,04 miliar ringgit, atau sekitar 5,5 triliun rupiah. Perusahaan-perusahaan SSO umumnya bernaung di bawah payung Malaysia Super Corridor (MSC).

Diperkirakan, sampai akhir tahun ini, pendapatan dari perusahaan-perusahaan SSO akan meningkat 30 persen, mencapai nilai lebih dari 2,58 miliar ringgit, atau sekitar 6,9 triliun rupiah.

Untuk mempertahankan industri shared service dan outsourcing sebagai andalan di sektor jasa, pemerintah Malaysia menetapkan tiga strategi. Yang pertama terkait dengan strategi branding , yang menempatkan negeri jiran tersebut sebagai hub global untuk kegiatan shared service maupun outsourcing dunia.

Strategi kedua adalah melakukan reformasi sistem pendidikan, untuk memastikan pengembangan sumber daya manusianya bersifat fleksibel dalam menghadapi perubahan tuntutan. Saat, Malaysia memiliki potensi knowledge worker yang cukup besar. Dengan 40 persen jumlah penduduk berusia di bawah 25 tahun, dan tingkat literasi 95,1 persen, persediaan knowledge worker di negeri ini diperkirakan akan terus tumbuh dalam tahun-tahun mendatang.

Sementara strategi ketiga pemerintah Malaysia akan memperkuat para penyedia jasa outsourcing lokal dengan menggelar inisiatif “Outsourcing Malaysia”. Melalui inisiatif ini, pemerintah Malaysia akan memberikan insentif bagi para pemain lokal untuk membangun kompetensi kelas dunia dan menggelar operasi outsourcing skala besar.

Saat ini, ada sekitar 48 perusahaan yang bergerak di bidang SSO, dan telah mendapatkan status MSC. Perusahaan-perusahaan ini menyerap sekitar 12.000 profesional TI, atau kurang 40 persen dari keseluruhan tenaga kerja di MSC.

Ke depan, sejumlah perusahaan diperkirakan akan tumbuh dan melakukan ekspansi, khususnya untuk mengantisipasi kehadiran para pemain besar yang telah mendirikan business process outsourcing (BPO) di Malaysia, seperti DHL, IBM, Hong Kong and Shanghai Banking Corporation (HSBC), Standard Chartered Bank, Shell, Motorola dan Nippon Telegraph and Telephone Corporation (NTT). br/aa

Filipina Gelar Akses Wi-Fi di Seluruh Negeri

Para pengguna internet di Filipina kini mulai dapat menikmati layanan akses broadband tanpa kabel. Ribuan base station Wi-Fi telah digelar, umumnya di daerah perkotaan. Namun, ke depan, akses internet nirkabel ini akan dapat dinikmati di daerah-daerah terpencil.

Inisiatif untuk memperluas konektifitas internet ini dilakukan oleh salah satu operator telekomunikasi seluler Filipina, Smart Communication Inc, dengan proyeknya yang bernama Smart Wi-Fi Broadband Internet .

Smart Wi-Fi dirancang untuk membawa Internet broadband sampai ke daerah-daerah pelosok, dengan memanfaatkan jaringan seluler milik Smart yang tersebar di seluruh Filipina. Dengan layanan ini, pelanggan dapat berselancar Internet kecepatan tinggi, sekalipun tidak tersedia jalur telepon atau TV kabel.

Hal ini dimungkinkan dengan memasang sebuah antena Smart Wi-Fi di rumah pelanggan dengan posisi direct line-of-sight dengan base station seluler Smart terdekat, yang menawarkan transmisi frekuensi radio terkuat. Saat ribuan base station milik Smart telah tergelar di hampir seluruh wilayah Filipina, 500 diantaranya berlokasi di Greater Manila Area (GMA).

Layanan ini sudah mulai bergulir sejak pertengahan Juni lalu, dan Smart mengklaim layanan ini cukup mendapat tanggapan positif dari pelanggan. Ava Espanola, assistant brand manager untuk Smart Wi-Fi mengatakan sampai September lalu pihaknya berhasil menggaet antara 8.000 sampai 8.500 pelanggan, dimana sekitar 31 persen pelanggan berada di South Luzon Area. “Kami berharap pertumbuhan terbesar ada di wilayah GMA. Secara keseluruhan, kami menargetkan 32.000 pelanggan sampai akhir tahun ini,” ujar Espanola, sebagaimana dikutip dari ComputerWorld Philipines.

Terkait dengan dengan pilihan akses broadband lain yang tersedia di Filipina, yakni digital subscriber line (DSL), Espanola menegaskan bahwa akses broadband Wi-Fi yang disediakan Smart ini tidak diposisikan untuk bersaing dengan DSL, namun lebih sebagai komplementer. Menurut dia, broadband Wi-Fi ini bisa menjadi alternatif ketika layanan DSL belum menjangkau suatu wilayah.

Saat ini Smart menyedia dua paket koneksi internet melalui Wi-Fi, yakni akses di wilayah propinsi kecepatan 129 kbps dengan biaya bulanan 788 peso atau sekitar 143 ribu rupiah, dan akses untuk wilayah GMA kecepatan 256 kbps dengan biaya bulanan 998 peso atau sekitar 180 ribu rupiah.

Selain menjangkau kota-kota besar, ke depan Smart akan memperluas akses Internet Wi-Fi ke daerah-daerah pelosok di Filipina, mulai dari Basco, Batanes sampai Tawi-Tawi, sebuah wilayah kepulauan di selatan Filipina. cwp/aa

TAIWAN

Taiwan Kembangkan Ekosistem WiMAX

Dalam upaya mendukung pembangunan infrastruktur broadband nirkabel di Taiwan, pemerintah Taiwan menggandeng Intel untuk mengembangkan WiMAX di negeri itu.

Pertengahan Oktober lalu, pemerintah Taiwan, melalui kementrian perekonomiannya, Ministry of Economic Affairs (MOEA) dan Intel Corporation meneken perjanjian kerjasama untuk meningkatkan kesadaran dan penggunaan teknologi WiMAX di Taiwan.

Kedua pihak sepakat untuk bekerja sama mengaktifkan ekosistem WiMAX setempat dan memastikan teknologi WiMAX yang digunakan di Taiwan di masa depan akan kompatibel dan bisa bekerja dengan jaringan-jaringan penyedia layanan di seluruh dunia.

Dalam perjanjian ini MOEA bertanggung jawab mengatur arah untuk pengalokasian spektrum frekuensi WiMAX dengan menghubungi sektor-sektor pemerintahan terkait lainnya, selain juga menyediakan bantuan dan sumberdaya untuk uji coba lapangan WiMAX. Selain itu, MOEA juga berupaya mengaktifkan ekosistem WiMAX di negeri itu, guna menyediakan solusi-solusi berbasis WiMAX dengan biaya efisien untuk dilempar ke pasar global.

Intel sendiri berkomitmen menyediakan berbagai sumber daya teknis untuk membantu penyebaran WiMAX di Taiwan, dengan berbagi pengalaman dari uji coba WiMAX yang dilakukan di negara-negara lain, dan bekerja sama dengan ekosistem setempat membantu mengembangkan dan menyebarkan solusi-solusi WiMAX.

WiMAX merupakan salah satu dari sekian teknologi utama yang dipilih Taiwan untuk mendukung proyek M-Taiwan (Mobilize Taiwan). Pemerintah Taiwan akan menginvestasikan dana sekitar 37 miliar dolar Taiwan atau sekitar 1,1 miliar dolar AS untuk pembangunan infrastruktur nirkabel dalam kurun waktu 2005 sampai 2008 mendatang. “Kami berharap kerja sama kami dengan Intel bisa membantu mempercepat pengadaan infrastruktur pita lebar nirkabel di Taiwan,” ujar Mei-Yueh Ho, Menteri Perekonomian, Taiwan .

Sementara itu, Sean Maloney, Executive Vice Presiden dan General Manager, Intel Mobility Group mengatakan bahwa potensi penyebaran WiMAX di Taiwan cukup prospektif mengingat negeri ini memiliki pondasi berupa infrastruktur pita lebar yang kokoh dan ekosistem industri yang mantap.

Menurut dia, Intel telah bekerja erat dengan pemerintah-pemerintah dan perusahaan-perusahaan di seluruh dunia untuk mendorong teknologi-teknologi dan interoperabilitas pita lebar nirkabel secara global. “Kerja sama kami dengan MOEA sekali lagi memperlihatkan WiMAX itu ada dan sudah diterima luas,” tegasnya.

Lebih jauh Maloney mengungkapkan bahwa saat ini sudah ada 100 uji coba WiMAX yang tengah dilakukan di seluruh dunia. Untuk kawasan Asia, belum lama ini, Intel mengumumkan Asian Broadband Campaign, yang bertujuan mempercepat penyebaran pita lebar nirkabel WiMAX di Asia Tenggara lewat penyediaan konsultasi dan sharing pengalaman broadband nirkabel serta penyediaan layanan-layanan teknis. arief

© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.