Volume IV No 32 - Januari-Februari 2006
 

Teknologi Integrasi

 

 

Tahun 2006 ini akan semakin banyak perusahaan yang mulai melakukan bersih-bersih, dalam arti menghilangkan sistem-sistem yang tidak perlu atau redundant. Sebaliknya, perusahaan mulai menerapkan teknologi-teknologi integrasi, seperti Web services dan service oriented architecture (SOA), khususnya untuk membangun kembali beragam layanan dengan solusi-solusi yang lebih elegan. Penerapannya lebih ditujukan untuk memadukan aplikasi-aplikasi yang selama ini terpisah-pisah, sambil menghilangkan sistem-sistem lama yang berbiaya besar dan terus memperkuat hubungan dengan mitra kerja. Diharapkan penerapan sistem berbasis teknologi terpadu ini akan meningkatkan jumlah layanan yang dikembangkan dan frekuensi penggunaannya, sehingga akan menaikkan ROI ( return on investment ).

SOA, khususnya web services-based SOA , merupakan topic hangat dalam enterprise computing, karena para professional TI semakin melihat potensi SOA, terutama dalam mempercepat proses-proses pengembangan aplikasi. Mereka juga melihat bahwa SOA merupakan suatu cara untuk membangun berbagai aplikasi dan sistem yang lebih mudah diadaptasi, dan mereka juga melihat bahwa sistem TI lebih responsive terhadap berbagai perubahan kebutuhan bisnis.

Gartner, dalam salah satu laporannya, malah memperkirakan bahwa pada tahun 2008, SOA akan menjadi praktik pembuatan peranti lunak yang umum dilakukan, yang berarti mengakhir 40 tahun dominasi arsitektur peranti lunak monolitik. Diperkirakan lebih lanjut, bahwa sepanjang tahun 2008 itu, SOA dan web services akan diterapkan bersama dalam lebih dari 75 persen proyek-proyek SOA atau web services yang baru. Tetapi, selain tren yang semakin kuat ini, sebagian komunitas TI tak begitu meyakini bahwa web services yang dijadikan fondasi penerapan SOA cukup matang untuk pertimbangan mereka bermigrasi ke SOA. Sementara bagi sebagian lainnya, tak memiliki gambaran apapun mengenai SOA dan web service .

Salah satu temuan Yankee Group, dalam salah surveinya terhadap 300 perushaan Amerika yang mengadopsi SOA menyebutkan bahwa “tahun 2006 akan menjadi tahun benchmark bagi SOA”. Kalau sebelumnya solusi itu lebih banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan besar untuk menyelamatkan proses dan aplikasi yang sedang “sakit”, maka ke depannya akan lebih banyak diterapkan oleh berbagai perusahaan, tak peduli ukurannya (besan atau kecil), apakah industri vertical dan sebagainya.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa SOA untuk ritel akan mengalami pengadopsian paling cepat, setidaknya dalam 12 bukan mendatang ini. Rencana penerapan SOA untuk tahun 2006 ini dinilai sudah cukup padat, yakni untuk industri komunikasi nirkabel atau wireless (93%), ritel (92%), keuangan (89%), manufaktur (76%) dan pemerintahan (75%). Yankee memperkirakan bahwa tahun 2006 akan menjadi tahun awal penyelesaian proyek-proyek SOA.

Survei lainya menunjukkan bahwa yang terpenting bukan terjadinya penerapan banyak proyek XML/Web service, melainkan bagaimana menghasilkan penerapan SOA yang fungsional, yang bekerja secara baik dengan sistem-sistem lainnya dan diterapkan secara menyeluruh di suatu perusahaan ( enterprise-class ).

Namun, ke depan, diperkirakan akan semakin banyak perusahaan yang akan menerapkan SOA dan Web Service ini. Ini dikarenakan sistem-sistem yang berbasis SOA akan memberikan, setidaknya tiga manfaat, yakni: 1. bersifat terbuka, cross platform , dan cross browser, sehingga mengurangi risiko sistem-sistem proprietary ; 2. dirancang untuk membangun sisten terpadu dan memiliki interoperabilitas yang tinggi, sehingga semakin mudah dikelola dan dikustomisasi; 3. memiliki antaramuka ( interface ) yang dapat digunakan baik untuk aplikasi yang ada atau legasi, serta kemampuan menambah dan memperbarui utilitasnya.

Tahun 2006 tampaknya akan menjadi tahunnya infrastruktur, tools dan metoda otomasi SOA. Para pemain di bidang ini, antara lain: Microsoft dengan Indigo, IBM dengan SCA, Rogue Wave, HP, Cape Clear , Mindreef, dan Cisco.

© 2003 - 2006 eBizzAsia. All rights reserved.