 |
| GARUDA SUGARDO , Chief Operating Officer (COO), PT Telekomunikasi Indonesia |
PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) menghadapi tantangan yang berat, dimana di satu sisi memenuhi kebutuhan masyarakat akan telekomunikasi, tetapi di sisi lain harus siap bersaing dengan perusahaan-perusahaan lain dalam suasana yang sangat kompetitif. Tantangan teknologi juga sangat membutuhkan kejelian dan pilihan yang tepat, agar kedua misi – sosial dan bisnis – itu dapat dipadukan dengan optimal. Untuk mengetahui lebih jauh bagaimana Telkom menjawab hal itu, Tim eBizzAsia berkesempatan mewawancarai GARUDA SUGARDO , Chief Operating Officer (COO), PT Telekomunikasi Indonesia di kantornya Grha Cipta Caraka, di bilangkan Gatot Subroto, akhir Oktober 2005 lalu. Berikut petikannya :
Bagaimana pandangan Anda mengenai masa depan pertelekomunikasian kita?
Teknologi internet, online IT , konten dan teletransaction bersama-sama dengan teknologi lainnya, yang disebut ICT ( Information and Communication Technology ), dan kalau di Telkom disebut Infokom, akan sangat mempengaruhi dunia telekomunikasi. Bagi Indonesia, hal itu semua diperuntukkan bagi membangun suatu Information Mobile Society .
Mengapa? Karena masa depan adalah bandwidth, dan masa depan adalah mobility . Jasa telekomunikasi yang ditawarkan Telkom tak hanya telepon tetap, tetapi ada multimedia, internet multimedia dan backbone dalam bentuk long distance, serta mobile communication yang dikelola anak perusahaan - Telkomsel, meski Telkom sendiri memiliki limited mobility . Ke depan, yang dibutuhkan betul–betul teknologi yang memiliki pergerakan sangat luas dan menggunakan pita-lebar.
Seberapa besar peran layanan multimedia bagi Telkom ke depan?
Indonesia adalah negara pengguna, negara yang tidak bisa lagi mengejar kemajuan teknologi di bidang pabrikasi. Tetapi, dia harus menerapkan di bidang aplikasi dan dalam kemasan-kemasan bisnis yang lengkap, sehingga Indonesia bisa menjadi bagian dari masyarakat informasi dunia. Di Telkom kegiatan–kegiatan itu dilakukan oleh divisi Multimedia.
Bagi masyarakat Indonesia, multimedia Telkom ini sangat penting, karena pelanggan multimedia pada dasarnya adalah pelanggan–pelanggan teleponi, pengguna fax, facsimili dan juga internet. Internet kini sudah ditingkatkan dari narrowband menjadi broadband dan berkecepatan tinggi. Namun, yang kini kami utamakan adalah penciptaan solusi, utamanya bagi korporasi, yang memberi solusi dari hulu ke hilir, yaitu suara, teks, data dan juga gambar atau video dalam bentuk multimedia secara keseluruhan. Ini semua yang membedakan antara conventional telecommunication dengan technology telecommunication dan jasa telekomunikasi masa depan.
Bisa dijelaskan lebih lanjut mengetahui kebutuhan terhadap multimedia?
Banyak korporasi yang memiliki prinsipal di luar negeri yang mempertanyakan apakah di Indonesia bisa tersedia fasilitas jasa, seperti yang mereka dapatkan di kantor-kantor pusat mereka, misalnya di Amerika, Eropa, Hong-Kong atau Singapura. Ini sebenarnya peluang bagi operator di Indonesia, terutama Telkom, untuk memenuhi kebutuhan itu, yang terus meningkat.
Sayangnya, di Indonesia sistem solusi ini belum dianggap sebagai suatu pendekatan yang simpatik, melainkan sebagai suatu tawaran yang monopolistik. Tak jarang mereka menanyakan mengapa semuanya harus dari Telkom? Sebagian mereka malah memilah-milah, misalnya fasilitas telekomunikasi dari Telkom, sedang IT dari IT provider , dan aplikasinya dari software house atau perguruan tinggi. Mereka meramunya dalam suatu sistem yang terintegrasi dan untuk itu diperlukan system integrator . Bukan hanya struktur biayanya menjadi kompleks, mereka pun tidak bisa mengetahui kelemahannya ada di titik mana. Apakah pada sistem pengintegrasianya atau level–level yang di deliver oleh masing–masing kelompok.
Tuntutan lainnya datang dari lingkungan bisnis. Misalnya sebuah bank ingin bersaing dengan bank lain, dia harus melakukan referensi terhadap bank yang sudah mengunakan online system . Dengan begitu, dia akan berpeluang menjadi lebih efisien, efektif, dan produktif, terutama kalau didukung guidance dari penyelenggara telekomunikasi yang sangat kompeten. Telkom, saya kira merupakan salah satu referensi yang telah melakukan benchmarking dan ter- upgrade secara operasional.
Apa yang akan dilakukan Telkom untuk menjawab kebutuhan itu?
Pertama , adalah bundling , dan yang kedua kerjasama strategis ( alliances ) antara Telkom dan seluruh vendor. Kemudian menetapkan suatu system integrator yang kompeten di bidangnya, sehingga pada akhirnya akan mendapatkan solusi yang baik, yang cocok, yang dapat diimplementasikan.
Jadi, jika keseluruhannya diberikan kepada suatu sistem atau konsorsia, kita bisa melihat tingkat keberhasilan, efektivitas dan pembentukan kultur dari pemakainya. Karena, ini tidak sekedar teknologi dan aplikasi, tetapi suatu pembangunan masyarakat yang sadar betapa pentingnya informasi untuk pengambilan keputusan, baik dalam bisnis, organisasi maupun institusi.
Karenanya, yang sampai ke pelanggan adalah suatu solusi, sehingga mereka tidak perlu melakukan deal satu persatu dengan banyak pihak. Ibarat membeli mobil baru, dimana bagian-bagiannya disediakan oleh perusahaan lain, tetapi ada satu yang bertanggung jawab, yaitu pemegang merek dari mobil tersebut.
Telkom harus menjawab kebutuhan dengan harga bersaing dan kemampuan yang lebih baik. Bagaimana Telkom menjawab tantangan itu?
Kami melakukan empowering kepada pelaksana yang sehari-hari menghadapi corporate customer , sehingga mereka yang berada di front liner mendapatkan otoritas, baik untuk memutuskan yang terkait dengan konfigurasi, delivery time, cost and pricing maupun service level guarantee. Kalau mereka hanya menjadi staff saja, yang kemudian berpaling bertanya ke belakang, mereka tidak akan memberikan solusi. Mereka akan kehilangan peluang yang, tak jarang hanya datang satu kali. Mereka juga bisa kehilangan kepercayaan. Ini bagian dari proses yang sedang dihadapi Telkom.
Apalagi yang akan dilakukan Telkom untuk meningkatkan kesiapannya untuk berkompetisi?
Berbicara corporate solution , berbicara multimedia services , dan Telkom is not the number one . Telkom adalah follower dan Telkom menyadari hal ini. Tahun 2000 Telkom muncul dengan konsep visi ICT, visi Infokom. Tetapi, dengan geografi yang luas, dimana Telkom memiliki fasilitas, sarana dan jasa komunikasi yang luas, itu memberi kepercayaan bagi Telkom dapat me- recovery kondisi itu.
Saat ini, saya kira sudah mencapai 45% dari pelayanan Telkom yang ter- recover . Masih ada ceruk yang sangat luas, yang memang sekarang ini dikuasai oleh bukan Telkom, melainkan oleh Indosat, Exelcomindo dan Icon+. Mereka masing-masing mempunyai society . Saya juga harus mengakui bahwa tidak semua pelanggan Telkom merasa puas dengan pelayanan yang telah diberikan. Sekali kecewa, mereka pada dasarnya adalah pelanggan-pelanggan yang mencatat kekecewaan dalam jangka panjang. Kemudian, mencoba membuat pilihan lain, walaupun ketika pilihan tersebut tidak lebih baik, dia akan kembali lagi ke Telkom. Tetapi, kalau cocok, mereka akan loyal.
Apakah ada target untuk merecovery lebih besar lagi ke depan, misalnya dari 45% yang sekarang menjadi 70% dalam 5 tahun ke depan?
Memang harus ada visi ke depan yang mewarnai gerak langkah Telkom dalam suatu program yang sakral yaitu, bahwa Telkom tidak hanya melayani pelanggan untuk telekomunikasi. Telkom adalah penyelenggara telekomunikasi yang berorientasi kepada pembentukan masyarakat informasi (INFOKOM) dan menjadi leading player dalam regional yang terbatas ini.
Referensi-referensi atau kaidah-kaidah yang digunakan Telkom adalah bagaimana menjawab kebutuhan korporat, kebutuhan para grup-grup besar. Pertama , untuk kebutuhan domestik dan kalau bicara kebutuhan domestik, maka Telkom lah yang bisa memberikan fasilitasnya. Kedua , kalau mereka sudah merupakan pelanggan global, perusahaan internasional, maka Telkom harus memosisikan diri bahwa kita berhadapan dengan suatu request dan services level agreement, services level guarantee, reability yang tuntutannya sangat tinggi, misalnya 24 jam dalam sehari dan reliability 99,99% .
Masalahnya, Telkom adalah perusahaan yang menjunjung etika. Kalau Telkom sendiri mengatakan reliability 95%, maka itu adalah suatu standar 95%. Tetapi, yang lain barangkali tidak mengatakan seperti itu, kadang-kadang mereka mengambil infrastruktur dari Telkom dengan service guarantee 95%, tetapi mereka bisa menjual dengan services level guarante yang lebih tinggi. Jadi ada gambling factor dalam mereka jual, dan Telkom tidak mau melakukan hal itu.
Oleh karena itu, peningkatan mutu jaringan, kondisi obyektif yang ada di lapangan merupakan pertimbangan Telkom. Kadang-kadang kejujuran merupakan kekuatan, tetapi tak jarang merupakan kelemahan yang dimanfaatkan oleh pihak lain. Karenanya, Telkom melakukan edukasi, promosi dan memberikan demonstrasi kepada mereka bagaimana sistem tersebut diterapkan di suatu instansi.
Hal apa lainnya yang perlu mendapat perhatian?
Televisi merupakan sumber informasi yang paling cepat, paling akurat dan paling menarik, tetapi isinya kan lebih banyak hiburan. Sebagian ada yang sudah mulai dengan TV-TV berita, itu sudah bagus. Itu merupakan bagian dari konten yang bisa dikemas ke telekomunikasi. Nantinya, kita juga bisa melihat televisi tidak hanya melalui layar TV, tetapi melalui layar handphone 3G, yaitu mobile TV. Ini juga yang akan dilakukan Telkom, karena Telkom memiliki anak perusahaan yang bergerak di bidang TV cable . Kontennya, kalau Telkom yang harus membangunnya sendiri, tentu akan memerlukan biaya yang mahal. Untuk itu, diperlukan kerjasama dengan video broadcasting yang sudah bermain di News, khususnya di dalam negeri.
Kalau hari ini kita berbicara mengenai informasi, berbicara mengenai konten, maka yang ada adalah konten dari luar. Jika membeli konten dari luar, yang kita beli sesungguhnya hanya konten, tetapi kita sudah kehilangan sesuatu, yaitu kehilangan bandwidth , karena harus keluar. Jadi ada lorong yang sia-sia, karena hanya digunakan untuk mengambil konten dari luar. Nah, alangkah baiknya kalau konten itu bisa diperoleh di dalam negeri, sehingga yang ada adalah bandwidth transaksi, bukan bandwidth untuk lintasan semata.
Apa rencana Telkom ke depan?
Tantangan ke depan adalah bagaimana Telkom tidak kedodoran mengikuti penyelenggara-penyelenggara telekomunikasi yang baru, yang otomatis menggunakan teknologi baru, digital, yang lebih murah dan cepat. Penginstalasiannya juga lebih singkat dan time to market -nya sangat menarik. Nah, modernisasi di Telkom adalah manakala Telkom nantinya memulai suatu proyek yang kami sebut next generation network (NGN) program, yaitu memodernisasi dan meremajakan seluruh infrastruktur yang dimiliki Telkom.
Berapa lama lagi hal itu akan terwujud?
Untuk lima tahun ke depan itu sudah harus diterapkan. Sekarang ini kita mulai dengan konsep sambil menunggu teknologinya mature. Kemudian kita akan mulai dengan persiapan yang bersifat nasional. Karena, kalau dimulai dengan tatanan yang bersifat regional, dia akan mahal. Karenanya, dia harus merupakan sebuah program yang berskala nasional.
Kalau ini terjadi, dia akan menjawab sekaligus berbagai kebutuhan, baik di tingkat residensial, personal maupun korporasi dan tidak hanya voice, tetapi juga multimedia, tidak hanya fixed, juga bergerak. Teknologi menyediakan kesempatan ini. Kalau kita lihat ke depan, selain ada NGN, juga ada WiMAX.
Sekarang ini Telkom bergegas dengan Flexi untuk menutup kantong-kantong yang sekarang belum terisi telepon fixed, yang banyak ditunggu masyarakat. Telkom ingin mempercepat pembentukan masyarakat informasi melaui internet, antara lain dijawab melalui layanan TelkomNet Instant dan juga Speedy. Jika tidak dimulai sekarang, dua tahun lagi ada teknologi baru yang bisa meng cover , baik Flexi maupun Speedy dalam suatu kemasan sistem. Kalau Telkom tidak segara memulainya, maka pasarnya akan diambil oleh yang lain.
Selain berbisnis, Telkom terbukti cukup peduli dengan kepentingan masyarakat. Apa saja yang dilakukan?
Telkom sangat peduli kepada masyarakat dan itu ditunjukkan melalui program-programnya misalnya, internet goes to school, internet goes to campus . Begitu juga program Telepon Umum, dimana yang lain tidak bisa melakukan program-program universal services obligation (USO). Telkom is not jus a matter of operator. Dia adalah sebuah institusi yang kompleks. Telkom memiliki kepedulian yang tinggi kepada masyarakat dan bangsanya. Ini kadang-kadang menjadi kekuatan, tapi tak jarang menjadi kelemahan.
Namun, kalau dilihat dari sisi bisnis, Telkom memiliki pertumbuhan yang cukup tinggi, antara lain EBITDA yang baik, memiliki margin revenue yang lebih atraktif dibandingkan oleh kebanyakan penyelenggara telekomunikasi di kawasan ini.
Yang Anda maksud di Asia?
Di Asia Pasifik. Di Asia Tenggara, Telkom menempati urutan kedua, setelah SingTel. Dari sisi bisnis, Telkom ini lebih besar dari Telekom Malaysia, lebih baik dari Korea Telecom. SingTel ini bisa lebih baik, karena negaranya memang sudah tertata dengan baik, karena masyarakatnya memang dipaksa untuk disiplin, ditambah lagi negaranya juga jauh lebih kecil. Dan, Telkom merupakan salah satu BUMN yang memberikan kontribusi yang sangat besar kepada negara dan ini dirasakan oleh Telkom dengan kesadaran penuh bahwa sebenarnya bisa lebih besar ldari itu. Ini terutama karena Menteri Negara BUMN sangat memberikan apresiasi, tantangan dan keleluasaan kepada Telkom dalam berkiprah.
Untuk menghadapi persaingan yang semakin kompetitif, terutama dengan hadirnya investasi asing, apa yang sangat perlu diperhatikan?
Pengembangan Telekomunikasi memiliki empat parameter pokok. Pertama , regulasi; Kedua , pemilihan teknologi; Ketiga , kompetisinya sendiri, dan Keempat , interkoneksi dan tarif. Regulasi boleh dikata peranannya 35% dari pertumbuhan masa depan pertelekomunikasian di Indonesia. Kalau kita lihat kehadiran penyelenggara asing di Indonesia adalah dengan cara membeli lisensi, yang sebetulnya diberikan kepada pemilik lisensi asal Indonesia sendiri. Tetapi, regulasinya tidak mendukung sebuah komitmen pembangunan.
Sebetulnya, seseorang yang mendapatkan lisensi berarti mendapatkan suatu kewajiban untuk membangun lisensi, bukan sebuah komoditas. Dia merupakan kewajiban untuk membangun dengan jangka waktu tertentu dan target tertentu, dan kalau tidak tercapai dia harus dikoreksi. Tetapi, yang ada saat ini merupakan bagian dari sejarah lama perjalanan kenegaraan kita. Saya kira pemerintah yang sekarang sudah melihat, bahwa siapa yang memiliki lisensi dia mempunyai kewajiban untuk mengisi lisensi tersebut sesuai kontrak lisensi yang diperoleh.
Namun, bagi Telkom kondisi seperti ini memberikan pelajaran bahwa pasar Indonesia sebetulnya besar. Jika tidak, tidak mungkin mereka berlomba-lomba masuk ke sini. Karena itu, Telkom betul-betul memperhatikan apakah Telkom harus keluar, go international , atau harus fokus ke dalam negeri dan Telkom memilih untuk fokus menjaga pasar dan sistem pertelekomunikasian Indonesia sambil bekerjasama dengan mitra-mitra di luar. Tidak dalam bentuk investasi, tetapi kerjasama R&D dan pertukaran informasi.
Saat ini saham Telkom dimiliki publik, terutama asing, bagaimana pandangan Anda?
Telekomunikasi, pertama-tama adalah alat silaturahmi, kedua untuk komunikasi, dan ketiga untuk transaksi. Tetapi, dalam konteks lain, telecommunication is national security . Di banyak negara, telekomunikasi memiliki carrier flag , di Inggris ada British Telecom, di Jerman ada Deutsche Telekom, di Belanda ada Netherland Telekom, di Malaysia ada Telekom Malaysia dan di Indonesia ada Telkom Indonesia dan inilah national carrier flag yang status kepemilikannya tidak boleh mayoritas dikuasai orang lain. Dia harus dikontrol oleh Indonesia sendiri .
Nah, s ekarang ini Telkom 49% dimiliki publik, dan 51% dimiliki pemerintah. Ini sudah majority under control pemerintah dan kebetulan jajaran direksinya juga orang Indonesia sendiri dan Telkom akan secara berangsur membeli saham yang ada di pasar. Artinya, ada komitmen dari manajemen Telkom dan pemerintah untuk menjadikannya sebuah pilar, national telecommunication , dengan security guard yang tinggi.
Anda ingin mengatakan bahwa dukungan pemerintah, yang bersifat nasional sungguh sangat diperlukan?
Ya, itu sangat kita perlukan. Kita tidak bisa membiarkan, misalnya pemerintahan ini berjalan dengan koordinasi yang bersifat manual, dimana setiap ada kebutuhan yang mendadak, maka para pejabat harus datang menghadap kepada pejabat lain yang lebih tinggi. Suatu hari, hal ini harusnya bisa diselesaikan secara video conference . Mengapa tidak?
Nah, oleh karena itu, ke depan memang diperlukan suatu bimbingan, suatu ajakan dari pemerintah bagaimana membuat, misalnya seperti American Information Superhighway , yang dinyatakan oleh Al Gore, Wakil Presiden Amerika waktu itu. Atau, seperti Cyber Jaya oleh Mahatir Muhammad, 15 tahun lalu, yang mengatakan akan membangun Malaysian Super Corrido r (MSC), atau SingaporeOne di Singapura.
Kalau hanya Telkom yang menyatakannya, maka itu hanya sebatas Telkom. Tetapi, kalau itu dinyatakan oleh pimpinan negara, dia akan menjadi proyek negara yang merupakan kumpulan mozaik-mozaik backbone atau berbagai services yang bisa di deliver oleh banyak operator, tidak hanya Telkom.
Selain itu, penyelenggara lain juga akan mendapatkan keuntungan dari program semacam ini, yaitu mereka akan dapat mengetahui berapa besar potensi yang ada di masing-masing penyelenggara. Sekarang ini, Telkom tidak mengetahui berapa banyak backbone yang dimiliki penyelenggara lain. Berapa besar bandwidth yang dimiliki, karena kita tidak memiliki suatu proyek yang bersifat nasional, yang dipayungi oleh suatu government policy. Inilah yang kita harapkan ke depan, karena hal ini yang akan membawa masyarakat Indonesia, melalui korporasi, ini jauh lebih cepat ke depan untuk menjadi masyarakat informasi. Karena, masyarakat informasi itu is a need .
Untuk itu, pemerintah harus menempatkan telekomunikasi sebagai bagian utama dari sebuah pembentukan masyarakat secara utuh, selain energi dan transportasi. Dan, Telkom akan memberikan pemikiran-pemikiran, sehingga telekomunikasi tidak hanya berhenti seperti sekarang ini menjadi komoditas, yang lisensinya diperebutkan oleh investor atau orang asing saja. Dia harus menjadi kekuatan bangsa ini, tanpa ada komitmen seperti itu, maka telekomunikasi hanya merupakan prasarana untuk bisnis saja, tidak punya tujuan strategis untuk menuju sebuah dunia yang memang tanpa batas lagi.
|