THAILAND
Taxi Bangkok Aplikasikan GPS dan ePayment
Meski dipandang sebagai sarana transportasi umum, bukan berarti taxi harus terbelakang dalam hal aplikasi teknologi informasi canggih, yang kini semakin lazim menghuni mobil-mobil pribadi keluaran terbaru.
Di Jakarta, sebuah operator taksi diketahui sudah cukup lama menggunakan sistem lacak GPS untuk mengendalikan armada taxinya. Di Bangkok , Thailand , operator taksi setempat juga mulai menggelar sistem navigasi GPS. Tak hanya itu, para penumpangnya pun bisa membayar ongkos taxi dengan fasilitas pembayaran elektronik. Bahkan di masa mendatang, taksi-taksi di Bangkok akan menjadi media iklan multimedia berjalan!
Operator taxi Bangkok , Suvarnabhumi Taxi Cooperative dilaporkan harian Bangkok Post telah menanam investasi lebih dari 10 juta baht, atau sekitar 2,4 miliar rupiah untuk menggelar sistem lacak GPS di seluruh armada taksinya.
Seperti diterapkan pada taksi-taksi di Jakarta , penerapan GPS pada armada taksi Suvarnabhumi, yang memiliki ciri khas cat hijau, ini memungkinkan kantor pusat melacak dan mengetahui keberadaan setiap unit taksinya.
Menurut salah seorang pejabat operator taksi itu, Hudsadin Eamsherangkul, melalui perangkat ini pula, kantor pusat bisa mengaktifkan dari jauh sejumlah fungsi taksi dalam keadaan darurat, misalnya menyalakan lampu darurat atau membunyikan sirene.
Para penumpang pun dimanjakan dengan kemudahan dalam pembayaran ongkos taksi. Setiap unit taksi nantinya akan dilengkapi perangkat e-payment , sehingga para penumpang cukup membayar ongkos dengan kartu kredit. Untuk urusan gesek menggesek kartu kredit ini, Suvarnabhumi menggandeng kerjasama dengan bank lokal, Kasikorn Bank serta Visa dan Mastercard.
Setiap transaksi elektronik tercatat secara akurat dan langsung diproses secara online di kantor pusat. Sehingga, ketika pengemudi taksi kembali ke pool masing-masing, mereka bisa langsung mendapatkan bagian setoran yang diproses melalui pembayaran elektronik.
Selain itu, taksi-taksi Suvarnabhumi juga dilengkapi perangkat layar yang menyajikan informasi perjalanan kepada penumpang. Bahkan, operator taksi ini rencananya juga akan memanfaatkan layar sebagai media periklanan, serta menyajikan video-video musik, trailer film serta informasi lokasi wisata.
Segi keamanan penumpang pun mendapat sentuhan teknologi informasi. Suvarnabhumi kini tengah dalam proses uji coba sistem pelacak kendaraan yang memungkinkan rekan atau anggota keluarga penumpang memantau keberadaan taksi melalui internet. Dengan demikian, kecil kemungkinan supir taksi bisa berbuat “nakal” pada penumpangnya. Apalagi, seperti dikatakan Hudsadin, seluruh data dan catatan kerja supir tercatat di database pusat. Saat ini, operator taksi yang menjalankan usahanya dengan sistem koperasi itu menampung sekitar 2.500 supir yang mengoperasikan lebih dari 1.500 unit taksi.
Penggelaran sistem GPS dan teknologi informasi di taksi ini dilakukan secara bertahap. Tahun ini sistem tersebut akan digelar di sekitar 1.000 unit taksi, dan 500 sisanya akan rampung tahun 2007. bp/aa
INDIA
India Bangun Database Profesional TI
India belum lama ini meresmikan sistem pendaftaran profesional TI nasional untuk membantu perusahaan TI menjaring dan memeriksa latar belakang calon karyawan yang akan bekerja di industri offshoring TI dan business process outsourcing (BPO) India .
Langkah ini didorong upaya India untuk mencegah terulangnya kembali kejadian pembobolan data rahasia customer di call center offshore akibat ulah pekerja TI asal India tahun lalu.
Sistem pendaftaran yang dinamakan National Skills Registry (NSR) ini digelar oleh asosiasi perusahaan peranti lunak dan jasa TI India, NASSCOM bekerja sama dengan National Securities Depository Limited (NSDL). Tujuannya untuk memperkuat keamanan industri TI India.
NSR merupakan sebuah sistem database terpusat berisi informasi mengenai latar belakang profesional dan pendidikan seluruh pekerja TI India. Untuk menjamin keotentikan data dan mencegah pemalsuan identitas, NSR menerapkan sistem verifikasi independen dan identifikasi biometrik untuk masing-masing pekerja TI.
NASSCOM mengklaim inisiatif untuk membangun pusat informasi berisi data pribadi, profesional dan pendidikan seluruh pekerja industri TI dan BPO merupakan yang pertama di dunia.
Kiran Karnik, ketua NASSCOM, mengatakan bahwa jaminan keamanan saat ini merupakan prioritas utama guna mempertahankan India sebagai negara tujuan proyek-proyek outsourcing TI yang aman.
Menurut dia, adanya sistem verifikasi independen dan identifikasi biometrik pada NSR tidak saja memberikan jaminan keamanan bagi perusahaan dan customer yang menggunakan jasa SDM TI India, tapi juga melindungi SDM India dari pihak-pihak yang ingin menyalahgunakan identitas mereka. “Inisiatif ini merupakan upaya untuk mempertahankan daya saing India di pasar TI global,” tegas Karnik.
Seperti diketahui, tahun lalu citra industri TI India sempat tercoreng akibat kasus kejahatan bank yang melibatkan SDM TI India. Bulan April tahun lalu, pihak berwenang India menahan tiga orang mantan karyawan Mphasis, sebuah perusahaan alih daya call center India , yang juga beroperasi di Cina dan Mexico . Ketiga orang itu diketahui mencuri informasi akun pribadi sejumlah nasabah bank AS dan mentransfer uang sekitar 350.000 dolar AS ke sebuah rekening palsu di Pune , India . Salah seorang yang ditahan, bahkan masih berstatus karyawan call center Mphasis.
Menurut pihak Mphasis, para pembobol ini menyalahgunakan posisinya sebagai petugas call center untuk meyakinkan nasabah bank yang menjadi korban untuk memberikan password akunnya.
NASSCOM kini tengah mempertimbangkan kemungkinan untuk memperluas sistem ini guna menjangkau para karyawan perusahaan kontraktor dan sub-kontraktor yang berhubungan dengan industri TI. Langkah ini diharapkan dapat menambah lapis keamanan industri TI India.
Saat ini, industri IT enabled services (ITES) dimana BPO termasuk di dalamnya memperkerjakan lebih dari 348.000 tenaga kerja. Sekitar 122.000 orang di antaranya bekerja di sektor customer care . Sementara indirect employment dari industri ini bisa mencapai 2 sampai 3 kali lipat dari jumlah tenaga kerja. Aa
Perusahaan TI India Ekspansi ke Eropa
Konsolidasi perusahaan TI melalui merjer dan akuisisi tak hanya dilakukan perusahaan-perusahaan AS saja. Sejumlah perusahaan India juga mulai melakukan praktik itu. Tujuannya tak saja memperluas portofolio produknya, juga membuka peluang memperluas pasar di wilayah tertentu.
Salah satu perusahaan India yang belakangan giat melakukan akuisisi perusahaan lain untuk membuka pasar adalah Wipro. Perusahaan yang bermarkas di Bangalore itu, belum lama ini, mengumumkan akuisisi sebuah perusahaan jasa desain Austria , NewLogic dan mPower, sebuah perusahaan payment processing , yang beroperasi di Chennai , India dan New Jersey , AS.
Azim Premji, chairman Wipro, menegaskan niat perusahaannya untuk lebih banyak mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang bisa membantunya memperluas pasar di Eropa, selain meningkatkan kekuatan bisnis dan skill Wipro. Perusahaan-perusahaan yang diincarnya rata-rata perusahaan kecil dengan pendapatan 100 juta dolar AS.
“Perusahaan-perusahaan kecil seperti ini mau tidak mau harus melakukan konsolidasi, karena para customer kini cenderung lebih memilih melakukan deal dengan perusahaan lebih besar yang menyediakan produk terpadu,” ujarnya. Namun, lebih jauh Premji mengatakan, bahwa tidak tertutup kemungkinan perusahaanya mengakuisisi entitas bisnis yang lebih besar.
Sejauh ini, pengintegrasian dua perusahaan yang baru diakuisisinya ke dalam pengoperasian bisnisnya berlangsung mulus. Tak lama setelah akuisisi, kedua perusahaan ini sudah menyumbang pendapatan pada kuartal ketiga sebesar 59 juta rupee atau sekitar 1,3 juta dolar dengan marjin operasi 27 persen.
Selain Eropa, Jepang juga menjadi pasar incaran Wipro. Saat ini, pasar Jepang menyumbang 4 persen dari bisnis jasa TI Wipro, dengan pertumbuhan selama kuartal ketiga sebesar 14 persen.
Seperti diakui Premji, selama lima tahun belakangan pihaknya mengalami hambatan dalam menggarap pasar Jepang. Namun, ia mengaku telah berhasil melakukan penetrasi yang cukup signifikan, khususnya di pasar industri ritel dan jasa keuangan.
Hambatan bahasa dan budaya diakui Premji merupakan faktor utama sulitnya menembus pasar Jepang. Untuk mengatasinya, Wipro saat ini telah memiliki kantor perwakilan di Jepang dengan SDM sebanyak 55 orang, 85 persen di,antaranya merupakan orang Jepang. Wipro juga mempersiapkan 200 orang insinyur dengan pelatihan bahasa Jepang maupun ketrampilan lainnya di pusat pelatihan di Chennai. Sejumlah pusat pengembangan milik Wipro di Cina juga disiapkan untuk melayani kebutuhan pasar Jepang.
Saat ini, Amerika Utara masih merupakan tujuan ekspor utama Wipro, seperti halnya perusahaan-perusahaan TI India lainnya. Sekitar 62 persen dari pendapatan jasa TI global diperoleh dari wilayah ini, sementara dari pasar Eropa 33 persen, dengan pertumbuhan tahunannya mencapai 51 persen. aa
CINA
Cina Akan Bangun Pusat Sertifikasi Linux
Pemerintah Cina berniat membangun pusat sertifikasi Linux. Langkah ini diambil untuk memastikan berbagai versi distribusi Linux sesuai standar industri.
Seperti diberitakan ZDNetAsia, pemerintah Cina sudah melakukan pendekatan dengan Free Standards Group (FSG) untuk membangun laboratorium sertifikasi Linux di negeri tirai bambu itu.
FSG adalah sebuah organisasi nirlaba dari AS yang mengelola Linux Standards Base (LSB). LSB selama ini mengembangkan dan memromosikan standar umum yang bisa memastikan interoperabilitas antara berbagai jenis perangkat yang menggunakan Linux.
Jika kerjasama ini jadi terwujud, maka pusat sertifikasi ini merupakan yang pertama berdiri di luar AS. Pusat sertifikasi ini nantinya akan dikelola FSG bersama-sama dengan China Electronics Standardization Institute (CESI).
Amanda McPherson, direktur pemasaran FSG, mengungkapkan bahwa pemerintah Cina berniat mengadopsi standar sertifikasi Linux yang dikembangkan FSG sebagai standar nasional. Salah standar yang bakal diadopsi antara lain standar LSB untuk desktop, yang akan diluncurkan tahun ini.
Menurut McPherson, pengadopsian standar LSB oleh pemerintah Cina merupakan langkah penting untuk penyatuan standar Linux di seluruh dunia. Menurut dia, salah satu hambatan terbesar dalam pertumbuhan Linux adalah disintegrasi, yang menyebabkan peranti lunak yang dibuat untuk salah satu distribusi Linux, belum tentu bisa berjalan di distribusi Linux lainnya. LSB sendiri, menurut FSG bertujuan untuk mengembangkan dan memromosikan standar yang memungkinkan aplikasi peranti lunak bisa berjalan di atas sistem operasi Linux apapun.
Saat ini, terdapat lusinan distribusi Linux yang beredar di Cina. Menurut direktur eksekutif FSG, Jim Zemlin, sejumlah distribusi Linux terkemuka seperti Sun Wah Linux, Red Flag Linux, CS2C Linux, Red Hat dan Novell Suse sudah LSB compliant .
Pemerintah Cina selama ini memang dipandang sebagai pendukung utama Linux. Sejumlah badan milik pemerintah pusat diketahui sudah menggelar Linux, antara lain kementrian sains, kementrian statistik dan lembaga perburuhan nasional. Bahkan pemerintahan daerah, pemerintah kota Beijing misalnya, dikabarkan juga menggelar Linux untuk 2.000-an desktop miliknya.
Pemerintah Cina juga merencanakan untuk menggelar ratusan ribu PC Linux dunia pendidikan. Di propinsi Jiangsu , sekitar 140.000 PC Linux akan digelar di sekolah-sekolah dasar dan menengah setempat.
Di dunia usaha, penggelaran Linux skala besar juga terjadi. Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) diketahui tengah menggelar Linux untuk server-server aplikasinya, dalam kurun waktu tiga tahun. Setelah selesai, sekitar 390.000 karyawan ICBC sehari-harinya akan mengakses berbagai jenis aplikasi yang berjalan di atas server Linux. ICBC yang memiliki aset sekitar 640 miliar dolar AS ini melayani 100 juta akun pribadi dan 8,1 juta akun korporat dan memiliki 20.000 kantor cabang yang tersebar di seluruh daratan Cina. aa
SINGAPURA
Pelabuhan Feri Singapura Terapkan RFID
Operator pelabuhan penyeberangan dan pelayaran Singapura, Singapore Cruise Center (SCC) mulai melakukan pembenahan infrastruktur TI untuk efisiensi dan penekanan biaya operasionalnya. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menerapkan radio frequency identification (RFID) untuk sistem boarding pass -nya, yang diklaim merupakan pertama di Asia Tenggara.
SCC, seperti dilaporkan ZDNetAsia menyediakan anggaran sekitar 1,53 juta dolar AS untuk membenahi infrastruktur TI di kedua pelabuhannya. Selain untuk menerapkan sistem boarding pass berbasis RFID, anggaran itu juga digunakan untuk menerapkan arsitektur sistem reservasi dan dukungan layanan berbasis Web. Implementasi seluruh sistem ini dilakukan NEC Solution Asia-Pacific.
Cheong Teow Cheng, presiden SCC, mengatakan bahwa pihaknya berharap bisa mendapatkan perbaikan yang signifikan setelah proyek ini selesai, khususnya dari sisi efisiensi biaya operasional, customer service dan keamanan.
Menurut dia, dari penerapan boarding pass berbasis RFID saja SCC bisa menghemat biaya sampai 92 persen. Saat ini, SCC masih menggunakan boarding pass ber- barcode untuk sekali pakai, dan masing-masing kartu pass menghabiskan biaya sekitar 2 sen dolar AS.
“Namun, dengan RFID, boarding pass itu bisa digunakan dan didaur ulang sampai 500 kali,” jelas Cheong. Dengan harga boarding pass berbasis RFID berkisar antara 74 sen sampai 79 sen dolar AS, maka ongkos sekali pakai bisa ditekan sampai 0,25 sen dolar, lanjutnya.
SCC diperkirakan akan membeli sekitar 1 juta kartu boarding pass berbasis RFID, yang digunakan untuk menangani sekitar 6 juta penumpang setiap tahunnya. SCC sendiri memiliki dua pelabuhan, yang melayani lalu lintas kapal feri dari enam perusahaan, dan lebih dari 50 kapal pesiar setiap tahunnya. Frekuensinya pun terbilang padat, karena setiap 5 menit, setidaknya satu kapal pergi meninggalkan pelabuhan.
Penghematan biaya juga diperoleh dari migrasi arsitektur TI-nya, dari berbasis mainframe ke arsitektur berbasis Web. Dari portal Internet yang diluncurkan SCC sejak bulan lalu, para calon penumpang bisa memesan tiket secara online , mendapatkan jadwal kapal pesiar atau feri, serta memperoleh informasi mengenai promosi diskon tiket.
Proses check-in juga bisa dilakukan sendiri oleh penumpang melalui kios-kios swalayan. Setelah mendapat kartu boarding pass , penumpang cukup melewati gerbang yang dilengkapi alat pemindai RFID dan masuk ke kapal. Dengan sistem RFID ini pula keamanan ditingkatkan, karena pihak pengelola pelabuhan bisa memonitor penumpang agar tidak bisa sembarangan memasuki wilayah-wilayah terlarang.
Dari 1,53 juta dolar AS dana yang dianggarkan, Cheong memperkirakan sekitar 183 ribu dolar digunakan untuk membangun sistem berbasis RFID ini. Sementara sebagian besar dana, sekitar 1,04 juta dolar, digunakan untuk pembelian peranti lunak dan sisanya untuk pengadaan perangkat keras seperti server.
Proyek ini dimulai sejak Nopember 2005 lalu, dan diharapkan akan selesai Maret 2007 mendatan. zd/aa |