Volume IV No 31 - Nopember-Desember 2005
 

 

Bob J. Onggo
TAGVERTISING, Gaya Advertising Ala Futuristis

 

 

Bayangkan saja, kalau Anda tahu berapa orang di Jakarta yang menyukai iPOD atau ponsel berkamera, pasti akan lebih mudah bagi Anda dalam melakukan stocking barang dan memprediksi penjualan. Bayangkan juga, betapa indahnya bisnis rokok kalau Anda tahu berapa orang yang suka menghisap rokok kretek atau rokok bernikotin rendah! Halnya pun sama, seandainya Anda bisa tahu di Indonesia ini ada berapa banyak orang yang menginginkan produk Anda, maka akan lebih mudah bagi Anda dalam memprediksi stocking dan penjualan bukan? Begitu pula, apa yang bisa Anda lakukan untuk memperbaiki citra produk Anda bila Anda tahu berapa orang yang kurang atau tidak suka terhadap suatu merek.

Itulah sebabnya, riset pemasaran diadakan untuk menggali data kuantitatif dan kualitatif pasar sebelum suatu produk dibuat atau untuk memperbaiki kinerja suatu produk yang telah berjalan. Begitu pula, riset pemasaran dilakukan untuk menciptakan suatu produk yang belum pernah dibayangkan namun tersirat dari kebiasaan konsumen.

Oh ... alangkah indahnya kalau kita bisa mengetahui dan memprediksi hal tersebut dan dijadikan sebagai landasan dari business plan dan marketing plan suatu produk. Dengan begitu, Anda dapat mencegah suatu produsen membuat produk-produk yang kurang disukai atau kurang laku.

Rupanya, inilah yang menjadi landasan munculnya metode online untuk mengetahui apa yang sedang tren di masyarakat, apa yang sering dimimpikan oleh konsumen. Metode online inilah yang akan saya kemukakan kepada Anda di kolom ini, yaitu tagvertising .

APA ITU TAGVERTISING?

Tag + Advertising = TagVertising . Tag bisa dipinjam dari kata kerja tagging , yang artinya mengelompokkan ke dalam kategori tertentu. Sehingga ini akhirnya menjadi salah satu buzzword marketing online yang popular, seperti halnya buzzword lainnya, misalnya viral marketing, 4-G marketing, buzz marketing, experiential marketing dan lain-lain.

TAGGING – DARI SEHARI-HARI HINGGA BISNIS

Siapa pun dari kita akan lebih mudah dalam melihat-lihat suatu content, apalagi content suatu web, apabila dibagi ke dalam kategori dan sub kategori. Apalagi, kalau sumber content -nya berjumlah sangat banyak. Para pengguna internet akan merasakan efek experiential apabila mereka bisa membuat suatu kategori baru dan menamakannya. Kemudian, kategori yang mereka buat itu digunakan dan sering diakses oleh para pengguna internet yang lain dan Anda menjadi terkenal atau produk Anda semakin dikenal jika Anda mengatasnamakan produk Anda tersebut.

Siapa pun para pengguna internet, khususnya para blogger umumnya senang membuat kategori baru atau memperbanyak kategori yang sudah mereka buat dan menempatkan posting mereka di dalamnya, entah itu hasil suatu riset atau kumpulan URL penting, atau foto-foto mereka maupun gambar-gambar produk dan koleksi link sesuai dengan kategori ( tagging ) yang mereka inginkan. Itulah sebabnya, Business Week menyebutnya bahwa masa depan dari blogs adalah penggunaan tagging. Karena dengan metode tagging , Anda dapat mengatur suatu content secara mudah, cepat dan instan dan mendapat julukan Blogging 2.0.

Selain itu, berbagi tagging dapat memberikan efek viral marketing ( from mouth-to-mouth atau from click-to-click ) untuk mempromosikan suatu produk atau bisnis tertentu.

Karena sifat tagvertising memanfaatkan konteks dalam mengategorikan sesuatu, maka tanpa kita sadari metoda ini telah menjadi fenomena dari suatu paradigma advertising baru, yang kita kenal sebagai contextual advertising.

Menariknya, proses tagging tidak hanya memungkinkan konsumen dapat membuat dan menyimpan segala sesuatu yang mereka minati di dunia maya dalam bentuk kategori atau sub kategori ( tagging ). Namun, yang lebih penting lagi, mereka bisa saling berbagi kepada konsumen lain yang juga berminat akan pengkategorian yang sama, yang mereka ciptakan. Dan, tanpa sadar, mereka dapat berkolaborasi walaupun mereka sendiri tidak saling kenal atau saling menyapa.

Kalau Anda seorang produsen atau marketer , Anda bisa memanfaatkan proses menggali apa yang sedang digandrungi dan diminati pasar secara umum lewat tagging yang dibuat, misalnya oleh 43things.com. Atau, Anda pun bisa mengintegrasikan tagging mechanism di situs web Anda untuk mencari tahu apa yang paling tidak disukai oleh pasar Anda dan sebaliknya. Dari hasilnya Anda dapat mengetahui situasi pasar Anda.

Contoh praktis kegunaan tagging bahkan dapat digunakan untuk hal-hal sehari-hari misalnya, saya ingin mengajak Anda menggunakan Flickr.com - situs web yang memungkinkan Anda berbagi foto-foto dan gambar yang Anda sukai dan disusun berdasarkan suatu kategori. Teman-teman online Anda pun secara kolaboratif dapat membangun atau memenuhi suatu kategori dengan foto atau gambar yang sesuai dengan suatu keyword atau tag .

Misalnya, Anda dapat menaruh foto-foto perkawinan Anda di Flickr.com dan menaruhnya di bawah tag “wedding”. Foto-foto Anda tidak hanya dapat diakses oleh Anda sendiri, melainkan dapat juga diakses dan digunakan oleh komunitas online yang lebih luas. Lebih jauh, individu-individu yang ada di antara komunitas online tersebut juga dapat menaruh foto-foto perkawinan mereka di bawah tag yang sama. Nah, bayangkan dari model ini misalnya Anda menjual suatu produk, katakan saja produk yang Anda jual adalah pemutar musik digital, apapun mereknya. Foto produk-produk tersebut dimasukkan di bawah kategori "iPod" dan tidak lupa menyisipkan mereknya danURL web nya. Bayangkan, jika foto tersebut bagus dan digunakan oleh individu lain di dunia maya, maka yang terjadi adalah foto-foto produk Anda akan berfungsi bagaikan viral advertising .

TAGGING DALAM MESIN PENCARI INFORMASI

Aktivitas tagging sangat menular di dunia maya, hal ini karena sifatnya sebagai sarana pelengkap kalau Anda menggunakan mesin pencari untuk mencari informasi atau gambar atau foto-foto yang relevan.

Misalnya, Anda tahu berapa banyak situs web yang tidak relevan muncul di halaman pencarian pada waktu Anda mengetikkan kata “windows”. Padahal, Anda hanya ingin mencari informasi seputar “jendela”, apakah yang terbuat dari kayu, besi, atau aluminium. Tetapi, coba kalau Anda menggunakan del.icio.us (bukan berakhiran .com), atau Furl.net, maka Anda akan memperoleh hasil pencarian yang relevan.

Itulah sebabnya dalam industri pencarian, situs pencari utama telah melihat tren penggunaan tagging dalam industri advertising ini. Lihat saja bagaimana Yahoo! telah membeli Flickr.com, dan Furl.net juga telah diakuisisi oleh LookSmart. Begitu pula, dengan Ask Jeeves yang telah mengintegrasikan mekanisme tagging- nya.

TAGGING MECHANISM – SIAPA TAKUT?

Sekarang sudah terlihat kecenderungan berbagai situs web dari perusahaan kecil maupun besar mengadopsi metoda folksonomy . Mereka menggunakan struktur seperti tagging, sehingga memudahkan calon konsumen dalam mencari produk atau konten yang relevan dengan kebutuhan mereka.

Lihat saja misalnya, The Guardian, surat kabar Inggris, telah menambahkan tag ke dalam weblog -nya yang baru. Juga Metafilter, suatu weblog komunitas yang popular, telah memasukkan kata kunci yang memudahkan komunitasnya mem posting suatu kategori yang mereka inginkan. Begitu pula situs web yang lebih besar, khususnya CNET, juga melakukan metode tagging yang sama.

Lihat saja, Amazon pun (lihat gambar di atas) telah berinvestasi dengan mengembangkan situs web yang disebut 43things.com, yang memudahkan konsumen membuat wish lists berdasarkan tagging . Dari sini Amazon bisa mempelajari apa saja yang paling diimpikan dan diinginkan pelanggannya, sehinga Amazon bisa mengevaluasi dan menyodorkan produk-produk yang laris manis dan bukan berdasarkan tebak-tebakan.

Kita akan melihat fenomena ini mendorong industri mesin pencari mampu memberikan hasil pencarian yang bersifat personalized . Bila hal ini terjadi, maka folksonomies dan tagvertising akan mengantar kita ke dunia contextual advertising dalam format yang lebih maju dan dengan wajah baru.

TAGVERTISING DAN Pe-eR BAGI PRAKTISI PEMASARAN

Untuk itu, di bawah ini ada beberapa hal harus diantisipasi dan dilakukan oleh para praktisi marketing online sekarang ini juga, yakni:

  • Mulailah gunakan RSS reader dan subscribe ke RSS feed -nya untuk memonitor bagaimana calon konsumen melakukan kategorisai informasi yang berkaitan dengan produk, bisnis, perusahaan dan merek Anda.
  • Para praktisi pemasaran lewat dunia maya harus transparan dengan apa yang mereka posting , baik itu link maupun foto produk mereka, sehingga mereka tidak dikatakan melakukan spamming terhadap tren baru ini.
  • Para advertiser yang merambah dunia online , bersiap-siaplah untuk membeli keywords dari beberapa kategori ( tag ). Lihat saja bahwa tren ini dan tag advertising semakin fenomenal dan situs pencari mengintegrasikan fitur tagging ke dalam situs pencari mereka.
  • Juga, tren ini akan dimanfaatkan oleh para pebisnis yang cerdik untuk meluncurkan tagvertising network guna menjual keyword yang kemudian dapat ditawarkan untuk dibeli oleh situs web yang menggunakan metode folksonomies .
© 2003 - 2005 eBizzAsia. All rights reserved.