Volume IV No 32 - Januari-Februari 2006
 

Alihdaya Proses Bisnis

 

Tuntutan alihdaya lebih pada tersedianya solusi yang berkualitas dan mampu memberikan nilai yang dibutuhkan. Pertimbangannya tidak lagi semata-mata pada biaya yang lebih murah, melainkan pada nilai-nilai yang dibutuhkan untuk meningkatkan bisnis.

Tahun 2006, perusahaan-perusahaan akan lebih fokus pada makna sesungguhnya dari alihdaya ( outsourcing ), yakni menyerahlan pelaksanaan tugas-tugas tertentu ke mitra yang ahli, tak peduli di mana lokasinya, melainkan siapa yang bisa memberikan nilai lebih tinggi bagi bisnis mereka. Mereka akan semakin melihat keuntungannya terhadap bisnis mereka, seperti meningkatkan keamanan bisnis, memberikan pelayanan pelanggan yang lebih bermutu, meningkat pengelolaan risiko, peningkatan efisiensi operasional dengan biaya total yang lebih rendah, serta memaksimalkan investasi TI mereka.

Tujuan alihdaya mancanegara masih akan tertuju ke India , Eropa Timur , China dan sebagian Amerika dan Kanada. Pertimbangan nilai-nilai yang terukur terhadap bisnis akan menjadi pertimbangan alihdaya yang dilakukan, dibandingkan hanya masalah biaya.

“Suatu perusahaan bisa saja mengalihdayakan dukungan TI-nya ke mancanegara dengan pertimbangan biaya tenaga kerja yang lebih murah, tetapi jika dibutuhkan lebih banyak waktu bagi karyawan untuk menghubungi staf pengalihdaya, terutama karena kendala teknologi dan bahasa, maka tak banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari alihdaya global semacam itu.

Tahun 2006, alihdaya akan semakin banyak dilakukan, tetapi perusahaan-perusahaan akan lebih disiplin dari sebelumnya. Pilihan-pilihannya semakin banyak, antara lain meminta pengalihdaya untuk menjalan dan memelihara, atau pola membayar sesuai penggunaannya ( pay-per-use subscription ).

Selain itu, kalau sebelumnya alihdaya lebih banyak dilakukan dalam skala besar, yang mencakup sebagian besar proses bisnis ( Business Process Outsourcing ) , tetapi ke depan akan lebih spesifik untuk pekerjaan tertentu saja. Misalnya, kalau dulu mengalihdayakan departemen keuangan dan akunting, maka ke depan hanya fokus pada aspek proses teransaksinya saja, atau menangani pelayanan pelanggan, menyiapkan budget dan melakukan forecasting, dan lain sebagainya.

Multisourcing tampaknya akan semakin banyak dipilih, karena perusahaan-perusahaan merasakan adanya risiko yang lebih besar hanya mengalihdayakan pada satu orang atau perusahaan tertentu. Ditambah lagi, perhatian terhadap masalah sekuriti dan privasi akan lebih menonjol, karena hal itu terkait dengan pengelolaan risiko yang lebih baik, terutama dalam menghadapi persaingan bisnis yang jauh lebih kompetitif.

Alihdaya, kini tak hanya dilihat sebagai upaya pelaksanaan kegiatan bisnis secara lebih baik sambil menghemat biaya, tetapi juga, yang tak kalah pentingnya, adalah mampukah hal itu memberikan nilai-nilai yang dibutuhkan perusahaan sebagaimana diharapkan. Pertimbangan biaya yang murah, kini dibarengi dengan ukuran-ukuran performansi dan Service Level Agreements ( SLA ) yang jelas dan terukur.

Kesadaran terhadap makna alihdaya terus meningkat, sehingga perusahaan-perusahaan yang akan mengalihdayakan sebagian proses bisnis mereka akan semakin jeli, menuntut layanan yang lebih baik, dan bahkan menggunakan penasehat luar untuk membantu mereka guna mendapatkan hasil optimal dari alihdaya yang mereka lakukan. Dan, pertimbangannya tak hanya biaya, tetapi juga nilai terhadap peningkatan bisnis mereka. Hal ini tak hanya terjadi di mancanegara, melainkan di dalam negeri dan antar perusahaan.

Hal ini juga menjadi tantangan para pengalihdaya, karena mereka semakin dituntut untuk mampu memberikan layanan yang fokus, berkualitas dan mampu memberikan nilai yang dibutuhkan pelanggan mereka. Persaingannya tak bertumpu pada harga yang murah, melainkan kompetensi dalam menjawab kebutuhan pelanggan. Nah, dalam konteks itu, kehadiran pihak ketiga dalam memberikan dukungan untuk mendapatkan pengalihdaya yang tepat, yang memenuhi kebutuhan, semakin berperan penting.

Di sisi lain, kapital intelektual perusahaan semakin banyak yang berpindah ke penyedia layanan (pengalihdaya), sehingga penyedia layanan kemudian bisa berubah menjadi pesaing perusahaan. Salah satunya terjadi di lingkungan industri asuransi, dimana awalnya perusahaan asuransi menyerahkan proses transformasi sistem legacy -nya ke pengalihdaya. Kemudian pengalihdaya menjawabnya sesuai dengan persyaratan proses bisnis perusahaan asuransi.

nalis Gartner memperkirakan bahwa perusahaan-perusahaan pengalihdaya, pada tahun 2008, mendatang akan semakin banyak memiliki kapital intelektual dan platform teknologi yang memungkinkan mereka terhubung dengan kanal distribusi, misalnya perbankan maupun lembaga-lembaga investasi. Pada saat itu, mereka berpeluang untuk meluncurkan insurance ventures , yang nilainya bisa mencapai satu persen dari nilai premi tahunan asuransi jiwa, anuitas, produk-produk lainnya secara global.

© 2003 - 2006 eBizzAsia. All rights reserved.