Persoalan frekuensi 3G, yang sebelumnya ditempati oleh operator CDMA, kini setidaknya telah bersih dan siap digunakan oleh para operator 3G yang memenangkan tender beberapa waktu lalu. Namun, persoalan 3G ini tak berhenti hanya pada ketersediaan frekuensi dan adanya operator, melainkan masih banyak persoalan lain yang perlu mendapatkan perhatian.
Masalah penerapan 3G ini, sebelumnya sempat memunculkan pro-kontra. Kalangan yang kontra menilai bahwa Indonesia belum saatnya menerapkan teknologi 3G ini. Alasannya, selain berbiaya mahal, mereka juga masih meragukan apakah penerapan 3G akan mampu memberi manfaat optimal bagi para penggunannya dan mendulang rupiah bagi para operator penyedia layanan. Hal lainnya, apakah 3G akan mendorong perkembangan industri ikutan lainnya, yang berdampak lebih positif ke depan.
Singapura saja, yang secara finansial mampu, dengan pengguna ponsel yang lebih masif, meski jumlahnya relatif sangat kecil dibandingkan Indonesia, akhirnya menunda penerapan 3G, terutama karena investasi yang dibutuhkan sangat mahal. Di sisi lain, belum banyak negara di dunia yang berhasil menggunakan teknologi 3G ini sebagai sebuah model bisnis yang menjanjikan, apalagi menguntungkan. Ini persoalan mendasar dalam bisnis.
Lihat saja, saat ini, berbagai operator telekomunikasi dunia dengan penetrasi ponsel tertinggi masih terus membicarakannya secara serius dan mendalam apakah akan langsung menggunakan teknologi 3G sebagai koneksi bergerak ( mobile access ), atau lebih dahulu memperkuat penerapan GPRS ( general packet radio services ) atau UMTS ( universal mobile telecommunication system ) yang masuk dalam katagori 2,5G.
Lihat saja, layanan GPRS dan MMS ( multimedia message services ) yang hingga kini masih belum menunjukkan tingkat penggunaan yang optimal. Selain harganya dinilai cukup mahal, ponsel berkemampuan MMS pun dibanderol cukup tinggi. Pengguna juga belum memiliki “ketertarikan” yang kuat untuk menggunakan layanan tersebut, seperti ketertarikan mereka dengan SMS.
Namun, para operator tampaknya sangat terpesona oleh keberhasilan DoCoMo di Jepang dengan 3G-nya, yang kini malah dilanjutkan dengan penelitian serius soal teknologi 4G. Begitu juga dengan operator-operator Korea yang secara konten dan jaringan memang sudah terfasilitasi koneksitas berpita-lebar alias broadband . Hanya saja, pada saat yang sama, apa yang sesungguhnya terjadi di dua Negara itu kurang begitu diapresiasi, sehingga hal yang sama dapat dicarikan nilai ketertarikan penggunanya untuk menggunakan 3G sebagai layanan yang memberi nilai tambah optimal, meski untuk itu para pengguna akan dikenakan biaya yang lebih mahal dari yang sekarang.
Tetapi, apakah keberhasilan DoCoMo di Jepang dengan fasilitas akses informasi yang always-on itu dapat dijadikan acuan untuk menyelenggarakan layanan 3G di Indonesia ? Karena, bagaimana pun keberhasilan suatu aplikasi teknologi tidak semata-mata ditentukan oleh teknologi, melainkan juga budaya dan kebiasaan masyarakatnya. Keberhasilan DoCoMo, tentu saja tak bisa dilepaskan dari minat dan kesukaan membaca yang tinggi masyarakat Jepang.
Selain itu, tingkat mobilitas masyarakat Jepang sangat tinggi, misalnya terlihat dari tingginya penggunaan berbagai moda transportasi umum, baik ketika pergi maupun pulang kerja. Kebiasaan itu, yang ditopang oleh kebiasaan membaca, jelas telah memunculkan kebiasaan untuk mengisi waktu luang mereka dalam perjalanan dengan membaca, misalnya koran, majalah, komik dan juga menggunakan ponsel.
Nah, apakah hal yang sama atau relatif sama ada di masyarakat Indonesia ? Kalau pun 3G akan segera diterapkan, tantangannya jelas tidak kecil, mengingat masalah utamanya tidak hanya terkait dengan ketersediaan jaringan dan layanan 3G, melainkan juga ketersediaan perangkat ponsel 3G-nya sendiri dan konten-konten yang menarik. Karena tersedianya layanan 3G, tidak pada saat yang sama, akan memastikan bahwa layanan tersebut akan diminati dan digunakan oleh para pengguna ponsel 3G.
Jangan-jangan, jika tidak disadari dan dilakukan upaya-upaya yang dapat mendorong hal itu, layanan 3G hanya akan menjadi pajangan yang bersifat “nice to have”, bukan “nice to use” dan memberikan manfaat optimal.
Lain halnya, kalau para operator lebih memilih untuk memiliki “gengsi” karena telah mampu menyediakan layanan 3G, meski nilai ekonomisnya belum memadai. Atau, karena takut ketinggalan gerbong dengan tren 3G dunia, meski pun mungkin saatnya belum tepat? Atau, mereka punya perhitungan yang berbeda, karena mereka yang kini memiliki pelanggan, yang lebih tahu apa yang dibutuhkan para pelanggan mereka? Mari kita lihat sama-sama!
|