Volume IV No 32 - Januari-Februari 2006
 

 

Emerging Technology
Revolusi Di Balik Layanan Web

 

Popularitas Google membuka mata orang terhadap potensi teknologi Ajax, yang memungkinkan aplikasi web memiliki respons layaknya aplikasi desktop. Bagaimana peluang teknologi ini untuk aplikasi enterprise?

Sebagai suatu perusahaan dotcom, Google merupakan fenomena tersendiri. Setelah melakukan IPO sekitar dua tahun lalu, bintang perusahaan yang didirikan Sergei Brin dan Larry Page ini pun semakin terang. Harga sahamnya melonjak jauh di atas harga penawaran awal, dari 85 dolar Agustus 2004 menjadi sekitar 400-an dolar akhir tahun ini.

Sementara itu, kapitalisasi pasar yang dimiliki Google juga cukup mencengangkan, dengan nilai lebih dari 120 miliar dolar AS. Tak heran jika perusahaan yang bermarkas di Mountain View, California, ini menjadi magnet bagi berbagai jenis perusahaan, mulai dari perusahaan Web debutan, yang berharap untuk dibeli atau diakusisi oleh Google guna melengkapi portofolio layanannya hingga para venture capitalist maupun investor kelas wahid semacam Morgan Stanley dan Credit Suisse, yang datang dengan penawaran merjer, akuisisi, pembiayaan serta konsultasi strategis.

Google, memang dipandang sebagai simbol kebangkitan era dotcom. Sebagai rajanya search engine , semua orang mengakuinya. Tapi, di luar itu, Google juga menawarkan berbagai layanan berbasis Web yang tak kalah atraktif dan populer. Sebut saja layanan email gratis Gmail, Google Location, Google Suggest dan sejumlah layanan lainnya.

Yang sering terlewatkan dan tidak disadari orang bahwa popularitas Google dan layanan-layanan berbasis Web-nya merupakan blessing in disguise bagi suatu teknologi yang selama ini kurang mendapatkan publisitas. Teknologi itu dikenal dengan nama AJAX ( Asynchronous Javascript + XML) , dan merupakan suatu teknik pemrograman untuk membangun aplikasi-aplikasi berbasis Web yang terlihat dan bekerja layaknya peranti lunak desktop.

Teknologi ini disebut-sebut sejumlah analis sebagai teknologi yang nantinya akan menjadi peranti front end utama bagi Web Services dan SOA ( service oriented architecture ). Bahkan, sejumlah pihak kini mulai menerapkannya. Ada sejumlah pihak yang juga percaya bahwa Ajax akan banyak digunakan sebagai user interface di sebagian besar SOA dan human-facing Web services . Namun, hal itu baru akan terjadi di masa mendatang.

Serasa aplikasi desktop

Sebagai teknologi, penggunaan Ajax tidak diatur dengan standar atau badan standar tertentu. Bahkan, Ajax bukanlah suatu teknologi tunggal. Alih-alih, Ajax lebih merupakan teknologi gado-gado, perpaduan sejumlah teknologi yang sesungguhnya sudah sangat dikenal di kalangan pengembang aplikasi Web.

Sebut saja XHTML dan CSS untuk fungsi presentasinya, Document Object Model untuk tampilan dan interaksi dinamis, XML dan XSLT untuk proses tukar menukar dan manipulasi data, serta XMLHttpRequest untuk proses penarikan data secara asinkron. Keseluruhan fungsi-fungsi tersebut dirajut menjadi suatu aplikasi dengan menggunakan JavaScript.

Dibanding aplikasi web tradisional, aplikasi yang dibangun dengan Ajax menawarkan pengalaman akses yang berbeda. Pada aplikasi web tradisional, setiap aksi yang dilakukan user pada interface akan memicu dikirimnya HTTP request ke suatu web server. Server melakukan sejumlah pemrosesan, mulai dari data retrieving , mengolah angka-angka, dan, kalau diperlukan, melakukan akses ke sejumlah sistem legacy. Setelah proses itu selesai, baru kemudian server mengirim balik hasilnya dalam bentuk halaman HTML ke hadapan client.

Aplikasi seperti ini jelas memiliki poin minus dari sisi user experience . Ketika suatu Web server tengah melakukan tugasnya, praktis yang dilakukan pengguna adalah menunggu dan menunggu. Selesai satu tugas, dan berlanjut pada tugas berikutnya, kembali lagi pengguna harus menunggu.

Nah , berbeda dengan aplikasi web tradisional, aplikasi berbasis Ajax mencoba menghilangkan interaksi terputus seperti di atas, dengan menempatkan engine Ajax , yang berfungsi sebagai perantara antara pengguna dan server. Sepintas, jika dilihat, penambahan satu lapis ke dalam aplikasi justru membuat aplikasi itu kurang responsif. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya.

Alih-alih hanya me- loading suatu halaman web, pada awal sesi penggunaan aplikasi browser, pengguna akan me-load sebuah engine Ajax , yang biasanya dibuat dengan JavaScript. Engine ini bertanggung jawab menampilkan interface yang akan pengguna lihat, dan berkomunikasi dengan server sesuai aktivitas yang dilakukan server. Interaksi pengguna dengan aplikasi ini berlangsung secara asinkron. Maksudnya, tidak bergantung pada komunikasi dengan server. Dengan begitu, si pengguna tidak akan pernah mengalami melihat tampilan window browser kosong dan ikon jam pasir, yang menandakan bahwa web server sedang melakukan sesuatu.

Setiap aktivitas pengguna, yang biasanya akan menghasilkan HTTP request, kini digantikan dengan proses pemanggilan engine Ajax oleh JavaScript. Setiap respon terhadap permintaan pengguna yang tidak membutuhkan komunikasi dengan server, misalnya validasi data sederhana, pengeditan data dalam memori dan bahkan navigasi, ditangani sendiri oleh engine itu. Jika engine membutuhkan sesuatu dari server untuk bisa merespon, misalnya mengirim data untuk diproses atau menarik data baru, engine akan melakukan proses itu secara asinkron, biasanya dengan menggunakan XML, tanpa harus memutus interaksi pengguna dengan aplikasi tersebut.

Cukup banyak aplikasi Web berteknologi Ajax yang sudah digelar. Salah satu perusahaan yang terbilang agresif memanfaatkan Ajax adalah Google. Perusahaan itu berinvestasi cukup besar dalam mengembangkan aplikasi dengan pendekatan Ajax . Produk-produk Google yang dirilis tahun lalu seperti Orkut, Gmail, Google Groups, Google Suggest dan Google Local merupakan aplikasi-aplikasi berbasis Ajax. Sementara, berbagai fitur populer di dalam Flickr juga bergantung pada Ajax , dan search engine A9.com milik Amazon diketahui juga menerapkan teknik yang sama.

Hal itu memperlihatkan bahwa selain secara teknologi cukup mapan, Ajax juga bisa diwujudkan ke dalam aplikasi nyata, bukan sekedar eksperimen laboratorium.

SOA dan Web Services

Melihat Ajax lebih banyak digunakan pada layanan-layanan di tingkat konsumen, akankah teknologi ini mendapat tempat pada aplikasi enterprise? Apa dampaknya terhadap SOA dan Web Services?

Sejumlah analis TI di AS mengatakan bahwa Ajax berpeluang menembus ranah enterprise, sekalipun pengadopsiannya mungkin agak sedikit lambat. Ron Schmelzer, analis senior di ZapThink, mengatakan bahwa pada akhirnya aplikasi Ajax akan mengambil alih portal enterprise, yang saat ini menggandengkan Web service dan SOA.

“Karena ( Ajax ) menawarkan fungsionalitas yang lebih kaya, orang akan menggantikan portal berbasis Web dengan aplikasi client yang dibangun dengan Ajax ,” ujarnya. Aplikasi seperti itu tidak saja digunakan secara internal perusahaan, namun juga untuk berinteraksi dengan pelanggannya.

Situs-situs Web banking misalnya, menurut Schmelzer mulai menggunakan aplikasi-aplikasi Ajax untuk mempermudah pelanggannya mengakses layanan keuangan. “Pada dasarnya Ajax memungkinkan pengalaman penggunaan aplikasi itu dibuat semirip mungkin dengan peranti lunak desktop,” ujarnya.

Optimisme yang sama juga diperlihatkan Kevin Hakman. Hakman, yang kini menjabat sebagai product marketing director di Tibco Software Inc. dan pendiri General Interface, vendor peranti pengembang Rich Internet Application, mengungkapkan keyakinannya bahwa masa depan Web service maupun SOA akan terkait erat dengan Ajax .

Menurut dia, Ajax merupakan sesuatu yang penting karena ia memungkinkan orang menggunakan browser nya untuk berinteraksi secara langsung dengan SOA dan Web services. “ Ajax merupakan cara terbaik untuk mengakses Web service dan aset-aset SOA,” ujar Hakman. Saat ini, Web service dan SOA berfungsi dengan baik pada tingkat interaksi machine-to-machine , namun masih menemukan kesulitan untuk membuat interface yang mempermudah orang mengakses layanan itu, lanjutnya.

Meski begitu, Ajax belum digunakan secara luas untuk aplikasi Web Service maupun SOA. Ajax belum dikenal luas di kalangan pengembang peranti lunak, dan bahkan belum mendapatkan perhatian di kalangan pengelola bisnis. Padahal, yang terakhir ini berperan penting dalam menentukan jalan atau tidaknya suatu proyek TI. “ Ajax memang masih merupakan bahan perbincangan di kalangan pengembang, dan masih banyak upaya yang harus dilakukan untuk bisa menembus tingkat bisnis,” ujar Schmelzer.

Kendala developer

Selain itu, pengembangan aplikasi berbasis Ajax menurut sejumlah analis tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi pengembang peranti lunak yang mengenal Ajax masih relatif terbatas. Seperti dijelaskan Schmelzer, untuk membangun layanan berbasis teknologi Ajax , Google membentuk tim tangguh yang terdiri dari para pengembang papan atas Ajax . “Namun, perlu diingat bahwa Google merupakan perusahaan kaya, sehingga untuk mewujudkannya lebih mudah,” ujarnya.

Di sisi lain, perusahaan pada umumnya tidak memiliki kemewahan dan kesempatan seperti yang diperoleh Google ketika membangun dream team Ajax-nya. Tidak seperti Google, yang memiliki dana nyaris tak terbatas dan sanggup membatalkan suatu proyek sekalipun sudah keluar dana banyak, sebagian besar perusahaan memiliki jadwal yang lebih ketat dan menuntut kepastian.

Selain itu, menurut Robert Lepack, vice president marketing , ICESoft, sebuah perusahaan yang membuat development too l untuk Ajax mengingatkan bahwa orang cenderung membicarakan segi manfaat Ajax, namun lupa memperhatikan kompleksitasnya, khususnya ketika menggandengkan Ajax dengan SOA.

Hal itu juga diamini Hakman, yang mengakui bahwa banyak kompleksitas yang bakal dihadapi ketika menggunakan Ajax . Namun, di sisi lain kompleksitas itu akan terbayar dengan manfaat yang diperoleh dari teknologi tersebut.

Kalau perusahaan ingin memanfaatkan Ajax namun pengembangnya tidak berpengalaman dengan teknologi itu, Hakman menyarankan sejumlah jalan pintas yang mempermudah perusahaan “mencicipi” Ajax terlebih dahulu. Menurut dia, Google telah merilis kode dan snippet (kode program kecil untuk menjalankan fungsi tertentu) Ajax-JavaScript dengan lisensi open source . Setiap developer bisa mengambil snippet ini dan langsung menggunakan atau mempelajarinya. Selain itu, ia juga menyebutkan ada sejumlah modul mirip widget yang tersedia secara online dan bisa diambil secara gratis, seperti misalnya widget untuk menampilkan tabulasi data.

Mengenai pengadopsian Ajax dalam Web service dan SOA, Hakman mengatakan bahwa hal itu masih dalam tahap dini. Perusahaan-perusahaan yang menerapkannya cenderung tergolong sebagai inovator dan IT leader , selain juga termasuk perusahaan-perusahaan pertama yang menerapkan SOA.

Ia pun mengungkapkan keyakinannya bahwa akan ada sinergi alamiah antara SOA dan Ajax , dimana Ajax berpotensi mempercepat sambutan pengguna dan penggelaran SOA. Menurut dia, Ajax membantu membuat manfaat SOA menjadi lebih jelas, sehingga dengan sendirinya akan mendorong pengadopsian SOA. “Dengan Ajax, end user dari kalangan bisnis akan bisa melihat manfaat nyata dari SOA dan juga memperlihatkan dengan jelas nilai strategis SOA,” ujarnya setengah berpromosi.

Ia pun tidak memiliki keraguan bahwa nantinya Ajax akan digelar secara luas bersama-sama dengan Web Services dan SOA. Meski Ajax belum dikemas dalam suatu produk, hal itu akan terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi. “Mungkin dalam 24 bulan mendatang akan sulit untuk tidak menjumpai aplikasi enterprise yang mengandung unsur Ajax ,” katanya.

Pendapat Hakman ini boleh dikatakan cukup realistis, mengingat dukungan para vendor peranti lunak pada teknologi Ajax pun mulai mengalir (lihat boks “Vendor Pun Mulai Melirik Ajax ”). Namun, apakah Ajax dalam perkembangannya hanya menjadi hype belaka, dan dipandang sebagai tren sesaat yang mendompleng popularitas Google? Waktu dan pasarlah yang akan menjawabnya! cin/aa

 

SIDE BAR

Vendor Pun Mulai Melirik Ajax

Sekalipun populer sebagai tulang punggung aplikasi berbasis web untuk consumer services , Ajax belum bisa berbicara banyak untuk penggelaran aplikasi-aplikasi enterprise. Namun, dalam beberapa tahun ke depan, kondisi ini agaknya bakal berubah dengan semakin banyaknya vendor peranti lunak yang melirik potensi besar dibalik teknologi Ajax .

Tahun 2006 ini, produk-produk Ajax diperkirakan akan mulai membanjiri pasar. Artinya, para software house pun memiliki banyak pilihan tools untuk membuat front end aplikasi Web-nya yang meniru fungsionalitas aplikasi desktop.

Vendor-vendor yang membangun tool ini rata-rata juga merupakan vendor yang mengembangkan tool service-oriented architecture (SOA), sehingga peluang memadukan Ajax dengan SOA pun semakin terbuka lebar.

ClearNova misalnya, merilis beta versi kedua dari platform pengembangan aplikasi ThinkCap JX. Produk ini menempatkan interface program aplikasi yang bersifat client-centered pada server, sehingga memungkinkan para pemrogram melakukan perubahan interface dengan menggunakan Java, bukan JavaScript. Hal itu akan membuka peluang lebih banyak pemrogram yang bisa memanfaatkan keunggulan fungsionalitas Ajax .

Microsoft dikabarkan merilis Atlas versi beta, yang menerapkan teknologi Ajax ke dalam ASP.NET. BEA Systems Inc., juga akan memasukkan fungsionalitas Ajax ke dalam produk portalnya dan menambahkan Ajax API ke runtime tool -nya.

Selanjutnya, masih ada Sun Microsystem yang rencananya akan mengawinkan Ajax dengan aplikasi Java Server Faces-nya. Vendor enterprise service bus (ESB), CapeClear Software rencananya juga akan menambahkan peranti Ajax ke dalam produk-produknya yang bersifat SOA-sentris.

Sementara itu, vendor pertama yang mengawinkan front end Rich Internet Application (RIA) dengan middleware juga tidak mau kalah dengan merilis General Interface. Menurut Kevin Hakman, product marketing director Tibco, tool ini memungkinkan pengembang peranti lunak menggelar aplikasi Ajax tanpa harus bergantung pada applet, plug-in maupun instalasi framework client/server . Selain itu, komponen Ajax yang sudah dibuat dimungkinkan untuk digunakan kembali pada aplikasi lainnya.

Dukungan vendor-vendor kuat pada gilirannya tentu akan semakin mendongkrak popularitas Ajax , dan secara tidak langsung juga mendorong popularitas Web service dan SOA. Dan, yang tak kalah penting, populasi pengembang peranti lunak yang menguasai Ajax pun semakin bertambah. arief

© 2003 - 2006 eBizzAsia. All rights reserved.